Konten Media Partner

Melihat Aktivitas Belajar Anak Lereng Kelud dan Kota Kediri

Tugu Malangverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Citra Utut Praditya saat melakukan kunjungan ke rumah muridnya.
zoom-in-whitePerbesar
Citra Utut Praditya saat melakukan kunjungan ke rumah muridnya.

Pandemi COVID-19 membuat semua pola kehidupan terganggu. Hampir semua bidang harus membuat kebiasaan baru untuk bertahan dalam menghadapi pandemi. Termasuk sektor pendidikan harus mencari formula untuk melayani program belajar masyarakat. Semua jenjang pendidikan mulai usia dini hingga perguruan tinggi sementara menggunakan sistem daring (online). Namun, bagaimana perbandingan pendidikan anak antara di lereng Gunung Kelud Kabupaten Kediri dengan Kota Kediri?

Dengan segala keterbatasan proses pembelajaran yang disebabkan pandemi COVID-19, membuat Citra Utut Praditya, seorang Kepala Satuan Pendidikan Sejenis (SPS) Tapos Cendrawasih harus mengambil langkah terobosan untuk jemput bola. Yakni berkunjung ke rumah-rumah muridnya di Dusun Petung Ombo, Desa Sepawon, Kecamatan Plosoklaten. Dusun tempat tinggal Citra merupakan dusun terakhir diperbatasan Gunung Kelud yang biasa digunakan sebagai pos pantau aktivitas gunung berapi tersebut.

Menjalani kesehariannya menjadi seorang guru PAUD, kondisi pandemi ini harus mengubah kebiasaannya mengajar di kelas untuk berkunjung ke rumah murid. Meskipun tidak setiap hari, Citra mengatur waktu bersama jajaran guru untuk membuat kunjungan tersebut. Citra tidak hanya bertemu dengan Mozza, tapi juga dengan ibunya. “Agar tidak ketinggalan materinya, jadi saya kunjungan ke rumah-rumah,” terang Citra saat ditemui tugumalang.id partner resmi kumparan.com.

Sedikit rasa malu, Mozza diajak menggambar bentuk pada buku gambar yang baru saja diberikan Citra. Sistem pembelajaran daring pun juga digunakan Citra untuk mengganti pertemuan langsung di sekolah. Tak hanya itu, grup aplikasi Whatsapp dimaksimalkan untuk saling mengenalkan muridnya. Namun, ada kendala ketika menggunakan gawai untuk proses daring. Seperti terlambat mengirim tugas.

Nazzalna Qisya Kurniawan saat belajar mengaji dengan sistem daring di rumah.

Berbeda dengan di Kota Kediri, Nazzalna Qisya Kurniawan, murid kelas 1 SD Al-Huda ini lebih terbiasa menggunakan gawai untuk mengirimkan tugas sekolah. Setiap minggunya, ia mengirimkan tugas seperti hafalan surat pendek di Al-Quran dengan menggunakan aplikasi Whatsapp kepada gurunya. Namun, bocah 6 tahun ini harus ditemani Iin Habsari, ibunya untuk mengirimkan tugas. “Saya menemani kalau akan mengirimkan tugas seperti ini,” imbuh Iin. Meskipun tidak bisa dipungkiri anaknya sudah bisa sendiri mengoperasikan gawai, Iin tetap harus memberikan batasan untuk anaknya dalam menggunakan gawai.

Tak hanya itu, Iin juga menjadwalkan rutin untuk belajar sesuai tugas yang diberikan sekolah, tetapi bukan berarti untuk mengekang anak. Ia hanya ingin membiasakan anaknya untuk belajar menghargai dan membagi waktu. Ia khawatir jika anaknya akan ketergantungan dengan gawai, sehingga sebagai orangtua harus terus memberikan perhatian lebih untuk kondisi pandemi.

Dosen Psikologi Sosial IAIN Kediri Sunarno.

Antara Mengomunikasikan Materi atau Mendidik? Melihat kondisi ini, akademisi Psikologi Sosial IAIN Kediri, Sunarno juga merisaukan proses pembelajaran yang sedang berjalan. Bahkan, ia terang-terangan melihat kondisi ini dengan detail harus berefleksi tentang apa yang dilakukan pendidik atau pengajar kepada peserta didiknya. “Memang banyak tereduksi nilai pendidikan dan pengajaran, ini antara hanya mengomunikasi atau menyampaikan materi saja atau betul-betul mendidik,” ungkap Sunarno.

Menurutnya, dalam kondisi ideal semestinya pendidik memang tidak sekadar menyampaikan materi. Namun, lebih dari itu pendidik punya tanggung jawab untuk mengubah perilaku peserta lebih baik maupun terampil. Dosen yang sekaligus menjadi pengelola Sekolah Alam Ramadhani, juga harus menemukan pola baru dalam kondisi pandemi ini. Karena dalam suasana kedaruratan, lanjut Sunarno, memang harus disadari sistem pembelajaran daring menjadi salah satu solusi. Namun, esensi dari pendidikan sendiri harus dipikirkan, agar peserta didik mendapatkan sebuah nilai untuk bekal kehidupannya. “Esensinya itu yang penting dari sebuah pembelajaran,” imbuhnya.

Bahkan, Sunarno menilai kondisi sekarang ini sulit dibedakan antara persepsi belajar anak dengan liburan panjang. Karena, bagi Sunarno, salah satu tugas pendidik ialah memastikan bahwa anak belajar dan mendapatkan pelajaran dari materi yang diberikan. “Peran orangtua memang sangat diperlukan untuk melihat hasil belajar anak,” terangnya.