Mengenal KH Oesman Mansoer, Sosok di Balik Berdirinya UIN Malang dan Unisma

MALANG-Jumat, 17 Juli 2020, sejumlah nama gedung di Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang, diberi nama dengan nama-nama tokoh yang pernah memimpin kampus di Jalan Gajayana, Kota Malang tersebut.
Salah satunya adalah KH Oesman Mansoer, yang namanya diabadikan menjadi nama Gedung Fakultas Humaniora UIN Maliki Malang.
Kiai dan intelektual muslim ini, sepak terjangnya sangat komplet. Pada tahun 1945, Oesman muda bergabung dengan Laskar Sabilillah yang merupakan sayap perjuangan pemuda Nahdlatul Ulama (NU) hasil dari Resolusi Jihad yang dideklarasikan Hadratus Syekh KH. Hasyim Asyari, pendiri NU.
Di sanalah karir militer Oesman muda ditempa hingga didapuk menjadi pimpinan Laskar Sabilillah Malang dan menjadi komandan Sabilillah Jawa Timur sampai tahun 1949.
Beliau merupakan alumni dan santri dari KH. Nachrowi Thohir serta KH. Badrus Salam yang mendirikan Madrasah Muslimin NU, Jagalan Kota Malang. Saat itu, tempat ini menjadi pusat informasi dan perjuangan warga NU Kota Malang.
Pasca kemerdekaan, Oesman lalu merintis berdirinya SMP Islam Salahudin, menjabat sebagai Kepala Sekolah pada tahun 1955 hingga berhasil mengembangkan SMA Shalahuddin pada kurun waktu yang sama.
Pada tahun 1958, oleh Markas Besar AD, Oesman diminta menjadi perwakilan representatif NU untuk membuat rumusan penafsiran Pancasila dari tinjauan Islam yang dipaparkan dalam seminar AD pertama pada 1958.
Hasil pemikiran ini kemudian menjadi pidato atau dis ride dalam Dies Natalis Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Malang di hadapan Menteri Agama KH. M. Dahlan dan dibukukan dengan 'Judul Islam dan Kemerdekaan Beragama' pada tahun 1968.
Lalu, pada tahun 1959 bersama dengan KH. Ghozali dan Prof. M. Khoesnoe merintis berdirinya Universitas NU (UNU), yang merupakan cikal bakal berdirinya Universitas Sunan Giri dan pada tahun 1981 berubah menjadi Universitas Islam Malang (Unisma).
Selain itu, beliau juga mendirikan cabang Fakultas Tarbiyah PTAIN di Malang pada tahun 1961, menjabat Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Malang tahun 1968-1972 yang kemudian dikembangkan menjadi STAIN Malang dan kini berubah menjadi Universitas Islam Negeri Malik Ibrahim.
Tak hanya militer, Oesman juga punya dedikasi dan cita-cita tinggi terhadap pendidikan. Beliau adalah dekan pertama Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Malang tahun 1969-1972. Disamping itu, ia sekaligus merintis beberapa lembaga pendidikan Islam seperti SMP Islam dan SMA Shalahuddin Malang.
Lalu, pada tahun 1959 Oesman juga merintis Akademi Pendidikan Ilmu dan Agama Islam (APIAI) tahun 1959 yang berkembang menjadi Fakultas Tarbiyah Wa Ta’lim Universitas Nahdlatul Ulama tahun 1961.
Latar belakang jiwa pendidiknya ini berawal dari diutusnya beliau oleh Nahdlatul Ulama (NU) untuk mengajar di sebuah madrasah di Bawean Madura pada 1940.
Salah satu anaknya, Nuruddin atau Gus Din mengatakan, KH. Oesman Mansoer juga aktif menjadi pengajar Islamologi di Gereja Jawi Wetan pada Tahun 1968-1974.
“Ilmunya tentang pembelajaran toleransi antarumat beragama. Umat lain diajak memahami Islam bukan dari sisi akidah, melainkan dari sisi perdamaian dan kebangsaan,” ucap Gus Din.
Oesman rupanya juga mengajak Gus Dur, Abdurrahman Wahid untuk mengajar islamologi di GKJW Sukun. Oesman terlebih dulu mengajar disana sejak tahun 1965, sedangkan Gus Dur mengajar di sana tahun 1970-an.
Setelah pensiun dari pekerjaan sehari-sehari di bidang Bimbingan Mental (Bintal) TNI di Kodam V Brawijaya pada 1979, dengan pangkat terakhir Mayor, dipercaya Pemkot Malang menjadi Ketua MUI Kota Malang dan Ketua Takmir Masjid Agung Jami’ Malang hingga akhir hayatnya.
Sebenarnya, Oesman juga pernah dicalonkan menjadi Bupati Lumajang oleh Partai NU. Namun, karena minat dan kompetensinya tidak sesuai, KH. Oesman Mansoer lebih memilih mengabdi di dunia pendidikan.
''Cita-cita beliau yang sering disampaikan kepada putra-putrinya maupun kepada khayalak umum menjadi orang alim dan sederhana dalam menjalani kehidupan,'' kata Gus Din.
