Konten Media Partner

Sehari, Produksi Sampah di Malang Bisa Tutup Lahan Seluas 13 Hektare

Tugu Malangverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Infografis tentang sampah di Kota Malang.
zoom-in-whitePerbesar
Infografis tentang sampah di Kota Malang.

Dalam rangka memperingati Hari Peduli Sampah Nasional yang jatuh hari ini (21/2), tugumalang.id sebagai partner resmi kumparan.com, membahas tentang sisi lain pengelolaan sampah di Kota Malang. Berikut laporan berserinya.

”Satu hari, cukup untuk menutupi Lapangan Rampal,” kata Hendra Goenawarman, kepala seksi (Kasi) Kebersihan di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang menganalogikan banyaknya produksi sampah warga Kota Malang.

Lapangan rampal adalah lapangan olahraga milik militer terluas di Malang Raya. Luasnya sekitar 13,7 hektare. Dalam sehari, sampah di Kota Malang jika dijadikan satu, bisa untuk menutup lapangan seluas itu.

Ya, karena perhari sampah yang diproduksi sebanyak 650 ton per harinya.”Dan jumlah itu hanya yang dikelola dan ditangani oleh Pemkot (Malang), itu belum produksi sampah dari kabupaten (Malang), pihak swasta, dan masyarakat yang dibakar atau dibuang ke sungai,” beber pria yang karib disapa Hendra tersebut. Jumlah tersebut hanyalah sampah yang pihaknya tangani yang akhirnya dibuang di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Supiturang, Sukun, Kota Malang.

Dari total 38 armada truk sampah yang dimiliki oleh DLH Kota Malang, pihaknya mengaku bahwa dalam satu hari terdapat lebih dari 100 rit (bongkar muat sampah). Artinya, jika dihitung produksi sampah sebanyak 650 ton, dalam sekali angkut, truk tersebut bermuatan 6 ton sampah.

Pria berusia 41 tahun tersebut menjelaskan bahwa masalah sampah di Kota Malang ini memang sulit ditangani lantaran kesadaran masyarakat akan lingkungan dan sampah ini begitu kurang. ”Intinya warga sebagai penghasil sampah, tetapi mereka tidak mau dekat dengan sampah,” ujarnya.

Menurutnya, kesadaran masyarakat terkait penggunaan plastik di Malang masih sangat rendah. “Karena sampah plastik ini yang paling susah untuk ditangani. Berbeda dengan sampah organik yang bisa diolah jadi kompos,” terangnya.

Menurutnya, sampah plastik dan styrofoam menjadi masalah utama adalah banyaknya sebaran sampah yang memang mendorong masyarkat untuk memproduksi sampah.”Sebaran sampah di Malang banyak, misalnya ke toko kelontong pakai kantong plastik, mini market, pasar, semuanya menggunakan kantong plastik yang nantinya ini jadi sampah,” bebernya.

Meski dirinya mengungkapkan bahwa mungkin sudah ada pihak yang telah sadar untuk tidak lagi menggunakan gelas plastik atau wadah styrofoam, namun kesadaran masyarakat dinilainya masih begitu rendah.”Tapi tu jumlahnya sebenarnya tidak seberapa,” lanjut pria asli Ciliwung, Kota Malang itu.

Lalu, bagaimana pengelolaannya? Ia menjelaskan bahwa saat ini memang sukar untuk mengolah sampah. Apalagi, alternatif pembakaran sampah juga berdampak buruk bagi kesehatan.”Serba susah, sebab alternatif dibakar menggunakan incinerator ternyata dari KLHK (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, red) juga melarang karena gas hasil pembakaran dapat meningkatkan risiko kanker,” terangnya.

Sebenarnya, di TPA Supiturang, Kota Malang telah memiliki Intermediate Treatment Facility (ITF), sebuah fasilitas untuk pengolahan sampah, memisahkan sampah organik, non organik, dan juga sampah yang bisa didaur ulang agar tidak terjadi terlalu banyak penimpuban sampah ke TPA.

Namun, ITF tersebut tidak bisa menangani seluruh sampah yang diproduksi oleh masyarakat yang begitu banyak. “Sebab kapasitasnya kecil. Mungkin dalam satu hari hanya bisa untuk 4 truk sampah. Padahal jumlah sampah kami bisa mencapai 100 truk lebih,” terangnya.

Kepala Seksi Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang Hendra Goenawarman saat menunjukkan truk compactor yang mempunyai alat sebagai penggilingan sampah.

Oleh karena itu, pihaknya berharap agar masyarakat bisa sadar terkait semboyan 3R, yakni reduce (mengurangi), reuse (memakai ulang), dan recycle (mengolah kembali). “Sebab pengolahan sampah ini sebenarnya kuncinya adalah dari masyarakat. Sebab walaupun ada ITF dengan kapasitas besar, jika masyarakatnya tidak sadar ya tetap akan sukar mengejar,” terangnya.

Ia mengimbau agar masyarakat harus bisa memisahkan antara sampah organik dan non organik, ataupun dengan metode lebih baik yakni dengan mengurangi penggunaan plastik. Ayo, peduli sampah!.

Reporter : Gigih Mazda

Editor : Irham Thoriq