Konten Media Partner

Kentang Ngadas, 'Mutiara' dari Malang Bagian Timur

Tugu Malangverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Salah seorang petani di Desa Ngadas, Poncokusumo, Kabupaten Malang sedang menata kentang mereka yang baru selesai dipanen.(foto: Rino Hayyu S/Tugu Malang).
zoom-in-whitePerbesar
Salah seorang petani di Desa Ngadas, Poncokusumo, Kabupaten Malang sedang menata kentang mereka yang baru selesai dipanen.(foto: Rino Hayyu S/Tugu Malang).

 

TUGUMALANG- Udara dingin dan sejuk di Kawasan Bromo Tengger Semeru (BTS) menyimpan berbagai pesona. Tak hanya pemandangan molek, namun hasil pertanian di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang yang menjadi komoditi andalan. Yakni kentang khas Ngadas tersebut merupakan mutiara terpendam di Malang bagian timur.

‘Mutiara-mutiara’ yang ditanam itu kini mulai masuk mas panen raya. Dalam masa lima bulan tanam, para petani kini mulai bisa merasakan hasilnya. Tiap musim panen seperti ini, Desa Ngadas bisa memproduksi kentang sebanyak 5 ribu ton.

Hal tersebut dibenarkan Kepala Desa Ngadas Mujianto. Musim panen raya yang mulai masuk awal April ini telah ditunggu-tunggu warganya. “Kalau waktu seperti sekarang ini, perhektare bisa 20 ton,” terang Mujianto kepada Tugumalang.id yang beberapa hari lalu berkunjung ke Ngadas.

Salah seorang petani di Desa Ngadas, Poncokusumo, Kabupaten Malang sedang merawat tanaman kentang mereka.(Rino Hayyu S/Tugu Malang).

Menurutnya, luas pertanian kentang di Ngadas mencapai 250 hektare. Sehingga, dalam sekali masa panen para petani bisa mencapai 5 ribu ton tersebut. Mujianto menyebut pertanian kentang di Ngadas sudah ada sejak nenek moyangnya hidup.

Kentang yang dihasilkan Ngadas, lanjutnya, memiliki ukuran yang lebih besar dari kentang pasaran. Satu buah kentang asli Ngadas beratnya nyaris mencapai 1 kilogram. Sedangkan, pada umumnya kentang hanya mencapai 200-500 gram.

Meskipun tidak semuanya berukuran besar, akan tetapi bibit kentang di Ngadas seragam. Artinya, hampir semua warga Ngadas selalu mendapatkan hasil kentang yang maksimal dengan berat rata-rata 1 kilogram.”Ya itu kan sudah wajarnya di sini begitu, bentuknya memang berbeda dari pasar,” imbuh Mujianto. Setiap kilogramnya, kentang itu dibeli tengkulak dengan harga Rp 5 ribu.

Salah seorang petani kentang yang berukuran besar.(foto: Rino Hayyu S/Tugu Malang).

Disisi lain, ada kendala dirasakan ketika memasuki musim hujan. Yakni ancaman badai dan hujan deras. Hal ini berakibat datangnya serangan jamur pada batang kentang.”Yang paling mengkhawatirkan jika badai. Petani nggak bisa ke sawah buat menyemprot kentang kalau pas badai,” pungkas Mujianto.

Reporter : Rino Hayyu S

Editor: Irham Thoriq