Konten Media Partner

Sayur Petani di Malang Tak Laku, 8 Orang Ini Bantu Jual Tanpa Laba

Tugu Malangverified-green

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Obral sayur. Foto: dok.
zoom-in-whitePerbesar
Obral sayur. Foto: dok.

MALANG - Beberapa waktu lalu, jagat maya dihebohkan dengan aksi para petani yang membagi-bagikan sayur secara gratis kepada pengendara kendaraan yang lewat. Bahkan, ada sayuran yang juga dibuang. Diketahui, kejadian tersebut terjadi di Kabupaten Malang akibat sayur para petani tak laku terjual akibat pandemi COVID-19.

Kejadian tersebut menyentuh hati 8 orang relawan yang dengan ikhlas membantu menjualkan sayur para petani. Bahkan, mereka menjual tanpa mengambil laba sepeserpun.

"Berawal dari viral pedagang buang sayur, jadi saya dan 7 orang lain berinisiatif membantu jual hasil kebun para petani di daerah Pakis, Tumpang, dan Poncokusumo," terang salah seorang relawan, Eko Cahyono, pada Kamis (21/5/2020).

Mengangkut sayur menggunakan ambulance. Foto: dok.

Eko menceritakan, awalnya mereka menghubungi 5-6 petani untuk menjualkan hasil pertaniannya.

"Awalnya kami hutang dulu karena tidak ada uang. Lalu saat dijual ke kampung-kampung dan perumahan ternyata laris. Jadi keesokan harinya kita berikan hasilnya ke petani," ungkap Eko..

"Teknisnya para petani kirim sayurannya ke kita sekitar pukul 11.00-12.00 WIB. Lalu kita packing dan kita bersihkan lalu kita keliling pukul 13.00 WIB untuk jual ke perumahan dan warga. Tapi kadang lewat sosmed via grup WhatsApp atau Instagram," jelas Eko.

Founder Perpustakaan Anak Bangsa ini menyadari, ternyata banyak ibu-ibu dari Dau, Lawang, Singosari, dan Sengkaling yang tertarik pada dagangannya.

"Ternyata mereka mau beli asal ada yang mengantarkan ke rumahnya. Sehingga dalam sehari kita bisa jual sampai 400 ikat sayur. Bahkan kadang sampai kurang-kurang," sambung Eko.

Dia dan kawan-kawannya menjual sayur tersebut sesuai dengan harga dari petani yaitu Rp 10 ribu. Mereka tidak mengambil untung sedikitpun, karena tujuan mereka agar sayur itu tidak dibuang.

"Dan kenapa sayur ini tidak laku, ternyata yang biasa mengambil sayur mereka di pasar Kedungboto ini adalah juragan-juragan dari Sidoarjo, Mojokerto, dan Surabaya. Tapi karena PSBB para juragan itu tidak bisa masuk ke Malang. Otomatis dagangan mereka tidak ada yang beli," ungkap Eko.

Saat ini, akhirnya Eko dan kawan-kawan dipinjami ambulans lengkap dengan bensinnya oleh salah satu yayasan. "Jadi kita kerja tenaga aja, yang terpenting sayur terjual," jelasnya.

Selain sayuran, 8 relawan ini juga ikut membantu menjualkan buah jeruk milik petani yang tidak laku.

"Sebelumnya petani gak mau panen jeruk karena tidak laku dan harganya cuma Rp 1.000 atau Rp 1.500. Lalu kita packing per kg dan kita jual Rp 5.000 sampai Rp 7.000. Ternyata orang-orang di perumahan mau," imbuh Eko.

Biasanya, Eko dan kawan-kawannya melakukan drop sayur dan jeruk di Cemorokandang, Sawojajar, Dau dan masih banyak lagi.

Akhirnya setelah beberapa hari membantu menjualkan sayuran tanpa laba. Ada seorang donatur yang dengan sukarela membeli sayuran para petani untuk dibagikan gratis kepada warga Malang.

Sehingga, mulai dari hari Kamis kemarin, Eko dan kawan-kawannya membagikan sayuran satu mobil ambulans secara gratis ke warga.