Konten Media Partner

Pro-Kontra Fenomena Anti-Riba hingga Melawan Riba dengan Kreativitas

14 Mei 2019 13:16 WIB
clock
Diperbarui 6 Agustus 2020 13:18 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi anti-riba. (olah foto tim desainer tugu malang)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anti-riba. (olah foto tim desainer tugu malang)

Liputan Khusus di bulan Ramadan tentang fenomena anti-riba yang kini terjadi di masyarakat. Benarkah bank konvensional mengandung riba?

ADVERTISEMENT
TUGUMALANG.ID - Taufiq Saguanto (40 tahun), warga kelurahan Pisang Candi, Sukun, Kota Malang, merasa ditimpa ujian berat oleh Tuhan pada 2015 silam. Awalnya, dia dipercaya mengelola bisnis keluarganya. Akan tetapi, kepercayaan terhadap Taufiq itu kemudian sirna, hingga tak lagi dipercaya mengelola bisnis tersebut.
ADVERTISEMENT
Begitu juga dengan bisnis yang telah dia rintis sendiri, hancur lebur pada tahun itu. Dia bahkan ditipu oleh salah seorang koleganya. ”Ratusan juta lebih, bolehlah disebut miliaran, saya ditipu orang,” kata Taufiq kepada wartawan tugumalang.id, Selasa (14/5).
Rupanya, segala keterpurukan itu adalah awal dari titik balik kehidupan Taufiq. Sejak kejatuhan dalam hidupnya itu, Taufiq mengintrospeksi dirinya. Lalu, ia merasa salah satu penyebab Tuhan memberikannya ujian adalah karena ia berurusan dengan riba, yang dalam ajaran agama Islam adalah dosa.
Sejak itulah, dirinya berusaha menghindari riba. Dia berkeyakinan bahwa bank konvensional, leasing, hingga kredit perlengkapan rumah tangga adalah riba.
”Riba menurut saya tidak hanya jelek kepada Tuhan, tapi juga menyisakan karakter yang tak bagus, yakni membiasakan orang berutang,” kata dia.
Taufiq Saguanto hijrah dari riba dengan menekuni usaha pengolahan botol bekas. (foto dokumen).
Utang, dalam pandangan Taufiq, adalah sesuatu yang tak bagus. Menurutnya, orang rela berutang hanya demi gaya hidup. ”Semisal membeli mobil, punya uang Rp 20 juta, bisa itu beli mobil baru, tapi selama lima tahun, orang itu disiksa, itu waktu yang lama karena sama dengan pemilihan presiden,” kata Taufiq.
ADVERTISEMENT
Karena merasa prihatin dengan banyaknya orang yang terjerembap di dunia riba, Taufiq kini aktif melakukan pelatihan membuat botol bekas menjadi aneka macam mainan dan miniatur kepada masyarakat. Dengan harapan, masyarakat bisa berdaya dari usahanya sendiri tanpa harus mengandalkan pinjaman bank atau sumber lain yang dianggapnya sebagai riba.
”Kalau oleh Allah sudah merasa dicukupkan, ya cukup. Dengan botol bekas juga, saya ingin menunjukkan kalau usaha itu tidak perlu modal,” kata pria tiga orang anak ini.
Salah satu karya Taufiq Saguanto yang diolah dari botol bekas. (foto dokumen).
Taufiq mungkin hanya satu dari ratusan orang di Malang Raya--atau mungkin juga di daerah lain--yang masuk ke dalam kelompok orang-orang yang ‘hijrah’ dari riba. Dalam Islam, riba adalah pemberlakuan atau penambahan jumlah pinjaman dengan pengembalian berdasarkan presentase tertentu.
ADVERTISEMENT
Karena pengertian ini, para kelompok hijrah anti-riba berkeyakinan bahwa pinjaman dari bank konvensional termasuk riba. Di Kota Malang, para kelompok anti-riba banyak tergabung dalam Komunitas Tanpa Riba (KTR).
Saat ini, komunitas ini berjumlah ratusan orang. Beberapa anggotanya adalah para mantan pegawai bank yang resign karena takut terjerat dosa riba.
Dalam Islam, riba disinggung dalam Alquran di Surat Al Imron ayat 130: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir.” 
Ketua Komunitas Tanpa Riba, Singgih Dwianto, mengatakan komunitasnya berdiri pada tahun 2015. Penggagasnya hanya tujuh orang. ”Jadi, awalnya 7 orang itu merasa hidupnya ada yang salah. Mengapa bisnis bemasalah, atau bisnisnya besar tetapi uang justru tidak ada,” ujar pria berusia 40 tahun tersebut.
ADVERTISEMENT
Para pebisnis tersebut berasal dari berbagai bidang, mulai properti, kuliner, komputer, hingga pegawai bank. Mereka tersadar bahwa mereka terjerat dalam dosa riba. Dalam hal ini, kata Singgih, mereka tidak lagi mengandalkan pinjaman leasing, KPR, lelang, maupun kartu kredit.
“Akhirnya, kita ngobrol dan diskusi, membentuk grup (kelompok) WhatsApp dan sepakat untuk lepas dari dosa riba,” katanya.
Salah satu kegiatan Komunitas Tanpa Riba (KTR), mengajari anak-anak untuk kreatif. (foto: Gigih Mazda/Tugu Malang).
Awalnya grup WhatsApp, lalu mereka juga membuat grup Facebook. Seiring waktu, KTR semakin berkembang, kini jumlah mereka sudah ratusan yang terbagi ke dalam 15-16 grup. “Mungkin masing-masing (grup) bisa mencapai 200 orang,” bebernya.
Selain itu, Singgih dan rekan-rekannya juga percaya bahwa sedekah adalah salah satu cara untuk menghindari atau membersihkan diri dari dosa riba. Ia mengungkapkan bahwa banyak jenis sedekah yang bisa dilakukan seperti infaq hingga juga wakaf.
ADVERTISEMENT
”Biasanya, kami rutin untuk melakukan sedekah subuh. Sebab cara terbaik untuk menghancurkan dosa riba adalah dengan sedekah,” imbuh Singgih.
Maksud dari ‘sedekah subuh’ yang rutin dilakukan oleh KTR adalah dengan membagikan ratusan bungkusan nasi setiap subuh. ”Tapi kalau bulan Ramadan sekarang ini kami membagikannya ketika jelang berbuka,” katanya.
Menurut Singgih, mengajak banyak orang untuk menghindari riba lewat sedekah adalah jalan yang terbaik. ”Sebab jika kita bergerak untuk anti-riba kan susah, oleh karena itu kita masuk lewat sedekah,” imbuh alumnus Jurusan Teknik Elektro, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), tersebut.
Ia juga menjelaskan bahwa salah satu bentuk sedekah mereka juga berupa ambulans gratis bagi yang membutuhkan. Selain itu, Singgih juga menceritakan bahwa pihaknya juga kerap melakukan diskusi dan mencari solusi bagi semua orang yang terjerat riba.
ADVERTISEMENT
Latih Kreativitas Anak
Untuk mengindari riba, Komunitas Tanpa Riba sendiri juga memiliki banyak kegiatan. Selain pertemuan rutin dan sedekah subuh, pihaknya juga membuat pelatihan kreativitas anak.
”Sebab untuk anak fungsinya adalah untuk mendidik agar kreativitas mereka berkembang dan menjadi pengusaha,” kata Singgih.
Salah seorang anak saat mengikuti kegiatan Komunitas Tanpa Riba (KTR).(foto: gigih mazda/tugu malang).
Hal itu juga tampak saat tugumalang.id menghadiri langsung pelatihan tersebut di Masjid Peradaban Asy Syafaat, Tasikmadu, Kota Malang. Anak-anak tampak sibuk memotong botol bekas dan mengkreasikannya untuk dijadikan sebagai kerajinan tangan.
”Jadi anaknya melakukan ini untuk melatih kreativitas, sedangkan orang tuanya mengaji. Sedangkan setelah magrib dilakukan diskusi,” ujarnya.
Diskusi tersebut membahas terkait masalah lelang, utang leasing, pinjaman online, dan sebagainya. “Jadi kita diskusikan, mencarikan mereka solusi. Bahwa solusi riba ini adalah kembali ke jalan Allah,” tandasnya.
ADVERTISEMENT
Tanggapan MUI Kota Malang
Ketua Bidang Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Malang, KH Drs KH Chamzawi M,HI, mengatakan bahwa persoalan riba memang kerap menimbulkan pro dan kontra. Menurutnya, Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat sudah menegaskan bahwa bank konvensional menerapkan sistem riba dalam transaksinya.
”Makanya umat Islam diminta menggunakan perbankan syariah,” kata pria yang juga Rais Syuriah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Malang itu.
Namun, ada juga sebagian ulama yang tetap memperbolehkan pinjam-meminjam di bank konvensional. ”Ada yang memperbolehkan dengan alasan, kalau bunga yang dibayar oleh peminjam tidak terlampau besar,” kata KH Chamzawi.
Ikuti story lain tentang fenomena anti riba di tugumalang.id atau kumparan.com/tugumalang
ADVERTISEMENT
Reporter : Gigih Mazda
Editor : Irham Thoriq