Kisah Perjuangan Prof Lily Montarcih Meraih Gelar Guru Besar Ilmu Hidrologi

Konten Media Partner
26 September 2021 18:21
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Kisah Perjuangan Prof Lily Montarcih Meraih Gelar Guru Besar Ilmu Hidrologi (6763)
zoom-in-whitePerbesar
Guru Besar Ilmu Hidrologi Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Prof Dr Ir Lily Montarcih Limantara MSc. Foto: dok
ADVERTISEMENT
MALANG – Prof Dr Ir Lily Montarcih Limantara MSc merupakan satu dari sejumlah guru besar yang ada di Universitas Brawijaya (UB). Guru Besar Ilmu Hidrologi Fakultas Teknik Universitas Brawijaya ini, berhasil meraih gelar tertingginya pada 1 Oktober 2016 lalu.
ADVERTISEMENT
Perempuan kelahiran 17 September 1962 ini mengatakan bahwa guru besar merupakan jabatan akademik tertinggi yang wajib dikejar oleh seorang dosen. Karenanya, berbekal niat dan dorongan orang di sekitarnya, Prof Lily membulatkan tekad untuk meraih gelar tersebut.
Diakui ibu dua anak ini, proses menjadi guru besar tidaklah mudah. Banyak batu sandungan yang dirasakan. “Sebelum pengajuan guru besar, saya Lektor Kepala/4a sejak 2001, kemudian proses pengajuan guru besar sejak 2008,” ujar warga asli Malang itu, mengawali cerita.
Saat itu, pendidikan maupun cara pengajaran Prof Lily sudah dinilai baik. Penelitian serta jurnal juga sudah banyak dibuatnya. Bahkan, dua jurnal internasionalnya sudah terindex Scopus dengan nama pertama.
“Saat itu ya 2008 masih jarang dosen yang mengenal jurnal internasional apalagi terindexed Scopus, ditambah dengan jurnal-jurnal lain kurang lebih ada 40 jurnal internasional sebagai penulis pertama dan kedua, pengabdian tiap tahun ada, namun tetap tidak mulus seperti dibayangkan, ada puluhan kali dikembalikan dari universitas,” imbuhnya.
ADVERTISEMENT
Tak sampai di situ, saat semua berkas telah dikirim ke Ditjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Kemendikbud, ada beberapa dokumen penelitian yang tidak sampai. Sehingga, harus mengumpulkan dan meng-copy lagi untuk mengulang proses pemberkasan.
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Hingga kemudian di tahun 2016, Prof Lily dinyatakan harus menambah jurnal nasional terakreditasi. Saat itu, tinggal dua jurnal nasional terakreditasi yang ada di Indonesia, diapun masukkan paper ke ITB dengan harapan dapat segera dikelola menjadi jurnal. Sampai pada akhirnya jurnal nasional tersebut berhasil terbit pada bulan Agustus 2016.
"Kemudian gelar guru besar saya turun 1 Oktober 2016," kenangnya.
“Kalau deadline aturan lama tersebut, ditunggu sampai dengan 1 Januari 2017, jika tidak bisa menerbitkan jurnal nasional terkreditasi maka proses guru besar harus diulang mengacu pada aturan baru. Bersyukur, semua sudah terlampaui walaupun banyak sekali batu sandungan, namun saya tetap sabar menyiapkan apa-apa yang diminta walaupun seringkali tidak rasional. Bagi saya, jalani saja dengan sabar, amal, dan ikhlas,” pesannya.
ADVERTISEMENT
Kini, Prof Lily menjadi satu dari empat guru besar di Program Studi Teknik Pengairan Universitas Brawijaya. Diakuinya, ini merupakan amanah yang dapat dikatakan berat.
“Guru besar di Teknik Pengairan relatif sedikit dengan saya, yang satu sudah usia pensiun dan yang satu menjabat sebagai rektor, jadi saat dibutuhkan harus ada unsur guru besar yang lumayan berat, tanggung jawab moral yang berat karena orang atau publik ingin mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh guru besar terkait bidangnya,” ungkap perempuan yang juga alumnus Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang, lulus tahun 1985 itu.
Dia berharap semakin banyak dosen yang meraih gelar guru besar. Mengingat, saat ini menjadi guru besar merupakan suatu kebutuhan. Utamanya bagi kampus yang memiliki Program Studi S3 serta adanya aturan Ban-PT yang mewajibkan 50 persen dosennya harus guru besar.
ADVERTISEMENT
“Untuk menuju ke situ, kita harus semangat meneliti dan menulis terutama jurnal dan buku. Semakin banyak tulisan berkualitas yang dibuat dalam bentuk jurnal maupun buku akan semakin cepat meraih guru besar,” tutup Prof Lily.(ads)
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020