Kisah Pengungsi Erupsi Semeru: Lari dari Kejaran Lahar Sambil Menggendong Anak
ยทwaktu baca 2 menit

LUMAJANG - Kisah pengungsi terdampak erupsi Semeru yang satu ini cukup mengesankan. Untuk menyelamatkan diri dari kejaran lahar, warga dusun Sumbersari, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, bernama Rosa, 26, berlari sambil menggendong anaknya, tanpa membawa barang apa pun.
"Saya lari gak bawa apa apa, cuma pakaian yang saya pakai sambil gendong anak saya yang nangis. Lalu ada mobil saya langsung naik aja. Gak tau mobil siapa yang saya tumpangi, pokoknya bisa menghindar dari abu yang terus mengejar," ucap Rosa, di tempat pengungsian di SD Supiturang 4, Senin (6/12/2021).
Rosa menceritakan, bahwa dirinya tak menyangka lahar dingin Gunung Semeru memasuki permukimannya. Padahal menurutnya tak ada tanda apa pun sebelum Gunung Semeru erupsi.
"Saya lihat rumah saya pas lari itu lahar dingin mengalir deras masuk rumah. Informasinya sekarang rumah saya tinggal kelihatan atapnya saja," ujarnya.
Rosa yang merupakan warga asal Wonosobo, Jawa Tengah, mengaku trauma atas erupsi Gunung Semeru kali ini. Dia berencana akan pulang kampung ke Wonosobo bersama suaminya yang merupakan warga Dusun Sumbersari, Kampung Umbulan, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo itu.
"Saya selama tinggal di sini sudah 2 kali mendapati Gunung Semeru erupsi. Setahun lalu juga ada lava, tapi gak sampai ke bawah masuk ke perkampungan. Kemarin itu selain abu sampai turun sama lahar dingin. Kami mikirnya kalau terbawa sama air kan langsung turun aja lewat sungai," paparnya.
"Jadi, saya berpikir itu masih aman. Tapi selang beberapa menit tiba tiba ada letusan, keluar asap tebal. Semua suruh lari. Saya lihat asap tebal mengepul hingga membuat suasana desa gelap gulita," imbuhnya.
Dia juga mengaku cemas saat suaminya hilang kontak selama dalam pelarian dari lahar dingin. Namun beruntung mereka bisa bertemu di posko pengungsian setelah sekitar 4 jam berpisah.
Kini dia harus menunggu semua kondisi kembali stabil di Posko Pengungsian SD 4 Supit Urang, Pronojiwo, Lumajang. Dia juga mengaku kesulitan tidur di posko pengungsian lantaran anaknya terus menangis sepanjang malam.
"Malam pertama di pengungsian sini itu anakku nangis terus. Tak kasih tau kalau kita sudah gak punya rumah lagi, jadi tidur sama ibu ibu. Tapi dia justru tambah nangis kencang," katanya.
"Dia takut ada suara diesel, di sini kan listrik mati, jadi pakai diesel. Mau bagaimana lagi, kami ngeluh ya semua warga di sini mengalami hal yang sama. Saya kasihan juga sama warga lain yang terganggu tangisan anak saya," imbuhnya.
