Penghujung Syuro, Pecinta Pusaka Sucikan Keris dengan Air Jeruk

Bulan muharram (syuro) memiliki arti kesakralan tersendiri bagi beberapa masyarakat. Salah satunya bagi paguyupan pecinta pusaka peninggalan leluhur. Tadi siang (22/9), beberapa paguyuban pecinta pusaka mengadakan acara Jamasan Pusaka dan Sidhikara di Pendopo Wendit, desa Mangliawan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang.
Jamasan Pusaka adalah salah satu kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap bulan syuro oleh warga sekitar untuk melakukan penyucian pusaka, seperti keris dan tombak sebagai bentuk perawatan dari warisan para leluhurnya terdahulu. Ada 125 keris yang dicuci dalam kegiatan tersebut."Jumlah 125 itu masing-masing milik warga Malang raya yang tergabung dari beberapa komunitas pecinta pusaka," kata Ketua Pelaksana acara Jamasan, Ahmad Junaidi.
Ia menyebut beberapa paguyuban pecinta pusaka itu diantaranya Boworoso, Naluri Budoyo, Mergosono, Sastro Budi Budoyo, dan Sabtorenggo. Sementara 125 keris yang disucikan itu pun bermacam-macam jenisnya, diantaranya bethok budho, Kebo Lajer, tilam sari, dan Tilam Upih. Tidak serta merta pusaka yang ada itu disucikan begitu saja, ada ritual-ritual serta alat penyucian khusus yang digunakan dalam acara tersebut."Ritual kami menggunakan pakem Sidhikoro," katanya.
Juned -sapaan akrabnya - menceritakan Pakem Sidhikoro yang digunakan dalam penjamasan tersebut yaitu menggunakan air dari tujuh sumber, air jeruk, bunga setaman dari tujuh sumur, dan Air Kelapa."Yang mengawali ritual penjamasan dalam hal ini Ki Bocel," tutupnya. Tidak serta merta pusaka yang ada itu disucikan begitu saja, ada ritual-ritual serta alat penyucian khusus yang digunakan dalam acara tersebut."Ritual kami menggunakan pakem Sidhikoro," katanya.
Reporter : Hafis Iqbal
Editor : Irham Thoriq
