Konten Media Partner

Survei: Saat Mahasiswa di Malang Memilih antara Loe-Gue dan Ayas-Umak

Tugu Malangverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi bahasa loe dan gue. Ilustrasi: desainer tugumalang.id
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bahasa loe dan gue. Ilustrasi: desainer tugumalang.id

Apa daya tarik Kota Malang? Mungkin ini menjadi salah satu daftar pertanyaan yang kerap kali ada di dalam benak masyarakat, terlebih kepada calon mahasiswa baru. Sebutan Kota Pendidikan ini kerap terdengar di telinga.

Akhir-akhir ini, Malang mulai menarik perhatian pelajar dari Ibu Kota Jakarta. Mulai berdatangannya mahasiswa asal ibu kota ini, apakah berpengaruh terhadap kehidupan warga Malang? Khususnya perbedaan bahasa dan dialek bahasa.

Jika di Jakarta terbiasa dengan Loe-Gue, maka Malang punya kekhasan bahasa walikan, seperti Ayas-Umak (saya-kamu). Bagaimana tanggapan mahasiswa di Malang jika mendengar temannya yang bukan berasal dari Jakarta menggunakan dialek ‘loe-gue’? Berikut hasil survei yang dilakukan oleh tim tugumalang.id.

Ada lima pertanyaan yang diajukan oleh tim tugumalang.id dalam melakukan survei. Survei ini pun dilaksanakan dengan waktu cukup singkat, yakni mulai pukul 13.00 WIB hingga pukul 18.00 WIB, Jumat (29/8).

Dalam waktu lima jam itu, ada 50 responden yang mau memberikan jawaban. Daftar pertanyaan yang disajikan kepada mahasiswa dan masyarakat Malang ini berisi tentang pendapat mahasiswa jika ada temannya yang mulai ikut-ikutan 'loe-gue'; asal pengaruh dialek 'loe-gue'; asumsi apa yang membuat mahasiswa Malang terpengaruh gaya 'loe-gue'; Bagaimana eksistensi bahasa ayas-umak dibanding 'loe-gue'; dan kata walikan apa yang masih sering didengar mahasiswa Malang.

Survei digelar melalui jaringan media sosial. Salah satunya, di grup WhatsApp komunitas Mahasiswa Menulis, sebuah komunitas bentukan tugumalang.id. Menjawab pertanyaan pertama, ketika mahasiswa di Malang mendapatkan pertanyaan tentang teman-temannya asli Jawa yang menggunakan dialek 'loe-gue', 74 persen memilih jawaban kurang pas atau aneh didengar; 16 persen mengakui biasa saja, dan delapan persen mengaku tidak pantas. Hanya ada dua persen responden yang menyebut pantas saja.

Masuk pada pertanyaan kedua, dari mana asal pengaruh bahasa 'loe-gue', 48 persen responden menerangkan pengaruh itu berasal dari teman di kampus, 34 persen menjawab terpengaruh YouTube, 14 persen terpengaruh televisi, dan 4 persen responden mengakui terpengaruh Instagram.

Setelah itu, pada pertanyaan ketiga, asumsi apakah yang membuat mahasiswa Malang mulai mengadopsi 'loe-gue'? 82 persen responden mengaku ingin lebih terlihat seperti anak kota, 12 persen mengakui ingin seperti artis, empat persen memilih jawaban agar gampang cari pacar. Dan 2 persen responden yang mengakui malu dengan asal daerahnya.

Ilustrasi mahasiswa. Pixabay.com

Beranjak pada dua pertanyaan terakhir. Kedua pertanyaan ini untuk melihat eksistensi bahasa walikan 'ayas-umak'. Ketika mahasiswa Malang ditanya tentang apakah 'ayas-umak' lebih keren dari 'loe-gue', ternyata 82 persen responden membenarkan hal tersebut. Hanya 18 persen yang menjawab tidak lebih keren dari 'loe-gue'.

Lalu, kata walikan apakah yang masih sangat populer di telinga mahasiswa Malang? Dari hasil survei, 40 persen memilih kata umak (kamu), 24 persen memilih ayas (saya), 2 persen memilih rudit (tidur), 6 persen kata ojrek (kerja), dan 14 persen responden memilih lain-lain.

Tugumalang.id juga meminta alasan beberapa mahasiswa terkait pilihan jawaban tersebut. Seperti pada pertanyaan pertama tentang mahasiswa yang mulai ikut-ikutan gaya 'loe-gue', mayoritas menjawab kurang pas atau aneh didengar karena logatnya terdengar medok. Hal ini diterangkan Nabilah, mahasiswa Universitas Negeri Malang asal Jember.

Senada dengan Nabilah, Cheka, mahasiswa Universitas Brawijaya ini menerangkan jika di Malang punya bahasa sendiri dan tidak menggunakan 'loe-gue'. "Karena di sini ada bahasa sendiri dan buka pakai 'loe-gue'. Ada pepatah mengatakan di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Ya, kalau sisi positifnya buat belajar bahasa selain Ngalam, tapi kalau buat bahasa digunakan bahasa sehari-hari sih kurang pas,” kata Cheka.

Ada juga alasan apa yang membuat bahasa 'ayas-umak' dianggap lebih keren karena pengucapannya enak. Daripada menggunakan 'loe-gue' tapi logatnya Malang."Keren pol, soale kane ae pengucapane dan dirungokno e timbang 'loe-gue' logat Malang (Karena enak pengucapan dan didengarkan daripada 'loe-gue' logat Malang, red),” kata Afif, mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM).

Reporter : Rino Hayyu S

Editor : Irham Thoriq