Melihat Kampung Cempluk di Malang, Ketika Energi Kampung Berdenyut

Perkembangan budaya dan perubahan sosial yang berlari di tengah masyarakat, tak membuat padam warga Desa Kalisongo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang dalam menunjukan eksistensinya. Salah satunya melalui Kampung Cempluk. Sebuah festival untuk meramaikan dan mengisi ruang publik berbasis lokalitas. Bagaimanakah kampung ini bisa terus eksis selama sembilan tahun?
Matahari mulai lelah, sabtu sore (28/9). Semakin menyingkir dari tengah lalu-lalang kendaraan. Senja merah dari arah barat meyakinkan masyarakat waktunya bergegas menyambut azan magrib. Setelahnya, suara muazin itu datang menyapa gelap, warga Desa Kalisongo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang-pun bergegas. Mereka menyiapkan satu persatu peralatan dapur, gerobak-gerobak makanan, meja-meja kecil diangkat kehalaman depan rumah. Angin malam berembus lirih, sedikit demi sedikit meja dipenuhi aneka makanan yang tersaji. Lampu-lampu kuning temaram dan beberapa tabung cempluk bersinarkan api menerangi para penjual makanan dan jajan Kampung Cempluk.
"Gulali-gulali monggo, sayang anak monggo,” ucap salah seorang penjual gulali disepanjang jalan desa itu. Tangannya sibuk mengambil adonan gulali dengan batang kecil. Adonan gula itu ditarik dari loyang sampai molor seperti karet. Tangan si penjualnya lalu menggulung dan memasukannya diwadah pres untuk dibentuk. Mereka terlihat lihai dalam membentuk beberapa hal seperti ayam, daun, lampu, dan sebagainya.
Sepanjang jalan desa itu, bisa didapati ratusan orang berjualan. Persis seperti pasar malam. Jajanan pasar pun ramai diminati ribuan pengunjung yang memadati jalan itu. Tahu petis, onde-onde, kue cucur, cenil, lopes, gatot hingga tiwul. Jajanan khas jawa yang sering ditemui di pasar tradisional. Mereka berjajar dan sibuk melayani satu persatu pembeli. Ya seperti itulah potret Festival Kampung Cempluk.
Festival ke sembilan ini, berakhir sabtu malam (28/9) lalu. Festival ini menjadikan warga kampung 'subject', sehingga denyut nadi kampung begitu terasa.
Penggagas kampung ini adalah Redy Eko Prasetyo. Redi tak pernah menyangka jika festival ini pun ditunggu-tunggu masyarakat. Bahkan, antusias pengunjungnya sampai berjubel dan ramai seperti ini.
"Keguyuban masyarakat serta kepercayaan diri para muda-mudi kampung yang meningkat sangat signifikan, itu memantik lebih energi kreatif dan produktif seluruh masyarakat,” kata Redy.
Dari inilah, kata Redy, Kampung Cempluk bisa berkembang sedemikian rupa dan bertahan sampai saat ini. Festival yang diselenggarakan sejak 2010 silam itu menyedot banyak perhatian. Pria yang sekarang menempuh Magister Komunikasi Universitas Brawijaya (UB) ini tidak menyangka jika dari acara semacam ini aspek perekonomian akan mengikuti dengan sendirinya. Padahal mulanya, Redy hanya menginginkan masyarakat menumbuhkan kesadaran ruang yang dimiliki. Redy menerangkan bahwa ruang serambi kampung itu yang dimaksudkannya. Yakni, sekecil apapun akan mempunyai nilai kebermanfaatan jika di manfaatkan dengan benar."Tidak pernah terbayang seperti ini mulanya. Karena konsep kami awal bahwa ruang kampung hanya sebagai tempat bersilahturahmi, berbagi ide dan gagasan. Kami berjalan tanpa ekspektasi,flat saja, yang terpenting istiqomah, fokus melakukan , serta konsisten dalam membawa ruang kampung ini menjadi ruang yang primer,” ungkap pria 40 tahun ini.
Jika kesadaran ruang terbangun, kata Redy, akan memunculkan banyak potensi. Seperti apa yang dinikmati warga sekarang. Yakni peluang pasar ekonomi dan pertunjukan budaya, sehingga disediakan panggung sebagai wadah ekspresi para seniman yang mau menampilkan sesuatu.
Apakah ada kegelisahan yang menyelimuti ketika menggagas Kampung Cempluk ini? Mendapatkan pertanyaan ini, Redy terdiam sejenak. Ia bertutur mulanya kegelisahannya saat itu bermula ketika ia bergerak didunia seni. Dari dunia ini, kadang beberapa teman seniman ketika menyampaikan karyanya hanya berada diruang tertentu. Misal gedung dan galeri saja. Redi ingin menjawabnya dengan cara lain."Pertunjukan selalu di gedung kesenian, pameran selalu di galeri, main musik di cafe atau kampus atau ruang yang memang masyarakat kampung ini hampir tidak pernah mengapresiasi pertunjukan seni-seni itu,” beberanya.
Ia melanjutkan, biasanya di kampung paling mentok ya jaranan, bantengan, dan campur sari. “Nah saya berfikir saat itu mbok ya sekali kali ada pertunjukan teater, aksi kreatif pembuatan film , sajian musik jazz, string section,” lanjut Redy. Menurutnya, dari kegiatan ini akan menyuplai apreasiasi seni masyarakat kampung.
Redy menjelaskan selama ini memang banyak pro dan kontra. Terutama pada penamaan atau brand Kampung Cempluk. “Ini sensitif sekali penamaannya dulu,” ungkap Redy. Ia menerangkan kata cempluk dulu dimasyarakat menjadi olok-olokan. Terutama masyarakat yang mempunyai latar belakang pendidikan tinggi. Cempluk dianggap sebagai nama yang tidak bergengsi sama sekali."Kalau cempluk itu kampungan intinya jangan pakai brand itu,” tutur Redy.
Akan tetapi, Redy berkeyakinan justru hal tersebut harus dipertahankan. Bukan tanpa alasan ia bersikukuh. Ia berpandangan ini akan mengubah paradigma serta stigma jika kata cempluk ini bisa memberikan penerangan ,energi pada ruang nya. Sebab, pada mulanya, dijuluki cempluk yakni kata lain dari lampu templek. Pada sekitar tahun 1990’an keberadaan kampung ini dulu terisolir, belum ada jaringan listrik yang masuk ke Desa Kalisongo. Meskipun, kampung ini berbatasan dengan Kota Malang. Ditambah lagi, kampungnya tidak ada akses penghubung jalan ke kota. Narasi yang lahir tentang sejarah kampung ini pun berkembang. Saat ini, Desa Kalisongo terkenal dengan sebutan Kampung Cempluk.
Reporter : Rino Hayyu Setyo
Editor : Irham Thoriq
