Konten Media Partner

Pemkot Batu akan Relokasi Hunian Warga di Bantaran Sungai

Tugu Malangverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Hunian warga terdampak banjir bandang di Kota Batu. Foto: Ulul Azmy
zoom-in-whitePerbesar
Hunian warga terdampak banjir bandang di Kota Batu. Foto: Ulul Azmy

BATU - Penanganan pasca bencana banjir bandang yang melanda Kota Batu terus berjalan. Selain terus melakukan pembersihan sisa material, Pemkot Batu juga tengah menyiapkan skema penanganan untuk jangka panjang. Salah satunya dengan tidak membangun kembali rumah yang ada di bantaran sungai.

Saat ini, data kerusakan rumah akibat bencana bah ini masih terus diinventarisir. Sejauh ini, sudah ada 17 rumah hilang disapu bah, 43 rumah rusak parah, dan 32 rumah terendam lumpur.

Namun, Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko masih akan mengkaji mana-mana saja rumah yang layak untuk dibangun kembali. Jika rumah itu berada di wilayah bantaran Sungai Brantas, otomatis harus direlokasi.

Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko. Foto: Ulul Azmy

''Kami upayakan untuk ganti rugi dan dibangun rumah kembali. Tapi kami masih harus mengkaji lagi, apa rumah yang hanyut itu layak dibangun kembali. Jika memang, rumah berada di jalannya air ya harus direlokasi,'' kata dia.

Saat ini, pendataan masih berjalan karena dimungkinkan datanya masih akan berkembang. Pasalnya, proses pembersihan material sisa banjir masih berlangsung dan ditarget selesai minggu depan.

Jika sudah, lanjut dia, pihaknya akan menyediakan opsi relokasi. Warga terdampak akan dibangunkan hunian atau permukiman sementara di lokasi yang jauh dari kawasan sungai.

''Lahan relokasi juga sudah kami siapkan, ada di Desa Bulukerto. Tapi titiknya masih akan kami tentukan lagi,'' kata dia.

Selain itu, Pemkot Batu juga akan melakukan normalisasi sungai bersama dengan Kementerian PUPR Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas. Normalisasi dilakukan agar aliran sungai bisa teratur lancar seperti di Eropa.

''Kalau sekarangkan gak bisa tegak lurus jalannya karena ada pemukiman warga. Jalur sungai itu menggak-menggok. Ada yang tertutup jembatan, ada yang menyempit. Idealnyakan harus lurus kayak di Eropa,'' jelasnya.

Namun diakuinya, untuk normalisasi sungai ini butuh waktu lama karena berkaitan dengan lahan pemukiman warga. ''Harus koordinasi dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN), dengan warga," pungkasnya.