Konten Media Partner

Misteri Situs Cagar Budaya Makam Dinger di Kota Batu

Tugu Malangverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Makam Dinger di Kota Batu. Foto: Ulul Azmy
zoom-in-whitePerbesar
Makam Dinger di Kota Batu. Foto: Ulul Azmy

MALANG - Di sebuah desa yang terletak persis di kaki Gunung Arjuna, tepatnya di Desa Tulungrejo, Kota Batu, Jawa Timur, terdapat bangunan kuno peninggalan Belanda yang masih misterius hingga saat ini.

Gaya arsitektur bangunan kuno tersebut memang terlihat paling menonjol jika dibandingkan dengan bangunan rumah khas pedesaan di sekitarnya. Bangunan ini terbilang eksotis di tengah hamparan kebun apel di sisi kiri kanannya dan lanskap lereng Gunung Arjuna.

Usut punya usut, ternyata itu bukan rumah. Melainkan mausoleum atau kompleks pemakaman. Warga di sana menyebutnya Makam Dinger. Konon, bangunan ini menjadi penyimpanan peti mayat berisi jenazah keluarga Graaf J Dinger, bangsawan yang diceritakan dulunya merupakan tuan tanah yang mempekerjakan para pribumi.

Makam Dinger di Kota Batu. Foto: Ulul Azmy

Informasi dihimpun dari warga sekitar, Tomo (45), dulunya bangunan mausoleum yang tersisa hanya ada sebuah jalan serupa jembatan menuju ruang makam yang berbentuk serupa pos pantau di zaman Belanda.

Dulunya, di bawah bangunan tersebut disebutkan merupakan sebuah kolam yang cantik. Namun, kini sudah tidak ada lagi dan rata dengan tanah. Itulah asal-usul kenapa ada jalan serupa jembatan yang dibangun menuju mausoleum.

''Sekarang ya sudah dipagari dan diberi akses jalan paving oleh pemerintah. Katanya memang sudah dijadikan objek wisata,'' kata Tomo, pada Minggu (19/6/2022).

Struktur bangunan mausoleum ini terbilang kuat dan masih bertahan hingga sekarang, termasuk pahatan berupa tulisan di atas pintu bangunan bertuliskan 'Graf Familie Dinger' Anno 1917. Artinya, makam keluarga Dinger Tahun 1917.

Namun Tomo tidak begitu tahu asal-usul bangunan ini. Tomo hanya tahu seputar kisah bangunan ini adalah milik keluarga tuan tanah asal Belanda yang menguasai kawasan sana.

''Kemudian meninggal dan peti jenazah mereka ditaruh sana. Tapi petinya sudah gak ada lama,'' jelasnya.

Sejumlah sumber resmi dari Kemendikbud dan juga situs inexbu.nl juga mengisahkan hal serupa. Graf J Dinger sendiri disebutkan sebagai seorang tuan tanah dari banyak kebun di sana yang memproduksi berbagai hasil pertanian mulai kopi, kina, teh, hingga tebu.

Dinger juga disebutkan merupakan seorang direktur dari Bank Excompto. Setelah tinggal dalam waktu yang lama, Dinger kemudian wafat pada 2 Maret 1917 dan berwasiat untuk dimakamkan di kebun lahan pertanian miliknya. Begitu juga istrinya, Elisabeth Malvine Ernestine van Polanen Petel ikut dimakamkan di sana pada 7 maret 1938.

Kisah historis yang panjang inilah yang kemudian membuat Pemkot Batu menjadikannya sebagai objek wisata sejarah. Sebagai bukti bahwa Kota Batu menjadi saksi peradaban di zaman penjajahan dan berkembang hingga sekarang. Bahkan, objek wisata ini sudah ditetapkan sebagai cagar budaya.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu, Arief As Siddiq membenarkan bahwa Makam Dinger menjadi satu dari sekian situs yang ditetapkan menjadi cagar budaya. Dengan begitu, situs ini akan terlindungi dari ulah oknum tak bertanggung jawab.

''Mulai tahun ini sudah kami pagari. Sudah kami bangun akses jalan menuju Makam Dinger untuk memudahkan pengunjung ke sana. Rencana Makam Dinger akan kami kenalkan jadi objek wisata baru,'' ungkap Arief, pada Minggu (19/6/2022).

Tak hanya sekedar dikenalkan, namun juga akan menjadi bagian dari paket bundling wisata yang akan dipromosikan Dinas Pariwisata Kota Batu di awal Mei 2022 nanti. ''Nanti kalau sudah final, situs itu akan masuk ke paket wisata kami,'' katanya.

Lebih lanjut, pihaknya akan berencana memberikan perawatan terhadap bangunan ini agar tidak terkesan usang dan tak terawat. Perawatan ini tidak akan sampai mengubah tatanan aslinya.