Konten Media Partner

Mendengar Kisah Inspiratif Noermijati, Guru Besar UB yang Fokus Pengembangan SDM

Tugu Malangverified-green

·waktu baca 4 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Prof. Dr. Dra. Noermijati, SE, M.T.M., CPHR (kiri) bersama paman (tengah) dan kakaknya (kanan) / dok.
zoom-in-whitePerbesar
Prof. Dr. Dra. Noermijati, SE, M.T.M., CPHR (kiri) bersama paman (tengah) dan kakaknya (kanan) / dok.

MALANG - Menjadi salah satu Guru Besar (Gubes) perempuan di Universitas Brawijaya (UB) Malang merupakan tantangan tersendiri bagi Prof. Dr. Dra. Noermijati, SE, M.T.M., CPHR. Perempuan asal Kabupaten Tuban tersebut mengaku Gubes merupakan pencapaian yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

"Memang cita-cita saya dulu adalah menjadi guru, mengajar adalah passion saya, tetapi saya nggak berfikir kalau akhirnya menjadi dosen, dosen kan juga guru" ujarnya mengawali cerita.

Tahun 1980, Noer ingin melanjutkan Pendidikan sarjananya ke bidang pendidikan. Sayangnya, keinginan Noer untuk masuk ke IKIP saat itu tidak terealisasi, karena terlambat mendaftar di IKIP yang saat itu sudah tutup masa pendaftarannya. Hingga kemudian beralih mendaftar dan diterima di jurusan Manajemen di Fakultas Ekonomi (pada saat itu Namanya masih FE belum FEB) Universitas Brawijaya.

Lulus dan menjadi asisten dosen di di jurusan Manajemen FEUB tahun 1985, kemudian di tahun 1986 menjadi dosen, Noer kemudian melanjutkan studi S2 di Faculty of Management and Human Resources Development - Universiti Teknologi Malaysia, kemudiantahun 2005 lanjut studi S3 di program Doktor Ilmu Manajemen FEB UB lulus tahun 2008, dan Surat Keputusan (SK) sebagai Gubes di bidang Manajemen Sumberdaya Manusia yang fokusnya pada pengembangan dan penilaian kinerja Sumberdaya Manusia pada tahun 2015.

"Proses pengusulan menjadi Guru Besar cukup lama, proses pengusulan hingga turun SK Gubes sekitar 5 tahun karena ada kendala berkas saya hilang selama 2 tahun dan saya brfikir ini tentu yang terbaik untuk saya menurut Allah" jelasnya .

Noer menyampaikan tidak ingin menyerah, tetap berusaha, mengalir saja , tidak ngoyo akan tetapi semua dijanali dengan ikhlas, dan berdoa. Beruntung Noer mendapat dukungan yang luar biasa dari suaminya yang saat itu juga sudah guru besar dan juga dukungan dari keluarga besarnya.

"Kalau saya sudah mengendur, Suami yang menyemangati saya, agar berusaha untuk menyenangkan kedua orang tua, dengan mempersembahkan gelas Gubes kepada beliau yang berprofesi sebagai petani dan pedagang. Beliau berdua rela bekerja keras demi Pendidikan yang terbaik untuk anak-anaknya” kata perempuan kelahiran 8 November 1961 tersebut.

Jauh sebelum mengajukan sebagai Gubes ia memang senang menulis. Bahkan saat menempuh studi di jenjang S3 ia sering membuat tugas kuliahnya dalam bentuk artikel, kemudian tugas tersebut diperbaiki dan dimodifikasi sehingga layak untuk dipublikasikan di jurnal ilmiah.

"setelah sekitar 2 tahun sempat dinyatakan hilang di jakarta, mungkin ketlisut, alhamdulillah berkas pengajuan gubes saya ketemu, dan setelah itu saya masih harus bolak balik melengkapi persyaratan-persyaratan yang masih kurang. Memang untuk meraih Guru besar itu perlu usaha atau kerja keras dan kesabaran. Apalagi saat ini kan persyaratannya semakin ketat, namun sistemnya kini sudah lebih tertata. Untuk pengusulan ke Gubes kan juga banyak sekali karya ilmiah, dan karya-karya tersebut yang harus teradministrasikan dengan baik. Mengadministrasikan karya-karya dosen ini yg seringkali terabaikan oleh para dosen. Namun saat ini semua serba digital, sehingga karya-karya dosen yg sangat menunjang dalam pencapaian gubes insyaallah bisa terdokumentasi dengan baik," lanjut ibu dua anak itu

Sebagai perempuan yang juga Guru besar, Noer tetap memegang teguh fitrahnya sebagai istri. Dia akan sangat patuh kepada suami. Ketika dirumah atau dihadapan suami dia adalah istri yang akan selalu berusaha taat pada suami, karena suami yg beriman adalah pintu surga bagi istri.

"Motivasinya terutama adalah, mudah-mudahan dengan menjadi profesor saya bisa memberikan manfaat lebih (pada dunia pendidikan). Kuncinya adalah keluarga harus mendukung. Kalau perempuan sebagai istri, maka istri harus patuh kepada suami. kalau suami ndak mendukung ndak bisa. dan alhamdulillah suami saya sangat luar biasa. blio terus memotivasi saya dan bahkan sampai sibuk ikut mengurusi persiapan pengukuhan saya", imbuh perempuan berhijab ini

Kini, perempuan berusia 60 tahun ini masih aktif mengajar, meneliti, mengabdi dan menulis karya ilmiah yang memang sudah menjadi tugas seorang dosen. Penelitian Disertasinya mengkaji tentang “Aktualisasi Teori Herzberg, suatu kajian terhadap kepuasan kerja dan kinerja spiritual manajer operasional”. Sedangkan untuk pengajuan Gubes, Noermijati mengkaji tentang “Persaingan diera global melalui pengembangan sumberdaya manusia dan pengelolaan pada keragaman”.

Ia pun berpesan, untuk bisa mencapai Guru besar, seorang dosen harus ulet, dan memanage karirnya dengan baik sejak dari awal sebagai dosen dengan terus menulis, berkarya dan mengadministrasikan karya-karyanya dengan rapi.

"Untuk bisa mencapai ke Gubes itu satu hal yang tidak boleh dilupakan, harus ulet , rajin, dan sabar. Ketika mengurus itu harus ulet dan memiliki strategi. Strateginya harus rajin dari awal untuk berproses terkait menghasilkan karya-karya ilmiah dan karya tersebut harus di filekan / dikumpulkan dengan baik. Kejarlah kesempatan yang ada, Selain itu,kerjakan semuanya dengan niat karena ibadah," tandasnya. (ads)