Sudah Siap Nongkrong di Coworking Space Kota Malang?

MALANG – Pandemi Covid-19 masih belum usai. Hampir semua sektor usaha, pendidikan, ekonomi kreatif, pariwisata dan lainnya terdampak. Jika Covid-19 usai, apakah sudah siap nongkrong di co-working space Kota Malang?

Dalam rangka HUT ke-107 Kota Malang tahun 2021 ini, Pemkot Malang tak lelah melakukan inovasi dalam banyak aspek. Salah satunya upaya pengembangan ekonomi kreatif oleh Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang. Pihaknya berkomitmen terus menggali dan mewadahi potensi kreatif remaja di Kota Malang. Hal itu disampaikan Kepala Disporapar Kota Malang, Dr. Ida Ayu Made Wahyuni, SH., M.Si pada Selasa (30/3/2021).
“Guna menggali potensi kreativitas anak muda, kami membangun co-working space di sejumlah titik,” ujar Ida.
Ida menyebut ada 4 lokasi co-working space yang saat ini sedang dikembangkan Disporapar di 4 kecamatan, yakni Klojen, Sukun, Kedungkandang, dan Blimbing. Sementara untuk Kecamatan Lowokwaru, kata Ida, pihaknya masih terkendala lokasi. Co-working space menurutnya akan menjadi tempat asik dan nyaman bagi remaja kreatif bekerja, tentunya setelah pandemi Covid-19 usai. “Untuk di Lowokwaru, rencananya di Museum MPU Purwa, atau di RTH Jalan Sudimoro,” jelasnya.
Ida menyebut sebagai salah satu kota kreatif nasional, Kota Malang memiliki anak muda yang berpotensi di sektor game dan aplikasi sebagai prioritas. Didukung dengan subsektor film, video, dan animasi maupun kuliner yang tak ketinggalan. "Ekonomi kreatif (ekraf) di Kota Malang saat ini sudah mulai bangkit, malah sektor-sektor ekraf yang membantu jalannya sektor pariwisata. Kegiatan ekraf yang nuansanya kuliner, kriya, fesyen itu sudah mulai gerak," tambahnya.
Sejauh ini, lanjut Ida, hal tersebut seiring dengan adanya event skala kecil, destinasi wisata, kampung tematik maupun sektor perhotelan di Kota Malang yang tampak kembali menunjukkan eksistensinya.
"Pelan-pelan, kita harus membuat acara yang dikembangkan oleh kampung-kampung tematik di Kota Malang. Tentunya protokol kesehatan (prokes) harus betul-betul diterapkan sehingga faktor trust (kepercayaan) wisatawan terhadap fasilitas wisata kita meningkat," tukas dia.
Pihaknya juga telah mendata ada sekitar 50 acara yang akan digelar mulai bulan April hingga November 2021 mendatang. Di mana, 40 acara berasal dari 21 kampung tematik yang memiliki Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). "Sisanya ada acara seperti Malang Flower Carnival dan beberapa acara dari Dinas Budaya yang dikemas oleh hotel," jelas dia.
Sementara itu, Wali Kota Malang, Drs. H. Sutiaji menyatakan baik sektor ekonomi dan pariwisata digadang-gadang secara nasional akan menjadi lokomotif yang mampu menggerakkan perekonomian. "Penyiapan berbagai destinasi dan infrastruktur pendukung yang memenuhi cleanliness, health, safety & environment sustainability (CHSE) menjadi bagian adaptasi sektor pariwisata," ujarnya.
Diketahui, hingga tahun 2020 sudah ada 39 pelaku industri pariwisata Kota Malang yang memenuhi standar tersebut dan siap bersaing. Demikian halnya penguatan fisik destinasi wisata, seperti Kampung Kayutangan Heritage hingga rencana pengembangan Alun-Alun Kedungkandang.
Belum lagi secara suprastruktur, kurikulum pendidikan pun diarahkan agar makin relevan dengan kebutuhan industri digital saat ini. Malang Creative Center yang sudah dibangun agar dapat menjadi ruang inkubasi ekonomi kreatif yang berdampak luas.
"Dengan berbagai sinergi tersebut, Kota Malang optimis akan menatap masa depan yang lebih cerah dan sejahtera. Tentu tetap dengan menerapkan protokol kesehatan juga PPKM Mikro yang masih terus berjalan," pungkasnya.
