Konten Media Partner

Ricky Kayame, Patriot Bola dan Sang Juara

Tugu Malangverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Foto Ricky Kayame. (foto: Instagram Arema FC Official).
zoom-in-whitePerbesar
Foto Ricky Kayame. (foto: Instagram Arema FC Official).

Esai oleh Yunan Syaifullah

Ricky Kayame adalah ancaman dan menjadi sosok yang menebarkan ketakutan bagi Persebaya. Sorot mata sejumlah pemain Persebaya penuh intaian tajam dan tidak bersahabat kepada pemain kelahiran 21 September 25 tahun silam itu. Meski Kayame pernah menjadi bagian penting dari Persebaya pada kompetisi Liga 1 lalu. Kayame juga dikenal dekat dan akrab dengan seluruh pemain Persebaya saat bersama Persebaya.

Faktor pernah menjadi bagian penting dari Persebaya menjadi perhatian hampir sebagian besar pemain Persebaya saat pertandingan final leg 1 tersebut. Kayame adalah ancaman berarti. Terlebih, selama bergabung dengan Arema, Kayame berada pada peak performance-nya.

Selama babak 8 besar dan semifinal, Kayame benar-benar menjadi 'bintang' dan kunci kemenangan Arema atas lawan-lawannya. Bahkan, Kayame memiliki 2 dari 7 peluang besar yang bisa mengantarkan kemenangan Arema dalam leg 1 tersebut. Kondisi yang ditampilkan itulah Kayame menjadi sosok yang bisa menakutkan lawan. Tidak jarang dirinya harus dihadang dengan berbagai cara agar tidak mendekati pertahanan Persebaya.

Derbi klasik memang diwarnai banyak kisah menarik. Menjadi rugi untuk tidak disimak. Tidak hanya semata soal bola yang dimainkan di lapangan. Namun juga masalah di luar lapangan yang tidak berhubungan langsung dengan bola mampu memberikan andil tentang dinamika pertandingan.

Ribuan bahkan jutaan mata yang tertuju satu titik: Gelora Bung Tomo Surabaya. Baik datang langsung untuk merasakan aura pertandingan derbi. Maupun duduk dan fokus di depan siaran langsung salah satu stasiun televisi swasta. Mengaktifkan layar monitor i-pad atau laptop untuk menyimak laga klasik melalui saluran streaming. Kemacetan terurai. Jalanan sepi. Kantor senyap. Kemacetan hanya terjadi pada titik menuju stadion atau saluran frekwensi televisi atau streaming.

Sepak bola mampu menghopnotis saluran kehidupan. Sepak bola mampu menyatukan perbedaan atas nama fanatisme. Itulah fragmentasi bola. Meminjam istilah Franklin Foer (2004), memahami kehidupan lewat sepak bola.

Derbi klasik dalam leg 1 Final Presiden 2019 setidaknya sukses ekonomi mampu diraih. Pendapatan kotor hasil pertandingan mampu meraih angka 2,5 milyar rupiah. Bisnis turunan dari sepak bola terbangun. Pedagang asongan lebih dari 370 pelaku beredar. Belum lagi usaha parkir. Usaha Transportasi pun memperoleh imbasnya.

Sepak bola tidak hanya masalah di lapangan. Karena itu, tidak salah seorang Franklin Broer hingga mengatakan dibalik sepak bola ada kehidupan menarik untuk diamati dan dikaji secara serius.

Sepak Bola selalu diwarnai fragmentasi kehidupan yang terkadang tidak berhubungan langsung dengan masalah teknis di lapangan. Ahli strategi, seni berperang dalam Cina Klasik Jendral Sun-Tzu, meninggalkan pesan berarti bagi siapapun takkala memaknai berkompetisi mengatakan bahwa jangan pernah takut dengan 1000 musuh yang menghadang. Tapi takutlah dan perhatikan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki musuh.

Kayame adalah salah satu kekuatan Arema. Sekaligus, Kayame adalah kelemahan bagi Persebaya karena pernah menjadi bagian dari Persebaya, sehingga Kayame banyak mengetahui banyak hal tentang Persebaya.

Jauh sebelumnya leg 1 dipertandingkan. Laga klasik diliputi dengan berbagai kecemasan dan ketakutan yang menghinggapi banyak kalangan berkaitan dengan masalah pinggir lapangan. Masalah friksi dan konflik antar pendukung karena faktor sejarah masa lalu.

Kondisi pinggir lapangan sedikit banyak menjalar dalam strategi perang dan bertanding keduanya. Keduanya bermain dengan tingkat kehati-hatian tinggi. Bermain tidak dengan hati dan jiwa sebagai patriot bola. Meski, menit ke-8 Irfan Jaya mampu melesakkan gol indahnya setelah mampu berkelit dan melepaskan dirinya dari kerumunan dan kehati-hatian para pemain belakang Arema.

Gol pembuka itulah, akhirnya bisa menyingkap tabir kecemasan dan ketakutan diri pemain kedua kesebelasan. Permainan yang semula cenderung negative sedikit demi sedikit mulai terbuka dan ofensif. Permainan terbuka ditunjukkan keduanya.

Meski secara umum, selama babak awal dilangsungkan mempertontonkan drama yang tidak menarik. Namun, babak awal adalah cermin dan jantung kemenangan. Kondisi babak awal menyadarkan keduanya. Arema dan Persebaya menyadari bahwa masalah pinggir lapangan bukan musuh sesungguhnya dalam pertandingan leg 1 itu. Musuh mereka adalah dirinya sendirinya. Masuk ke lapangan. Bertanding tidak dengan jiwa dan hatinya sebagai patriot bola. Masuk ke lapangan hanya memanggul rasa cemas, ragu, dan takut. Kemampuan bermain bolanya hampir hilang dan tidak terlihat. Mereka memiliki pemain yang levelnya nasional. Strategi pelatih tidak bisa berjalan maksimal.

Senyum begitu mahal dalam diri pemain. Lapangan bola hanya dihuni sepertiga lapangan dari depan gawang. Keduanya menumpuk pemain di wilayah pertahanan. Tidak sedikit pertahanan mereka dan garis tengah berkerumun hingga 5-6 pemain. Arema selama ini memiliki bek sayap yang aktif, penuh inisiatif dan kreator dalam menyerang seperti Johan Ahmad Alfarizi dan Alfin Tuasalamony. Persebaya memiliki Novan Setya Sasongko dan M. Syaifudin. Sepanjang babak awal permainan mereka hampir tidak mempertontonkan kelebihan yang selama ini dimiliki dan ditunjukkan.

Babak kedua, pemain kedua kesebelasan masuk ke lapangan sudah menyadari dirinya adalah patriot bola. Dalam ruang ganti, mereka menyadari bahwa ketakutan dan kecemasan adalah pintu kematian. Ketakutan dan kecemasan dibuang jauh. Mereka bermain hati dan jiwanya sebagai seorang patriot bola.

Menariknya, satu hal yang menonjol dipertontonkan Arema dalam babak kedua bermain dengan hati dan jiwanya sebagai patriot bola dengan jiwa-jiwa yang hidup. Manusia yang dipenuhi dengan jiwa-jiwa yang hidup ciri kuatnya adalah dimilikinya pikiran lepas, tidak dibebani oleh hal lain. Ujungnya, para pemain Arema relatif lebih mudah senyum mengembang.

Kondisi hal itu tidak ada dan tidak diperlihatkan dalam wajah-wajah pemain Persebaya. Kondisi tersebut tidak lepas dari posisi Persebaya sebagai tuan rumah, keinginan hasil maksimal. Kemenangan menjadi harga mati yang tidak bisa dinegosiasi. Selama babak kedua, banyak kekeliruan dan kesalahan dilakukan karena tekanan perasaan yang tersisa tidak mampu disingkirkan.

Laga leg 1 telah dilalui keduanya. Hasil akhir telah diperoleh keduanya. Meski, belum bisa diharapkan. Pemain, Pelatih, Official dan bahkan penonton tertunduk lemas, tidak bergairah dan kecewa. Kekuatan tersisa dari para patriot bola adalah jiwa kstaria. Jiwa inilah yang menjadi keunggulan dalam olah raga apapun, termasuk sepak bola. Patriot bola hanya memiliki dua pilihan. Siap menang dan juara. Siap kalah dan terhormat. Itulah ksatria-nya seorang Patriot Bola.

Patriot Bola masih memiliki kesempatan terakhir untuk mewujudkan dirinya sebagai seorang Kstaria dari Patriot Bola dalam Final Piala Presiden 2019 dalam Leg 2, 12 April 2019 di Stadion Kanjuruhan. Juara secara terhormat ataukah kalah terhormat!

Sarangan Atas, 09/04/19 pukul 23.18

***

*Penulis adalah Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang, Penulis Buku Filosofi Bola, Penikmat Bola.

Foto penulis Yunan Syaifullah.