Tanggapan Wali Kota Malang Terkait Mahasiswa Brawijaya Diciduk Densus 88
·waktu baca 2 menit

MALANG - Wali Kota Malang, Sutiaji, angkat bicara soal salah satu mahasiswa aktif Universitas Brawijaya (UB) yang diciduk Densus 88 atas keterlibatannya dalam aktivitas organisasi ISIS.
"Sudah berkali-kali saya sampaikan, pendidikan karakter itu penting. Ketika kita kuatkan pendidikan karakternya itu, maka saya kira tidak ada yang gampang terprovokasi," kata Sutiaji.
Menurutnya, keberadaan pengaruh organisasi teroris akan terus ada dan bermunculan jika tak dibentengi. Terlebih, keberadaannya juga sulit dideteksi.
"Caranya untuk menuntaskan itu dengan bagaimana revolusi paradigma pendidikan kita, tidak hanya verbalis," ujarnya.
"Sekarang dengan adanya merdeka belajar itu, anak diajak dihadapkan pada tantangan nyata. Harus ada supaya dia tidak gampang terpengaruh teroris hingga aliran ekstrem kanan dan kiri," imbuhnya.
Sutiaji mengatakan, pihaknya akan menguatkan komunikasi dengan perguruan tinggi di Kota Malang sehingga koordinasi pencegahan kasus serupa bisa dioptimalkan.
"Beberapa bulan lalukan sebenarnya sudah dilakukan seminar kerja sama BNPT dengan perguruan tinggi di Malang," jelasnya.
"Berarti sudah ada tenggara kenapa dilakukan di sini, dulu ISIS deklarasinya di sini. dr Azhari juga tertangkap di Malang, tapi bukan orang Malang, makannya harus ada kewaspadaan masyarakat," imbuhnya.
Sutiaji juga meminta perangkat RT/RW harus lebih memperkuat pengawasan terhadap warga pendatang. Salah satunya melalui pendataan penghuni rumah kos tiap wilayah.
"Untuk itu saya minta ke waspadaan untuk semuanya, mulai Pak RT, Pak RW dan terutama orang tua juga," pintanya.
Sebelumnya, mahasiswa aktif Jurusan Hubungan Internasional, FISIP, UB, angkatan 2019 berinisial IA (22) diciduk Densus 88 di sebuah rumah kos di wilayah Dinoyo Permai Kota Malang pada Senin (23/5/2022).
Densus 88 juga membawa sejumlah barang bukti mulai bendera ISIS, busur panah, pisau komando, jaket loreng, laptop, hingga buku-buku.
Kemudian dia ditetapkan sebagai tersangka atas partisipasinya dalam mendukung aktivitas ISIS di Indonesia. Dia diduga menggalang dana untuk membantu ISIS di Indonesia.
Selain itu, dia menjadi pengelola media sosial penyebar materi-materi ajaran ISIS. Dia juga diduga menjalin komunikasi intens dengan tersangka kelompok JAD yang pernah merencanakan aksi terorisme.
