News
·
22 November 2020 15:48

RSSA Malang Sukses Operasi Bedah Jantung Terbuka

Konten ini diproduksi oleh Tugu Malang
RSSA Malang Sukses Operasi Bedah Jantung Terbuka (64326)
Proses pelaksanaan operasi bedah jantung terbuka melalui prosedur Coronary Artery Bypass Graft (CABG) untuk pasien Penyakit Jantung Koroner di RSSA Malang. Foto: Humas RSSA Malang
MALANG - Penyakit Jantung Koroner (PJK) adalah penyakit paling ditakuti saat ini. Selain tingkat prevalensinya yang tinggi, juga dapat menjadi faktor komorbid (penyakit penyerta) paling parah yang memicu kematian jika pasien juga tertular virus corona.
ADVERTISEMENT
Berbekal keberanian dan langkah tindakan yang tepat, Instalasi Pelayanan jantung Terpadu (IPJT) RSUD Saiful Anwar Malang berhasil melakukan operasi bedah jantung terbuka melalui prosedur Coronary Artery Bypass Graft (CABG) untuk ketujuh kalinya, terhitung mulai Sabtu (21/11/2020).
Terkait teknis operasinya di masa pandemi, pasien yang akan menjalani prosedur operasi diwajibkan melakukan pemeriksaan lab darah, foto rontgen dada, hingga rapid test atau swab test, untuk mengetahui apakah pasien positif terinfeksi COVID-19 atau tidak.
RSSA Malang Sukses Operasi Bedah Jantung Terbuka (64327)
Proses pelaksanaan operasi bedah jantung terbuka melalui prosedur Coronary Artery Bypass Graft (CABG) untuk pasien Penyakit Jantung Koroner di RSSA Malang. Foto: Humas RSSA Malang
Apabila hasil tes menunjukkan positif, maka tim dokter menyarankan agar pasien menunda operasinya, dengan catatan kondisi pasien tidak darurat dan tidak memerlukan operasi dalam waktu cepat.
Pasien yang masih harus menunda operasi akan diberikan obat-obatan untuk menjaga kondisi jantung sembari mengikuti perawatan penanganan COVID-19 terlebih dahulu.
ADVERTISEMENT
Ketua Tim Persiapan Bedah Jantung RSSA Malang, Prof dr Mohammad Saifur Rohman SpJP(K) PhD, mengatakan di era pandemi, PJK seketika menjadi momok. Sebab, PJK dapat menjadi komorbid (penyakit penyerta) yang memberatkan kondisi pasien apabila sampai terinfeksi virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19.
"Pada kasus yang tidak dapat lagi ditangani dengan obat-obatan, maka tindakan invasif menjadi satu-satunya opsi, entah itu lewat pemasangan stent ataupun bedah jantung,'' ungkapnya melalui keterangan tertulis, pada Sabtu (21/11/2020).
Lebih jauh, pasien yang dilakukan tindakan bedah jantung terbuka ialah mereka yang mengalami kelainan pembuluh darah sehingga tidak mungkin lagi dipasang ring atau berisiko tinggi apabila dipasang ring.
“Bedah jantung terbuka ini diharapkan menjadi sokoguru dalam menunjang pelayanan jantung di Kota Malang yang di support penuh oleh (rumah sakit) Saiful Anwar dan di bawah pengawasan dan pelaksanaan dari IPJT,” harapnya.
ADVERTISEMENT
Ditambah, eskalasi pasien jantung di Kota Malang terbilang tinggi, sehingga seringkali harus merujuk pasien ke rumah sakit besar di Surabaya atau Jakarta. Ada sekitar 1.000-2.000 pasien dengan 10 persen diantaranya pasti butuh tindakan bedah.
“Dengan adanya bedah jantung terbuka ini, maka pasien tidak perlu lagi harus segera dirujuk ke Surabaya atau Jakarta," ujarnya.
Dalam pelaksanaan bedah jantung terbuka ini berkolaborasi dengan tim dari RSUD Dr Soetomo Surabaya, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, serta Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya secara multidispiliner lewat konferensi bedah. Meliputi dokter bedah jantung, dokter anestesi, critical care, jantung intervensi, dan juga keperawatan.
Sementara itu, Kabid Pelayanan Medik RSUD Dr Saiful Anwar, dr Widodo Mardi Santoso SpS(K), mengatakan prosedur ini merupakan kontribusi terbaik dari kedua rumah sakit kepada masyarakat Jawa Timur untuk meningkatkan kesejahteraan dari segi kesehatan.
ADVERTISEMENT
“Ini sebagai bakti dari Aparatur Sipil Negara dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Harapan kami agar pihak-pihak terkait, khususnya RSUD Dr Saiful Anwar, dapat meningkatkan kemampuan sehingga prosedur CABG ini kedepannya dapat dilakukan secara mandiri di Malang dan di RSUD Dr Saiful Anwar,” tandas Widodo.
Sebagai informasi, PJK merupakan salah satu penyakit tidak menular (non-communicable disease) yang menempati prevalensi tertinggi di Indonesia berdasarkan Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018.
Ditinjau menurut jenis kelamin, prevalensi PJK lebih tinggi pada perempuan (1,6 persen) dibandingkan laki-laki (1,3 persen). Setidaknya tiap 15 dari 100 orang, atau sekitar 2.784.064 individu di Indonesia menderita penyakit jantung.