Survei: 88,5 Persen Mahasiswa Merasa Bosan Belajar di Rumah

Social dan physical distancing karena wabah COVID-19 benar-benar sudah mendisrupsi kehidupan masyarakat, tak terkecuali bagi mahasiswa. Oleh karenanya, tim tugumalang.id (partner kumparan.com) bersama kelompok riset I-READ Center of Educational and Social Studies membuat riset tentang kebosanan mahasiswa, pemanfaatan waktu luang, dan jenis konten informasi apa saja yang diminati ketika belajar di rumah.
Hasilnya adalah, 330 responden yang menanggapi survei pada Senin (13/4) menyebutkan bahwa 88,5% mahasiswa merasa bosan menjalankan physical dan social distancing dengan belajar di rumah. Sedangkan yang merasa tidak bosan melakukan kegiatan di rumah hanya 11,5% dari 330 responden tersebut.
Tim tugumalang.id dan I-READ juga bertanya kepada 330 responden mahasiswa apakah alasan mereka bosan di rumah. Dari survei ini, terdapat alasan yang paling kuat ialah merasa bosan karena tidak bertemu teman dengan persentase sebesar 58,8%. Alasan terkuat kedua ialah banyak mahasiswa yang tidak bisa membuat kegiatan kemahasiswaan dengan persentase sebesar 20,3%. Ada juga sebanyak 14,5% menjelaskan jika merasa bosan karena tidak bisa ngopi atau nongkrong. Sisanya ialah merasa tidak bisa ke perpustakaan.
Konsekuensi dari kegiatan belajar mandiri karena pembatasan fisik dan sosial, peneliti mendapatkan data tentang asal media sosial yang sering digunakan untuk belajar mandiri. Peneliti mencatat 44,2% mahasiswa mencari sumber informasi dari website. Disusul dengan Instagram dengan persentase sebesar 27,6%. Selain itu, mahasiswa yang menggunakan YouTube 16,7%, serta dua sumber lain didapatkan dari Twitter 9,4% dan Facebook 2,1%.
Dari media sosial yang digunakan sumber belajar mandiri, konten apa saja yang sering dicari oleh mahasiswa? Data yang direkap I-READ 37% survei tertinggi menunjukkan mahasiswa mencari konten tentang perkembangan COVID-19 atau Coronavirus. Kedua, 30% mahasiswa mencari konten tentang penelitian. Sedangkan untuk konten politik dan pemerintahan mendapatkan angka 8,8% dan 7,6% tentang peristiwa di daerah. Ada juga yang mencari informasi tentang olahraga dan kesehatan sebanyak 6,7% Untuk artis, I-READ mencatat hanya 5,2% mahasiswa yang mencari informasi tentang artis. Sisanya menjawab lain-lain sebanyak 4,8%.
Ditanya tentang kegiatan mengisi waktu luang saat menjalani pembatasan fisik dan sosial, paling tinggi memilih opsi medsos-an sebesar 48,2%. Ada pula mahasiswa yang memilih 19,9% untuk membaca buku atau e-book. Sebanyak 13,5% mahasiswa memilih tidur dan main game sebesar 10,2%. Sisanya sebesar 8,3% memilih untuk menulis.
Menanggapi hasil survei tersebut, pakar pendidikan dari IKIP Budi Utomo, Malang Dr. Sakban Rosidi menerangkan mungkin bukan sekadar bosan, tetapi memang tidak bisa berkonsentrasi lebih lama. Sakban merujuk pada studi yang pernah dibuat oleh Microsoft dan mendapati kesimpulan mengejutkan, bahwa manusia sekarang cenderung menurun kemampuan fokusnya, dari yang semula 12 detik di tahun 2000, menjadi 8 detik di tahun 2013.
“Iya sekitar lima tahun lalu saya tahu itu,ini lebih rendah dari ikan koki, yang mampu fokus 9 detik,” beber Sakban.
Ketidakhadiran secara fisik dosen dalam video conference, kata Sakban, menjadikan mahasiswa merasa leluasa untuk melakukan apa saja tanpa diketahui oleh dosen. Nah, itu mencakup tak hanya cara latar belakang, busana, dan perhatian, tetapi juga tingkah laku yang sungguh bisa mengganggu konsentrasi dosennya juga.
“Jadi ini bukan sekadar soal bosan atau tidak bosan, yang jelas sangat membosankan,” tambah Direktur Pascasarjana IKIP Budi Utomo Malang ini.
Belum lagi, ia juga menyebutkan kondisi ini diperparah oleh kesombongan mahasiswa yang merasa bisa multitasking. Bagaimana maksudnya? Sakban menjelaskan mahasiswa kemungkinan merasa bisa mengikuti perkuliahan sambil melakukan kegiatan lain, yang pasti lebih menarik sesuai prinsip spontaneous attention.
Belum lagi, imbuh Sakban, memang kebanyakan dosen tidak bisa menyegarkan suasana perkuliahan. Ini mengingatkan betapa penting bagi dosen bisa berhumor, bisa bernyanyi, bisa baca puisi, atau bisa berakting layaknya artis yang mendapatkan voluntary and spontaneous attention dari mahasiswa. Karena ada tantangan berat dari pembelajaran ke masa depan, yakni pesona guru dan dosen bisa jadi kalah dengan bintang iklan, youtuber, artis yang menjadi bagian dari kehidupan virtual yang tidak bisa dielakkan lagi.
“Ini soal role model, pendidik harus bisa membuat belajar daring lebih segar,” kata Sakban Rosidi.
Menanggapi alasan kebosanan mahasiswa menjalankan physical distancing, Sakban melihat fenomena ini dari teori belajar orang dewasa tentang kebutuhan sosial manusia. Sakban menegaskan temuan ini sejalan dengan temuan motivasi belajar manusia, khususnya manusia dewasa.
“Memang mengejutkan, ternyata cukup banyak warga belajar itu mau berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran bukan karena materinya atau kompetensi yang ditawarkannya, tetapi juga karena semacam kenikmatan sosial, dalam arti senang bergaulnya itu. Dan dalam kenyataanya, dari ketiga jenis motivasi terpenting (power, prestasi dan afiliasi), ternyata justru kebutuhan afiliasilah yang sangat mempengaruhi perilaku manusia,” pungkasnya.
------------------------
kumparanDerma membuka campaign crowdfunding untuk bantu pencegahan penyebaran corona virus. Yuk, bantu donasi sekarang!
