Kisah Anak Tukang Parkir yang Berhasil Masuk Universitas Brawijaya

TUGUMALANG.ID - Cerita Risky Dwi Cahyani (19) menggapai mimpinya dimulai tahun ini. Ya, anak seorang tukang parkir dari Gunungkidul, Yogyakarta, ini baru saja diterima melalui jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) di Universitas Brawijaya (UB) yang diumumkan beberapa waktu lalu.
Dia diterima di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UB. Risky dinyatakan lulus, setelah dua kali mengikuti tes dan bersaing dengan ribuan pendaftar di Indonesia.
"Saya sudah bercita-cita mau kuliah ambil jurusan pemanfaatan sumber daya perikanan, kemarin daftar di dua universitas, pilihan pertama di Universitas Gadjah Mada dan yang kedua di Universitas Brawijaya, tapi yang diterima yang pilihan kedua," ucap Risky Dwi Cahyani, saat ditemui di kampus UB, Senin (5/8).
Masuk di jurusan ini, rupanya dia termotivasi dengan kesuksesan Menteri Perikanan, Susi Pudjiastuti. Selain itu, dia juga hobi berenang, sehingga dirasa cocok mengambil jurusan ini. "Saya mengagumi Bu Susi, karena meski dia perempuan, tapi kinerjanya hebat, dan di laut juga," imbuhnya.
Dalam proses mendaftar masuk kampus negeri, sebenarnya dia sudah mempersiapkan diri seandainya dia tidak diterima.
"Misalnya nanti enggak keterima, ya berhenti dulu satu tahun terus lanjut kuliah. Pas pengumuman itu jam tiga sore pas di rumah enggak ada orang, saya takut untuk membuka pengumuman takut kalau tidak keterima, tapi pas saya buka saya memalingkan muka terus kelihatan tulisan selamat gitu pas," katanya bercerita.
"Setelah itu, saya langsung senang, bahagia, dan nangis, ibu saya datang terus dipeluk," imbuhnya.
Risky merupakan anak dari pasangan Pandiyo dan Siti Maemunah. Pandiyo bekerja sebagai tukang parkir musiman, yakni hanya bekerja parkir saat ada acara. Sedangkan sang ibu adalah ibu rumah tangga. Dengan kerja bapaknya yang tidak menentu tersebut, tentu saja pemasukannya tidak menentu.
Aji Awalani, kakak dari Risky, menambahkan, pekerjaan ayahnya memang tidak menentu karena dia bekerja saat ada waktu pasaran (penanggalan jawa) di pasar desa dan kecamatan.
"Seperti pasaran pahing, pasaran pon, pasaran wage. Kalau dikalkulasi ayah saya itu kerja dalam sebulan bekerja 18 hari sebagai tukang parkir," kata Aji Awalani.
Dikenal Sebagai Siswa yang Berprestasi
Selama ini, Riski dikenal siswa yang rajin dan tekun dalam belajar. Sejak Sekolah Dasar (SD), dia menyabet juara di kelasnya. Tahun lalu, dia memenangkan juara satu karya tulis kependudukan oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan juara 5 tingkat nasional karya tulis kependudukan BKKBN mewakili DIY.
Saat ini, Risky telah mempersiapkan untuk mengikuti program bidik misi. "Semua persyaratan sudah lengkap, dengan adanya program bidik misi sangat membantu saya dalam menyelesaikan kuliah, semoga pihak kampus menerima pengajuan bidik misi saya," ucap Risky yang merupakan anak kedua dari tiga bersaudara ini.
Selama satu tahun ke depan, ia tinggal di asrama putri Universitas Brawijaya. Sementara itu, Pandiyo saat diwawancara, ingin anaknya belajar dengan tekun dan tidak main-main.
"Saya sangat bersyukur anak saya bisa kuliah dan diterima di UB, ya awalnya sedih harus berpisah dengan anak yang selama ini tidak pernah jauh, tapi demi masa depan saya rida," ucapnya.
Pandiyo berharap, sang anak bisa sukses dan bisa mengubah nasib keluarganya. "Ini tantangan bagi saya juga, karena tidak semua orang mendukung, ada yang mencibir anak saya sekolah sampai tinggi, tapi saya bangga, semoga usaha keras anak saya bisa ditiru di lingkungan saya," pungkasnya.
Reporter : Rezza Doa Lathanza
Editor : Irham Thoriq
