Tomboan Ngawonggo, Lokasi Piknik Bertema Jawa Kuno di Malang
Tiket Masuk Bayar Seikhlasnya

MALANG - Bagi para penggemar drama klasik seperti Arya Kamandanu atau Mahabarata, harus mencoba mengunjungi Tomboan Ngawonggo di Desa Ngawonggo, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang.
Pasalnya, ini merupakan lokasi yang cocok untuk merasakan nuansa budaya Jawa klasik lengkap dengan makanan, minuman, dan jajanan tradisional.
"Kalau minuman ada Wedhang Ngawonggo yang komposisinya ada serei, jeruk, dan jahe yang dari hasil bumi sini. Terus ada Wedhang Rosela dari bunga Risela, terus ada Tomboan Abang, Tomboan Ijo dan Wedhang Kopi," terang Ketua Pokdarwis Desa Ngawonggo, Rahmat Yasin, pada Jumat (16/11/2020).
Sementara untuk jajanan, setidaknya ada 11 jenis jajanan tradisional yang disuguhkan.
"Kalau jajanan sekarang ada sekitar 11 macam yang terdiri dari jajanan tradisional seperti getuk, sawut, apem, horok-horok jemblem, lepet, ongol-ongol, putri lemet, dan iwel-iwel," sebutnya.
Yang paling menarik dari tempat ini, Rahmat mengatakan, pengunjung bisa membayar seikhlasnya untuk makanan, minuman, sampai jajanan.
"Kami sendiri di sini konsepnya bukan warung atau cafe, tapi tempat singgah yang menyediakan suguhan. Jadi kalau mau berpartisipasi tinggal ditaruh saja di kotak asih itu," jelasnya.
Apakah tidak rugi? "Kalau rugi kami tidak pernah berdoa rugi. Kalau pendapatan dicukupi. Kalau lebih akan kami manfaatkan sebaik mungkin," ujarnya.
Pria brewok ini menjelaskan, mengapa lokasi ini diberi nama Tomboan Ngawonggo. "Nama Tomboan ini kami ambil dari tumbuh-tumbuhan. Lalu Tomboan dari tumbuhan ini juga bisa menyembuhkan beberapa penyakit. Dan kalau Ngawonggo itu diambil dari nama desa kita sendiri," jelasnya.
Lokasi ini sebenarnya berada di petirtaan yang sempat viral pada tahun 2017 lalu.
"Pada awalnya di sini ada petirtaan Ngawonggo yang sempat viral di tahun 2017. Jadi, kami para warga yang peduli itu akhirnya membuat prasarana untuk petirtaan itu," tuturnya sambil mengusap jenggot.
"Lalu sejak 7 bulan yang lalu, kami memutuskan untuk membuat suguhan. Awalnya hanya minuman, lalu lama kelamaan ada tambahan makanan dan jajanan," sambungnya.
Untuk bangunan, semuanya adalah hasil swadaya masyarakat Desa Ngawonggo. "Bangunan ini sendiri dibangun secara swadaya oleh warga sekitar, dan dananya juga dari warga sendiri," ungkapnya.
Dia mengaku, masyarakat sangat antusias karena merasa terbantu dengan adanya Tomboan Ngawonggo ini. "Kalau dari warga sekitar sendiri sangat senang sekali dan terbantu, karena warga sekitar ini kami berdayakan untuk membuat jajan," bebernya.
Pasalnya, setiap hari tak kurang dari 100 orang yang mengunjungi lokasi ini. "Kalau untuk kunjungan dalam sehari biasanya bisa di atas seratus orang. Tapi paling tinggi itu di hari Minggu bisa lebih dari 300 orang," pungkasnya.
