News
·
23 November 2020 18:35

Plengsengan Jembatan Kedungkandang Ambrol, Polresta Malang Kota Angkat Bicara

Konten ini diproduksi oleh Tugu Malang
Plengsengan Jembatan Kedungkandang Ambrol, Polresta Malang Kota Angkat Bicara (313794)
Pelaksana proyek Jembatan Kedungkandang saat melakukan pengurukan tanah pasca plengsengan ambrol, pada Senin (23/11/2020). Foto: Ulul Azmy
MALANG - Ambrolnya plengsengan di proyek Jembatan Kedungkandang Kota Malang, dipastikan tidak beresiko terhadap progres pembangunan jembatan yang baru dimulai pada Juni 2020 lalu itu.
ADVERTISEMENT
Hal ini diungkapkan Plh KBO sekaligus Kasubnit I Unit IV Satreskrim Polresta Malang Kota, Iptu Rudi Hidajanto, usai meninjau lokasi kejadian.
Dari hasil pengamatan polisi, kata dia, akibat kejadian plengsengan yang belakangan diketahui satu paket pengerjaan dengan jembatan ini, dipastikan tidak berdampak pada proyek utama.
"Kejadian ini dari hasil pengamatan dan koordinasi dengan pihak Pimpro, tidak sampai beresiko tinggi terhadap jembatan. Karena itu kan bantaran sungai, jadi diberi plengsengan. Jauh dari ancaman yang dikhawatirkan,'' ungkapnya, usai meninjau.
Rudi menambahkan, kejadian ini juga dipastikan tidak berimbas pada kerugian anggaran negara karena ini murni sebagai resiko pekerjaan dari rekanan proyek. Perbaikan, menjadi kewajiban pelaksana proyek selama masa kontrak pengerjaan.
"Secara teori hukum, unsur kerugian negara akibat kejadian ini tidak ada. Itu sudah jadi resiko pekerjaan, sudah ada anggaran sendiri, kewajiban dari pelaksana proyek. Jadi, kami dari kepolisian tidak berhak melakukan penyelidikan,'' tuturnya.
ADVERTISEMENT
"Memang terjadi longsor, tapi ini masih dalam masa pengerjaan. Jadi memang masih kewajiban pimpro (pimpinan proyek) untuk memperbaiki. Bahkan sampai setelah diserahkan nanti masih ada kewajiban perawatan hingga bulan Desember tahun 2021 mendatang," imbuhnya.
Lebih jauh, Rudi menjelaskan, penyebab utama ambrolnya plengsengan selebar sekitar 25 meter ini, murni sebab faktor alam.
"Penyebabnya murni karena gangguan alam (force majeure) yang tak menentu, akibat intensitas hujan yang tinggi di hari sebelumnya. Debit air naik hingga kemudian menggerus plengsengan yang belum sepenuhnya selesai ini,'' paparnya.