kumparan
Woman25 Maret 2020 18:23

Mengenal Prof Dr Dyah Sawitri, Dulu Tenaga Honorer, Kini Rektor

Konten Redaksi Tugu Malang
IMG-20200325-WA0121.jpg
Rektor Uniga Malang Prof Dr Dyah Sawitri. Foto-foto dokumen.
Teruslah bermimpi, teruslah bermimpi, bermimpilah selama engkau masih dapat bermimpi! – RA Kartini.
ADVERTISEMENT
Prof Dr Dyah Sawitri, resmi dilantik menjadi Rektor Universitas Gajayana Malang untuk kedua kalinya, Kamis 20 Februari 2020. Kepada tugumalang.id, ibu empat anak ini menceritakan kisah perjalanan karirnya hingga menjadi rektor.
Wanita kelahiran Trenggalek 1967 ini datang ke Malang sekitar tahun 1986. Dyah, ingin kuliah di bidang kedokteran. Karena waktu itu, Dyah memiliki impian untuk mengabdi kepada masyarakat, dengan menjadi seorang dokter. Sayangnya, impian tersebut seolah “tidak jodoh” dengannya. Karena waktu mendaftar kuliah kedokteran, Dyah tidak diterima.
IMG-20200325-WA0120.jpg
Rektor Uniga Malang Prof Dr Dyah Sawitri.
Dyah kemudian memilih “jalan lain” mendaftar kuliah di Fakultas Ekonomi Uniga Malang. Dari kampus ini lah Dyah seolah menemukan jalan luas menuju karirnya.
”Saya dulu ingin jadi dokter, tapi ketika ikut tes, tidak diterima. Saya pun tetap ingin mengabdi, ingin jadi PNS (ASN),” kata istri Prof Dr H Mochamad Saleh tersebut.
ADVERTISEMENT
Saat lulus sarjana, Dyah memilih tidak pulang ke kampung halamannya. Dyah mulai mencari jalan untuk mengejar impiannya, jadi PNS. Namun saat itu, Dyah masih harus mengabdi menjadi honorer, sebelum jadi PNS. Dyah bekerja sebagai tenaga honorer di Dinas Kebersihan Pemerintah Kota (Pemkot) Malang.
IMG-20200325-WA0118.jpg
Rektor Uniga Malang Prof Dr Dyah Sawitri dan Suami Prof Dr H Mochamad Saleh bersama anak-anak.
Dua tahun Dyah menjadi tenaga honorer, yaitu tahun 1990-1992. Namun tidak hanya bekerja sebagai tenaga honorer, ternyata Dyah juga memilih untuk aktif di dunia pendidikan. Setiap sore, atau sepulang kerja di dinas, Dyah berangkat ke kampus Uniga untuk mengajar ilmu statistik.
”Ya pulang kerja saya langsung ngajar statistik di kampus ini (Uniga). Waktu itu masih sedikit yang bisa statistik,” kata alumnus Manajemen Universitas Brawijaya (UB) 1999 itu.
ADVERTISEMENT
Tentu bekerja siang hari ditambah mengajar di sore hingga malam hari, membutuhkan energi lebih. Namun Dyah mengaku, tak pernah kendor semangat untuk terus mengabdi di dunia pendidikan. Meski pada akhirnya, Dyah memutuskan untuk berhenti menjadi tenaga honorer pasca menikah.
”Meski sebentar jadi hononer, saya banyak mendapat pelajaran yang masih saya terapkan hingga saat ini,” kata alumnus Ilmu Ekonomi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya 2004 itu.
IMG-20200325-WA0119.jpg
Rektor Uniga Malang Prof Dr Dyah Sawitri dan Suami Prof Dr H Mochamad Saleh bersama anak-anak.
Setelah menikah, Dyah mengatakan, dirinya lebih berfokus untuk mengajar di kampus. Meskipun saat itu, dirinya hanya menjadi asisten dosen saja. Namun sejak itu lah, Dyah kemudian aktif mengajar dan menjadi dosen. Kata Dyah, satu mimpinya menjadi PNS pun terwujud. Dyah lolos seleksi PNS tahun 2005.
ADVERTISEMENT
”Uniga ini membawa keberkahan bagi saya,” kata Guru Besar Ekonomi Uniga itu.
Namun menurutnya, sebagai seorang ibu, tidak boleh melalaikan tanggungjawab dan kodrat sebagai perempuan. Menurutnya, keluarga menjadi yang paling utama. Sebagaimana dirinya sebagai orang tua, mendidik dan membimbing putra-putrinya ke jalan kesuksesan.
”Alhamdulillah, dua anak saya jadi dokter, cita-cita saya dulu. Yang satu jadi dosen, satunya jadi pengusaha,” ucapnya bersyukur.
Dyah mengatakan, dirinya sebagai dosen saat itu, memang hanya menjadi ibu rumah tangga biasa. Jadi Dyah tak lelah membimbing dan mendampingi putra-putrinya. Mulai dari antar jemput sekolah, dari TK hingga SD.
Dyah terus menyatakan, kesuksesannya saat ini tak lepas dari peran keluarga. Karena menurutnya, kodrat sebagai perempuan tidak boleh ditinggalkan, apapun jabatan seorang perempuan itu. Maka bersyukur, memberikan yang terbaik, berpikir positif, beribadah, kata Dyah, menjadi kunci dirinya sukses saat ini.
ADVERTISEMENT
”Hidup tergantung bagaimana kita menjalaninya, banyak bersyukur, memiliki nilai yang bermanfaat untuk orang lain, menanam kebaikan untuk bekal di akhirat,” pungkasnya.
Editor: Fajrus Sidiq
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan