Pencarian populer

Mengunjungi Kampung Sanan, Pusat Tempe di Kota Malang

Pintu gerbang menuju Kampung Tempe, Sanan, Kota Malang. (foto: Irham thoriq/tugu malang).

TUGUMALANG.ID- Sebagaian besar kantor swasta dan pemerintahan memang sudah masuk kerja pada Senin (10/6). Tapi, Kampung Tempe Sanan di Kelurahan Purwantoro, Blimbing, Kota Malang masih dipenuhi pengunjung. Umumnya, mereka adalah wisatawan atau pemudik yang berburu oleh-oleh khas Kota Malang.

Ya, pada momen Lebaran ini, warga Kampung Tempe Sanan memang ketiban berkah. Meski kini di Malang sudah banyak kue artis, tapi pengunjung di kampung ini tidak pernah surut, khususnya ketika Lebaran dan liburan panjang. Di momen Lebaran ini para pengunjung mulai bejibun.

Di Kampung Tempe Sanan, dari sekitar 2.000-an kepala keluarga (KK), 95 persen di antaranya bekerja di bidang yang berkaitan dengan olahan tempe. Mulai dari membuat tempe, menjual tempe ke pasar, hingga mengolah tempe menjadi keripik tempe.

Khalimatus Sa’diyah, pemilik toko oleh-oleh Swari di Kampung Tempe Sanan, Kota Malang, mengakui kalau pengunjung Lebaran tahun ini lebih banyak dibandingkan Lebaran tahun lalu. "Hari ini (Senin,red) saya kira sudah sepi, tapi masih ramai saja, kalau dibandingkan Lebaran tahun lalu, lebih ramai sekarang,” kata perempuan yang akrab disapa Khalimah ini.

Jam kerja di tokonya dibagi kedalam dua shift. Dalam shift kerja pertama, pagi hingga siang, dan bisa melayani sampai 400 pengunjung. Sedangkan shift kedua yakni sore sampai malam bisa sampai 600 orang.

"Kalau peningkatan dibanding hari-hari biasanya, meningkat sepuluh kali lipat,” katanya.

Salah seorang pengunjung saat memilih keripik di salah satu toko. Tampak foto atas, dokumentasi saat Presiden Republik Indonesia ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono dengan sang istri Alm. Ani Yudhoyono berkunjung ke kampung ini beberapa tahun lalu. (foto: Irham thoriq/tugu malang).

Hanya saja, untuk urusan omzet, dia enggan menyebut. Hanya saja, dengan sekitar seribu pengunjung, seandainya satu pengunjung menghabiskan Rp 200.000,- maka omzet yang diraup toko oleh-oleh ini tembus hingga Rp 20 juta sehari.

Selain melayani penjualan offline, Swari juga menjual produknya melalui layanan online untuk ke berbagai wilayah di Indonesia. Kini Khalimah juga punya sepuluh orang karyawan. "Ini sudah banyak pesanan ke luar kota dan luar pulau, tapi pengiriman menunggu ekspedisi buka,” katanya.

Toko oleh-oleh Swari sendiri oleh Khalimah dirintis sejak tahun 2.000. Ketika itu, dalam tiga hari biasanya ia hanya menghabiskan sekitar tiga kilogram keripik tempe. "Kalau sekarang di hari-hari biasa, dalam sehari sampai 50 hingga seratus kilogram,” katanya.

Sementara itu, Surip Ismail, pemilik toko oleh-oleh Nurdjanah menambahkan dibandingkan Lebaran tahun lalu, penjualan oleh-oleh di tahun ini lebih ramai.

"Sekarang ini toko hampir tidak pernah sepi, sekitar seribu pengunjung sehari ada,” kata Surip.

Kedelai dalam sebuah plastik untuk kemudian dijadikan tempe. (foto: Irham thoriq/tugu malang).

Dia tidak menyebut pasti omzetnya, hanya saja, saat wartawan tugumalang.id, menganalogikan kalau satu pengunjung bisa menghabiskan Rp 100.000 maka tokonya dapat sekitar Rp 10 juta dalam sehari, dia tidak mengelak. "Iya sekitar segitu,” katanya.

Karena ramainya momen Lebaran, Surip tidak mau menyia-nyiakan peluang tersebut. Dia hanya tutup saat hari H Lebaran."Karena tidak mudik, keluarga saya di Ngebruk, Kabupaten Malang, waktu hari H ke sana, besoknya sudah buka lagi,” katanya.

Toko Nurdjanah sendiri merupakan toko keluarga. Meski dikelola oleh Surip dan sang istri yang bernama Nurdjanah, tapi yang menyuplai keripik tempe di tempat ini adalah empat anaknya. "Jadi dari anak saya itu yang kita jual, anak saya juga bantu menjaga toko ini,” imbuhnya.

Proses pembuatan tempe di salah satu rumah warga di Kampung Tempe Sanan, Kota Malang. (foto: Irham thoriq/tugu malang).

Toko Nurdjanah sendiri hanya melayani offline. Sedangkan untuk penjualan online, ditangani oleh anak-anak mereka, tapi merek-nya tetap Nurdjanah. "Kalau jualnya di seluruh Indonesia yang online,” pungkasnya.

Sebagaimana toko oleh-oleh di kampung ini, toko Nurdjanah menjual aneka macam rasa keripik tempe. Yakni, ada yang rasa original, balado, barbeque, keju, ayam lada hitam, sapi panggang, ayam pedas, jagus manis, dan lain-lain.

Tak hanya aneka macam keripik tempe, kampung ini juga menjual keripik buah. Seperti keripik buah semangka, nangka, apel, salak, buah naga, dan lain-lain. Kampung tempe sendiri terdiri dari RW 14, ,RW 15, dan RW 15. Kampung ini memulai memproduksi keripik tempe pada tahun 1970-an. Konon, warga memproduksi keripik karena banyak tempe yang tidak laku ketika dijual di pasar.

Salah seorang pekerja sedang menggoreng keripik tempe, senin (10/6). (foto: Irham thoriq/tugu malang).

Sehingga, tempe itu dijadikan keripik. Kini, dengan produksi tempe 30 kuintal hingga 1,8 ton dalam sehari, perputaran uang di kampung ini saban hari sekitar Rp 1 miliar. Di kampung ini, orang punya asset dan bisa menyekolahkan anaknya hingga sarjana ya karena tempe, karena memang 95 persen warganya bekerja yang ada kaitannya dengan tempe,” kata M. Arif Sofyan Hadi, Ketua Paguyuban Sentra Keripik dan Tempe Sanan Malang.

Penampakan keripik tempe usai digoreng. (foto: Irham thoriq/tugu malang).

Reporter : Irham Thoriq

Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.57