Mengenal Hasan Abadi, Rektor Unira Malang yang Dulu Pedagang Asongan

Inspirasi bisa datang dari mana saja. Salah satunya dari Hasan Abadi, rektor Universitas Raden Rahmat (Unira) Malang. Dia mengawal karier benar-benar from zero to hero. Berikut reportase-nya.
Penampilannya kalem. Kalau berbicara runtut dan teratur. Tak meledak-ledak, tapi apa yang disampaikan begitu gamblang dan jelas.
Ya, demikianlah kesan saat tim tugumalang.id, media online partner resmi kumparan.com berdiskusi dengan Dr Hasan Abadi M. AP, 27 Desember 2019 lalu, di sebuah kafe di daerah Araya, Kota Malang. Obrolan kurang lebih satu jam setengah itu salah satunya membahas masa lalu Hasan Abadi.
Ya, Hasan Abadi yang kini menjabat rektor Universitas Raden Rahmat (Unira), Kepanjen, Kabupaten Malang ini bukanlah datang dari keluarga berada.
Orang tuanya yang hanya petani di sebuah desa di Wajak, Kabupaten Malang, membuat Hasan Abadi remaja hidup penuh dengan kegetiran. Salah satunya, saat dia sekolah di SMAN 5 Kota Malang sekitar tahun 1990-an, Hasan mulai berjualan lesehan atau asongan di pinggir jalan.
Bahkan, dia pernah menjadi Ketua Assosiasi Pedagangan Lesehahan Merdeka Timur, Kota Malang."Saya dijadikan ketua, karena kalau ada razia dari satpol pp, saya yang keras menentang," kata pria 44 tahun itu mengenang peristiwa belasan tahun silam itu.
Ketika itu, dia berjualan sekitar tahun 1992. Karena tidak punya modal, Hasan menjualkan punya salah salah seorang temannya. Dia berjualan eneka macam poster seperti poster Metalica, Bon Jovi, dan lain sebagainya.
"Dari orangnya dapat sembilan ratus rupiah, saya jual seribu seratus rupiah hingga seribu dua ratus rupiah," imbuh alumnus Universitas Brawijaya (UB) ini.
Aktivitas itu berjalan hingga Hasan Abadi kuliah semester akhir. Yang dijual pun tidak hanya poster saja.
"Tapi juga gayung untuk mandi juga, saya jual," tambah pria kelahiran 7 Agustus 1975 ini.
Apalagi, pada tahun 1995, ayahnya yakni H Muhammad Tholib Arsyad meninggal dunia saat menjalankan ibadah haji.
"Waktu itu haji dengan ibu saya. Beliau berdua haji bukan karena kaya, tapi karena menabung," jelas peraih gelar doktor dari UIN Malang ini.
Perjuangan Hasan Abadi berlanjut ketika dia lulus kuliah. Dia tetap menjadi pedagang. Yakni, pedagang ikan pindang."Saya ambil dari Pasar Gadang, Kota Malang, lalu saya jual di Wajak, saya ambilnya satu pick up begitu," kata suami dari Hidayatis Syarifah ini.
Berwirausaha dengan Modal Kepercayaan
Sementara itu, modal dari Hasan ketika itu hanyalah kepercayaan. Lantaran, dia benar-benar tidak punya modal.
"Jadi barangnya saya ambil dulu, lalu saya jual lagi, setelah laku, baru saya bayar. Modalnya benar-benar kepercayaan," jelasnya.
Rupanya, hasilnya waktu itu cukup lumayan. Bahkan, dia bisa ikut arisan dengan pembayaran Rp 120.000,- salam sehari.
"Waktu itu saya ditawari masuk PNS (Pegawai Negeri Sipil, sekarang ASN) tanpa bayar apa-apa, saya tidak mau karena ketika saya tanya gajinya waktu itu cuma enam ratus ribu," imbuhnya.
Selanjutnya, sekitar tahun 2000-an, Hasan Abadi kuliah pascasarjana di Universitas Brawijaya. Ketika itu, dia sambil berdagang."Saya jadi ketua ikatan mahasiswa Pascasarjana, semacam BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) kalau di S-1," katanya.
Sekitar satu tahun menjadi ketua, dia mendapatkan banyak pengalaman."Seperti ketemu menteri dan wakil presiden dengan ketua-ketua dari berbagai kampus, kayak pemimpin nasional ketika itu. Tapi, setelah kembali ke Malang, jualan ikan pindang lagi," imbuhnya.
Singkat cerita, Hasan yang sempat mendapatkan beasiswa ketika Pascasarjana berkat rekomendasi mengajar di STIT Raden Rahmat (Sekarang Unira), ketika lulus dia ditawari untuk menjadi dosen.
Awalnya, dia tidak begitu tertarik."Karena kadang dosen itu tidak out of the box, tapi karena guru yang menawari, pada 2005 saya mulai jadi dosen," katanya.
Dua tahun berselang, dia dipercaya menjadi Kepala Sekolah SMK Cendika Bangsa, yang merupakan satu yayasan dengan Unira.
"Dari awal memang saya yang merintis, dan ketika itu memang begitu maju, malah lebih terlihat SMK-nya daripada kampusnya," katanya.
Pada 2017 lalu, Hasan Abadi dipercaya menjadi rektor di kampus tersebut. Salah satu program unggulannya adalah menjalin kerjasama dengan berbagai kampus di luar negeri.
"Kita pernah mengadakan acara dengan kampus terbesar nomor dua di Malaysia, yakni Universiti Teknologi Malaysia, pernah juga dengan kampus di Turki dan berbagai negara lain," katanya.
Selain itu, banyak juga acara internasional yang digelar di kampus. Di antaranya adalah International Conference ‘Sufism for Peace’ yang digelar akhir 2018 lalu.
Selain itu, kampus ini juga sedang mengembangkan kampus II di daerah Ngajum, Kabupaten Malang.
"Sudah ada 12 hektare lahan yang sudah kami bebaskan," pungkasnya.
Reporter : Fajrus Sidiq
