kumparan
17 November 2019 7:58

Kala Muslim Berselawat di Wihara Dharma Mitra Arama, Malang

IMG-20191117-WA0020.jpg
Momen ketika para pemuda yang mayoritas umat Islam bershalawat di Wihara Dharma Mitra Arama, Sabtu malam (16/11). Foto: ali dan ghufron.
TUGUMALANG.ID-Selawat kepada Nabi Muhammad SAW mengalun di Wihara Dharma Mitra Arama, Jalan Soekarno Hatta, Kota Malang, Sabtu malam (16/11). Para muda-mudi yang mayoritas muslim, membaca selawat (pujian pada nabi) di rumah ibadah agama Buddha tersebut.
ADVERTISEMENT
Acara kian khidmat, saat momen mahalul qiyam (membaca selawat dengan berdiri) dilaksanakan. Beberapa orang, terlihat menengadahkan tangan, sambil memejamkan mata. Setelah itu, ada juga selawat yang diiringi dengan Tarian Sufi.
Acara membaca selawat di tempat tak biasa ini adalah cerminan pluralisme yang ingin ditunjukan oleh Komunitas Gubuk Tulis, sebuah komunitas yang konsen pada kegiatan literasi.
20191116_193512.jpg
Wihara Mitra Arama tampak depan. Foto: irham thoriq/tugumalang.id
Adapun acara membaca selawat tersebut adalah bagian dari acara bedah buku berjudul Muhammadku, Sayangku karya penulis asal Jogjakarta Edi Ah Iyubenu. Sedangkan acara bedah buku ini, bagian dari Sekolah Literasi III yang digelar oleh Gubuk Tulis selama tiga hari di tempat ini. Mulai Jumat (15/11), hingga Minggu (17/11).
Ketua Pelaksana Kegiatan, Moh Yajid Fauzi, mengatakan pihaknya menjalin kerjasama dengan pihak wihara. Alasannya, selain mempunyai hubungan yang baik dari dulu, juga ingin mengajak masyarakat agar menjalin tali persaudaraan dan toleransi antar umat beragama.
ADVERTISEMENT
"Kami ingin mempererat rasa toleransi yang baik antarumat beragama, apalagi ini momentum hari kelahiran Nabi serta hari toleransi sedunia," katanya.
Dengan adanya acara ini, para peserta diharapkan mampu meneladani Nabi Muhammad SAW yang dinobatkan sebagai manusia paling berpengaruh di muka bumi.
20191116_193729.jpg
Momen pembacaan shalawat di Wihara Mitra Arama, Sabtu Malam (16/11). Foto: irham thoriq/tugumalangid
"Dari bedah buku ini, kita bisa ambil pelajaran bagaimana hidup yang damai tanpa harus mencela dan menghina agama orang lain, apalagi acaranya di wihara maka kita harus bertoleransi yang baik agar tercipta kehidupan yang rukun antar umat beragama, dan tanpa memusuhi," tandasnya Fauzi.
Sementara itu, penulis buku Edi Ah Iyubenu yang hadir dalam acara tersebut mengatakan, buku ini ditulis sebagai rasa cinta kepada Nabi Muhammad.
"Saya cukup lama menulis buku ini, berbulan-bulan dan sengaja saya terbitkan di hari kelahiran Nabi Muhammad SAW," katanya.
ADVERTISEMENT
IMG-20191117-WA0003.jpg
Suasana bedah buku di Wihara Mitra Arama. Foto dok gubuk tulis.
Dirinya sengaja menulis kisah Nabi Muhammad dengan cara santai, dan dengan bahasa yang mudah dipahami. "Saya sebenarnya ingin menulis buku yang lengkap tentang Nabi, tapi setelah saya baca karya yang sudah ada, wah saya tidak mampu melebihi, ya jadilah buku santai ini, dan ditulis dengan gaya saya," katanya.
Sedangkan Guru Besar Universitas Negeri Malang (UM), Prof Djoko Saryono, yang menjadi salah satu narasumber mengatakan, buku ini benar-benar bergaya ala Edi Ah Iyubenu.
IMG-20191113-WA0005.jpg
ads.
"Andai tidak dikasih nama penulidss, saya akan bisa menebak ini karya Edi, ya karena seperti inilah gaya Edi," katanya.
"Buku ini juga ingin memotret bagaimana Nabi Muhammad memandang manusia dan kemanusiaan yang penuh cinta," pungkasnya.
ADVERTISEMENT
Sementara itu, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Negeri Malang (UM), Muhammad Mahpur, sebagai narasumber lain menambahkan buku ini harus dibaca milenial, agar paham tentang Islam yang penuh kasih sayang.
"Apalagi radikalisme saat ini sedang menyasar anak muda karena salah pilih guru dan pengaruh teman, buku ini sangat baik dibaca," pungkasnya.
Reporter: Ali dan Ghufron
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan