Konten Media Partner

Malang Kekurangan Ventilator Oksigen, Pemkab Lebih Fokus pada Pencegahan

Tugu Malangverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi ventilator oksigen. Foto: Kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ventilator oksigen. Foto: Kumparan

MALANG - Masih merangkak naiknya jumlah pasien positif COVID-19 di Kabupaten Malang, menunjukkan belum menurunnya penyebaran COVID-19 di Kabupaten Malang.

Berdasarkan laporan Dinas Kominfo Kabupaten Malang, per 18 September 2020, tercatat 866 pasien dinyatakan positif COVID-19. Dengan rincian 754 pasien sembuh dan 55 lainnya meninggal dunia.

Sementara pasien suspek COVID-19 sejumlah 1.412 pasien. Dengan rincian 338 pasien dirawat di rumah sakit, 152 pasien isolasi mandiri, 4 pasien di gedung observasi, dan 918 sembuh.

Melihat masih banyaknya pasien COVID-19 tersebut, muncul isu jika rumah-rumah sakit rujukan COVID-19 di Kabupaten Malang mulai penuh dan kewalahan.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Malang, Arbani Mukti Wibowo, mengatakan jika yang penuh bukan ruangannya. Melainkan alat bantu nafas atau biasa disebut ventilator oksigen.

"Sekarang yang jadi masalah adalah ventilator, karena banyak orang butuh ventilator itu kesulitan. Untuk saat ini yang punya ventilator hanya RSUD Kanjuruhan dan Wava Husada," terang Arbani, pada Sabtu (19/9/2020).

"Kota sementara hanya punya 4 ventilator, yaitu 2 di RSUD Kanjuruhan dan 2 di Wava Husada," sambungnya.

Padahal, setiap rumah sakit rujukan harusnya minimal memiliki 1 ventilator.

"Makanya kemarin saya memberanikan diri agar RS di Lawang meminjamkan ventilator ke RSUD Kanjuruhan. Tujuannya agar bisa menambah kapasitas pasien di RSUD Kanjuruhan," imbuhnya.

Artinya, 3 RS rujukan lainnya seperti RS Prima Husada, RSI Gondanglegi, dan RS Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), masih belum memiliki ventilator oksigen.

Arbani mengakui, pihaknya memiliki keterbatasan untuk pengadaan ventilator oksigen. "Kita ada keterbatasan di situ, kalau kita beli ventilator dan dititipkan ke RS swasta nanti kita kena aturan," jelasnya.

Dan harga satu ventilator oksigen sendiri ternyata tidaklah murah. "Harga ventilator itu tergantung ya, tapi yang kita punya sekitar Rp 700-800 juta," sebut pria yang mengawali karir sebagai dokter gigi ini.

Ditambah, ternyata Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang tidak fokus kepada permasalahan tersebut. "Kita sudah minta bantuan ke Pemkab, tapi kita fokusnya bukan di sana. Kita fokusnya ke pencegahan/preventif dan bukan kuratifnya," paparnya.

Arbani menjelaskan, fungsi ventilator oksigen ini sangat vital bagi pasien COVID-19. "Ventilator ini fungsinya untuk pasien COVID-19 yang sesak nafas tidak hanya butuh bantuan oksigen, untuk penyerapan oksigen oleh pasien itu dibantu ventilator," jelasnya.

"Jadi, bukan hanya kebutuhan oksigen yang biasa, tapi kebutuhan oksigen yang dibantu didorong dengan ventilator," pungkasnya.

embed from external kumparan