Pandemi, Pengrajin Batik Tulis Celaket Khas Malang Menjerit

MALANG - Di Hari Batik Nasional 2020, pengrajin batik seolah kehilangan arah. Pandemi virus Corona alias COVID-19 membuat sejumlah sentra kerajinan batik di Malang kelimpungan. Seperti dialami salah satu sentra kerajinan Batik Tulis Celaket khas Malang.
Sejak pandemi merebak, praktis berimbas pada omzet penjualan kerajinan Batik Tulis Celaket yang anjlok hingga 90-99 persen. Sebelum pandemi, pengrajin bisa menjual 300-500 lembar batik, kini tercatat 0 (nol) penjualan.
''Sudah 7 bulan terakhir ini tercatat 0 penjualan. Sebelumnya, sejak Januari juga sudah turun. Omzet normal kami bisa sampai 200 juta sebelum pandemi dengan total 20 karyawan,'' ungkap Pemilik Batik Tulis Celaket, Hanan Abdul Djalil, pada Jumat (2/10/2020).
Hanan mengaku, batik sebagai karya seni memang kerap dijadikan produk oleh-oleh para wisatawan yang datang ke Malang. Sehingga, tutupnya sektor pariwisata selama pandemi berefek domino terhadap penjualan batiknya.
''Meski sudah alih ke strategi online pun tetap sepi. Daya beli memang melesu. Tapi ya wajar, karena masyarakat pun lebih milih beli beras, mereka save money untuk kebutuhan pokok saja,'' terangnya.
Kendati demikian, naluri kemanusiaannya tetap tumbuh. Hanan mengaku, tidak bisa serta-merta memberhentikan usahanya yang menghidupi 20 karyawan yang merupakan warga kampung di sekitarnya.
Produksi, kata dia, tetap jalan. Mengandalkan sisa kain produksi yang ada.
''Memang udah gak seproduktif sebelumnya. Saya tetap berusaha carikan gaji buat mereka dengan jual aset-aset lain yang ada. Yang penting mereka dan keluarganya tetap bisa hidup, gak boleh egois. Tapi kalau terus-terusan begini ya bisa bangkrut,'' ujarnya.
Dalam situasi ini, kata dia, memang tidak ada yang bisa disalahkan. Dalam hal ini, pemerintah perlu merumuskan kebijakan strategis dan terukur dalam menjaga stabilitas ekonomi masyarakat.
Dia berharap, anggaran belanja daerah difokuskan di daerah sendiri.
''Dibelanjakan di pengusaha UMKM sini saja. Jangan di lain-lain seperti diatur di e-katalog. Itu kalau pengen ekonomi bergerak sepenuhnya. Toko, pengusaha, UMKM di Malang juga punya karyawan yang harus dihidupi,'' inginnya.
''Yang dibutuhkan bukan bansos, manfaatnya jangka pendek. Paling penting ya suntikan pinjaman modal bagi pengusaha batik. Paling tidak usaha tetap jalan produksi, karyawan tetap hidup,'' imbuh pria asal Banyuwangi ini.
