Layani Pasien, Dokter Gigi di Malang Kenakan Hazmat Ranger Pink

MALANG - Seorang dokter gigi di Kota Malang mendadak viral di media sosial. Dokter gigi bernama Drg Nina Agustin ini banyak dibicarakan lantaran mengenakan baju hazmat atau Alat Pelindung Diri (APD) dengan desain unik dan fashionable saat melayani pasien.
Saat tugumalang.id menyambangi klinik Nina Esthetic Dental Clinik (NDC) di Perum Araya, Kota Malang, wanita kelahiran Agustus 1985 ini tampak anggun dan modis saat melayani pasien dengan balutan hazmat bertema Ranger Pink, salah satu tokoh komik hero Power Rangers.
Total ada sekitar 25 koleksi hazmat unik dimilikinya, mulai dari gambar tokoh karakter komik, Power Rangers, aktris Marlin Monroe dan masih banyak desain gambar lainnya yang memanjakan mata.
Nina mengatakan, ide awal menggunakan baju hazmat nyeleneh ini lantaran merasa tidak nyaman dengan memakai baju hazmat yang beredar di pasaran. Ukurannya yang oversized atau terlalu besar kerap menyenggol peralatan medis yang dia gunakan.
Dia mengatakan, para pengunjung juga banyak yang merasa takut untuk memeriksakan diri karena citra baju hazmat yang terkesan menakutkan.
"Mereka banyak yang takut, terutama anak-anak karena melihat sosok gede putih besar (hazmat),'' ungkap Nina, pada Sabtu (25/7/2020).
Sejak itulah, sebulan sejak pandemi merebak, dia dibantu dengan desainernya, Ivan Brekele, membuat hazmat unik ini.
Terbukti, sejak dia memakai hazmat ini, satu persatu pengunjung mulai kembali berani untuk datang. ''Dengan hazmat ini, ada atmosfir positif baru yang terpancar. Tidak setakut seperti sebelumnya,'' ujarnya.
Meski lain daripada yang lain, baju hazmat milik Nina ini tetap mematuhi standar medis dari World Health Organization (WHO).
Tak hanya menggunakan hazmat saat praktik, Nina juga menggunakan peralatan APD level 3 lengkap mulai dari kepala hingga kaki. Sebut saja sepatu boat, kacamata google, masker, face shield dan sarung tangan ganda.
''Saya juga masih pakai apron sesuai standar,'' tambahnya.
Dikatakan desainer hazmat, Ivan Brekele, hazmat ini dibuat dari bahan kain taslan, serupa dengan kain hazmat resmi yang bersifat water resistant.
Bedanya, hazmat ini tidak sekali pakai seperti bahan aslinya yakni kain polypropilene spunbound. Kain taslan hampir serupa namun bisa dicuci ulang. Perbedaannya juga terletak pada motif kain yang menggunakan teknik digital printing.
''Desainnya sesuai selera. Itu saja bedanya. Meski nyentrik, tapi kualitas dan keamanannya sesuai standar medis WHO,'' katanya.
Wanita kelahiran Kediri ini menambahkan, motif dirinya mendesain hazmat dengan corak warna-warni ini lantaran ingin menebarkan semangat dan harapan kepada masyarakat untuk melalui badai pandemi ini dengan selamat.
''Dengan warna-warni inikan kayak melihat pelangi. Melihat harapan bahwa di penghujung badai pasti ada pelangi. Itu filosofi yang mendasari ide saya ini,'' paparnya.
Terpisah, salah seorang pasien NDC, Diah Permata, mengaku sebelumnya merasa takut periksa gigi sejak pandemi muncul. Tapi ternyata dia baru tahu kalau periksa gigi masih aman sepanjang menerapkan protokol kesehatan secara ketat.
Diah semakin merasa aman dan nyaman saat mengetahui dokter Nina langganannya mengenakan hazmat unik dan berwarna-warni, tidak serupa astronot.
''Saya malah tambah nyaman, tidak takut lagi. Kalau sebelumnya ya ngerasa takut aja kalau udah ngeliat dokter pakai hazmat besar putih gede begitu. Bawaannya jadi takut,'' ungkapnya.
