Muncul Tagar #malangmacet, Wali Kota: Saya Juga Kena Macet

Konten Media Partner
10 November 2020 17:39
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Wali Kota Malang, Sutiaji, saat meninjau pengerjaan proyek pembangunan Kayutangan Heritage, pada Selasa (10/11/2020). Foto: Humas Pemkot Malang
zoom-in-whitePerbesar
Wali Kota Malang, Sutiaji, saat meninjau pengerjaan proyek pembangunan Kayutangan Heritage, pada Selasa (10/11/2020). Foto: Humas Pemkot Malang
ADVERTISEMENT
MALANG - Penutupan Jalan Kayutangan di Kota Malang dalam rangka proyek pembangunan Kayutangan Heritage, berimbas kemacetan parah di sejumlah ruas alternatif.
ADVERTISEMENT
Dua hari ditutup, penumpukan kendaraan di sejumlah ruas jalan alternatif masih terjadi.
Pantauan di lapangan pada Selasa (10/11/2020), penumpukan kendaraan terjadi di Jalan Aris Munandar menuju Kampung Warna-Warni hingga Jembatan Buk Gluduk. Selain itu, kemacetan juga terjadi di sepanjang Jalan Majapahit dan Jalan Pattimura.
Titik kepadatan kendaraan terjadi di sepanjang Jalan Aris Munandar menuju Kampung Warna-Warni, pada Selasa (10/11/2020). Foto: Ulul Azmy
zoom-in-whitePerbesar
Titik kepadatan kendaraan terjadi di sepanjang Jalan Aris Munandar menuju Kampung Warna-Warni, pada Selasa (10/11/2020). Foto: Ulul Azmy
Bahkan, kemacetan ini membuat sejumlah warganet marah-marah. Di linimasa Twitter, sampai muncul tagar #malangmacet.
Menanggapi hal ini, Wali Kota Malang, Sutiaji, justru menganggapnya hal wajar. Pasalnya, orang nomor satu di Kota Malang ini juga mengaku jadi korban macet.
"Saya kira wajar kalau masyarakat mengeluh. Wong saya sendiri juga kemarin mengeluh karena tidak dapat informasi (penutupan) dimana,'' kata Sutiaji, saat meninjau proyek Kayutangan Heritage, pada Selasa (10/11/2020).
Wali Kota Malang, Sutiaji, saat meninjau pengerjaan proyek pembangunan Kayutangan Heritage, pada Selasa (10/11/2020). Foto: Humas Pemkot Malang
zoom-in-whitePerbesar
Wali Kota Malang, Sutiaji, saat meninjau pengerjaan proyek pembangunan Kayutangan Heritage, pada Selasa (10/11/2020). Foto: Humas Pemkot Malang
Sutiaji menuturkan, kemarin dirinya juga terjebak macet saat akan mengisi kegiatan di kawasan Hamid Rusdi. Alhasil, dia sempat kebingungan mencari jalan alternatif karena tak tahu informasi.
ADVERTISEMENT
''Saya gak tahu mana yang ditutup. Sementara, persepsi masyarakat di sekitar Kayutangan semua ditutup, padahal masih bisa. Akhirnya kan jadi macet panjang. Kemarin, saya sampai lanjut perjalanan pakai motor,'' kisahnya.
Kendati begitu, Sutiaji memandang, dalam satu dua hari kedepan, masyarakat mulai bisa menyesuaikan diri, memilih rute perjalanan, hingga mensiasati estimasi waktu perjalanan dengan kondisi yang ada saat ini.
"Saya mohon maaf. Saya harap masyarakat bisa menyesuaikan diri. Berangkat lebih pagi agar tidak terjebak macet dan mulai dimengerti titik-titik mana yang crowded yang harus dihindari," ucapnya.
Lebih lanjut, sebenarnya dia sudah mengusulkan agar pembangunan dilakukan bertahap. Seperti dimulai dari sisi utara dulu, baru kemudian menyusul ke selatan. Namun ternyata dari pertimbangan pelaksana proyek, hal itu tidak bisa.
ADVERTISEMENT
"Belajar dari pengalaman, saat memasang batu andesit itu harus ada dasaran. Bagian bawahnya harus kokoh dan kuat agar tidak goyang. Kalau goyang, tiap ada muatan mesti retak. Makanya harus ditata sebaik mungkin biar nanti tidak ada hal tak diinginkan,'' tambahnya.
Sebagai informasi, pengerjaan proyek Kayutangan Heritage ini merupakan proyek dari Kementerian PUPR dengan total anggaran senilai Rp 24 miliar. Termasuk proyek penataan di kawasan Polehan melalui program Kotaku.
Kawasan Kayutangan ini nantinya akan disulap sehingga mirip kawasan Braga di Bandung atau Malioboro di Yogyakarta. Ditargetkan, proyek ini rampung pada Februari 2020 mendatang.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·