Pencarian populer

Kisah Mike Ragnar: Pekerjakan Disabilitas dan Mantan Napi di Kedainya

Restoran burger buto milik Mike Ragnar laiknya rumah makan biasa. Namun, para pekerja di restoran itu ternyata adalah para mantan narapidana dan juga orang berkebutuhan khusus atau disabilitas.

Potret pemilik Kedai 27, Mike Ragnar (perempuan berhijab putih), bersama dengan pekerjanya yang disabilitas.

Dari balik bilik di belakang meja kasir, terdengar suara peralatan dapur berdencingan, diikuti suara irisan pisau berirama, saling berpadu membentuk nada-nada.

Senyum ramah pelayan dan puluhan orang yang tampak menyantap sajian di hadapan mereka menjadi bagian dari hiruk pikuk rutinitas setiap hari, setiap jam, di Restoran Burger Buto yang terletak di Jalan Sarangan, Kota Malang.

Semuanya terlihat wajar dan normal. Namun, ternyata para pegawai di restoran itu sebagian besarnya adalah penyandang disabilitas, mulai tunagrahita, tunarungu, hingga tunawicara.

Para mantan narapidana juga, termasuk mantan pecandu narkoba, juga bekerja di sana. Itulah gambaran dari restoran yang didirikan oleh Mike Ragnar pada tahun 2002 tersebut.

”Kalau saat ini ada sekitar 15-an anak-anak dari disabilitas dari total 40-an pegawai yang saya miliki,” ucap perempuan yang akrab disapa Mike tersebut. Dengan demikian, hampir separuh karyawannya adalah disabilitas.

Mike bercerita bahwa jumlah tersebut sebenarnya tidak pasti, dan bisa saja berkurang. ”Karena kan kadang-kadang anaknya tidak masuk, bisa sampai dua minggu atau satu bulan,” katanya.

Suasana di dapur restoran milik Mike Ragnar.

Anak muda yang dipekerjakan Mike Ragnar datang dari berbagai latar belakang. Tidak ada aturan yang mengekang para pekerjanya tersebut.

”Jadi di sini bebas, kita kan harus paham anak berkebutuhan khusus, jadi sesuka mereka saja,” terangnya.

Meski begitu, dirinya mengaku tetap percaya bahwa mereka bakal kembali ketika sudah bosan di rumah.”Sebab di sini itu dasarnya adalah rasa kekeluargaan dan kasih sayang,” sambungnya.

Bagi karyawan yang disabilitas, sekilas tidak terlihat jika mereka adalah penyandang disabilitas. ”Memang tidak kelihatan, sebab kami sudah men-training mereka selama tiga bulan,” ujarnya.

Namun ‘training’ yang ia maksudkan sangat berbeda. Sebab, para pegawainya tersebut bebas bekerja sesukanya. “Jadi terserah mereka, bahkan dalam masa tiga bulan training ada yang hanya menyapu garasi saja selama satu bulan,” terang istri dari Ray Ragnar tersebut.

Mike menyatakan, bahwa setelah pelatihan itu, mereka yang sebelumya tidak terbuka dan tidak mau bicara ternyata akhirnya mau berbicara. ”Saya pernah melatih anak down syndrome selama tiga bulan juga, dan ternyata akhirnya dia bisa,” tutur alumnus SMKN 3 Malang tersebut.

Tak hanya itu, dirinya juga mengungkapkan bahwa sebenarnya rekan-rekan disabilitas juga mampu bekerja dengan baik dan tidak kalah dengan orang normal jika diberikan kepercayaan.

”Ternyata kalau mereka diberikan tanggung jawab dan kepercayaan. Mereka ini mampu. Bahkan bonus terbesar bulan lalu itu didapat oleh anak disabilitas,” tutur perempuan 9 Mei 1981 itu.

Latar Belakang Mempekerjakan Para Disabilitas

Mike Ragnar (kanan) bersama salah seorang karyawannya yang disabilitas. (foto-foto: Gigih Mazda/Tugu Malang).

Namun, jauh sebelum ia mempekerjakan para anak berkebutuhan khusus dan para narapidana tersebut, ternyata rumah makan miliknya yang bernama Kedai 27 begitu sepi.

”Jadi selama 7 tahun itu toko saya sepi,” terangnya. Ia menjelaskan bahwa sejak berdiri tahun 2002 hingga 2009, tempatnya terkadang rugi, lantaran uangnya habis untuk menggaji karyawan dan membayar listrik.

Selain itu, Mike Ragnar pernah mengalami musibah pada tahun 2005 silam. Tanpa sengaja, ia memotong tiga jari tangan kirinya saat memotong ayam. Akibatnya, kini jari-jari Mike tidak bisa lagi menggenggam dengan sempurna, meski sudah tersambung.

”Jadi dulu toko kami sepi, dan saya berjanji kalau ramai akan membahagiakan orang banyak. Namun belum ramai, tangan saya malah terpotong."

-Mike Ragnar

Suasana di kedai 27, Kota Malang yang mempekerjakan disabilitas.

Sejak saat itu, ia mengaku kesulitan bahkan untuk mengambil suatu benda yang sederhana. ”Saat itu saya bertanya. Bagaimana dengan orang yang cacat sejak lahir?” ujarnya. Dan saat itulah, ia mulai menerima pegawai dari rekan-rekan disabilitas.

Mike juga bercerita bahwa awalnya begitu susah untuk melatih mereka. Dengan latar belakang keilmuan di bidang hukum, lulusan Universitas Widyagama Malang ini mengaku bahwa ilmu untuk berinteraksi dengan anak berkebutuhan khusus sama sekali tidak ada.

”Saya bukan orang psikologi. Jadi awalnya ya sulit, terkadang mereka hanya masuk beberapa hari, terut tidak mau ngapai-ngapain,” terangnya.

Meski begitu, raut muka Mike tampak bahagia ketika menceritakan ‘anak-anaknya' tersebut. Namun, sekarang dia bisa dibilang sukses dengan mempekerjakan anak-anak disabilitas.

Tidak hanya disabilitas, Mike juga mempekerjakan mantan pecandu narkoba. ”Jadi semua di sini tidak hanya ada para disabilitas. Mantan narapidana yang dulu pecandu narkoba itu sekarang juga di sini,” kata Mike.

Bahkan, ia bercerita bahwa pegawainya tersebut pernah membikin keributan karena mabuk-mabukan di tempat umum, yang membuatnya harus berurusan dengan pihak kepolisian.

“Tapi saya percaya bahwa mereka itu bisa berubah, dan terbukti sekarang mereka sudah menjadi orang baik-baik,” tandas perempuan kelahiran Malang tersebut.

---

Reporter: Gigih Mazda

Editor: Irham Thoriq

Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.63