Konten Media Partner

Sandyasa, Pelopor Laundry Sepatu Bayar Seikhlasnya di Malang

Tugu Malangverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sandyasa,22 tahun, saat berada di tempat usahanya. foto: irham thoriq/tugumalang.id
zoom-in-whitePerbesar
Sandyasa,22 tahun, saat berada di tempat usahanya. foto: irham thoriq/tugumalang.id

MALANG- Sandyasa,22 tahun, terlihat sibuk ketika ditemui di tempat kerjanya di Jalan Sanan Nomor 12, Purwantoro, Blimbing, Kota Malang, rabu (19/2). Sambil mengenakan masker, ketika itu dia sedang fokus membersihkan sepatu dari kliennya.

Ya, seperti itulah aktivitas sehari-harinya dalam satu tahun belakangan. Dia adalah pendiri seikhlasnyashoes. Sesuai namanya, usaha ini adalah usaha laundry sepatu yang dibayar dengan seikhlasnya.

”Jadi orang naruh sepatunya, kalau sudah selesai mereka bayar seikhlasnya, biasanya mereka bayar dengan cara memasukkan uang di dalam amplop, lalu dikasihkan ke saya,” kata Sandyasa.

Sandyasa,22 tahun, saat berada di tempat usahanya. foto: irham thoriq/tugumalang.id

Dia bercerita awal mula memulai usaha pada 20 Februari 2019 lalu. Ketika itu, dia sudah merasa bosan kerja di salah satu perusahaan jasa pengiriman barang. Karena itulah, dia ingin membuka usaha yang bergerak dibidang jasa.

”Alasan dibidang jasa, karena memang tidak punya modal untuk buka usaha lain,” katanya.

Maka, dipilihlah usaha dibidang laundry sepatu. Dia lantas mencari, lalu apa bedanya dengan usaha laundry sepatu serupa.

”Lalu, tercetuslah usaha laundry sepatu seikhlasnya ini, saya cari di google dan instagram, yang bayar seikhlasnya Cuma di sini se-Indonesia,” kata pria yang masih lajang ini.

Sandyasa,22 tahun, saat berada di tempat usahanya. foto: irham thoriq/tugumalang.id

Awal mulanya, dia mengakui bahwa bayar se-ikhlasnya ini sebagai cara untuk menjaring konsumen. Tapi, seiring berjalannya waktu, dengan model ini, dia ingin memberi manfaat kepada banyak orang.”Karena sekarang sepatu sudah jadi gaya hidup, dan saya ingin membantu orang agar bisa membersihkan sepatunya, sekalipun dia tidak punya uang,” imbuhnya.

Lalu, bagaimana soal keuntungan? menurut dia, meski bayar seikhlasnya, tapi usahanya tetap meraih untung.”Buktinya bertahan sampai satu tahun ini,” katanya lantas tertawa.”Untuk costumer, rata-rata setiap laundry bayar Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu, bahkan ada yang bayar seratus ribu, kalau yang bayar dikit seperti lima ribu rupiah, jarang,” imbuhnya.

Bahkan, saat ini usahanya sudah punya sepuluh cabang yakni ada di Buring, Kota Malang, Singosari, Pakis, dan Turen, Kabupaten Malang, Kediri, Jogjakarta, Jakarta, Surabaya dan Batu.”Tapi ini jangan dibayangkan setiap cabang ada ruko-nya ya, kebanyakan dikerjakan dari rumah oleh partner di daerah itu,” katanya.

Hasil dari laundry sepatu yang dikerjakan oleh Sandyasa. foto dokumen.

Dengan partner di daerah lain itu, dia bagi hasil.”Saya dapat 25 persen dari omzet, selain support sistem dan nama brand, saya support perlengkapan seperti bahan dan alat untuk laundry sepatu,” imbuhnya.

Sedangkan untuk di tempat usahanya yang dia kelola sendiri, dia kelola dengan partnernya yang juga calon istrinya."Kita belum punya karyawan, jadi memang masih dikerjain semuanya," ucap lulusan Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Terbuka (UT) ini.

Dia berharap usahanya bisa terus berkembang, karena menjadi pengusaha sukses, adalah mimpinya.”Karena saya tidak bisa ikut orang, makanya harus sukses di usaha sendiri,” pungkasnya.