Konten dari Pengguna

Stabilitas Ekonomi: Ketika Angka Diselamatkan, Manusia Dikorbankan

Tuhombowo Wau

Tuhombowo Wau

Kolumnis Independen - Pengamat Geopolitik dan Kebijakan Publik

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tuhombowo Wau tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi stabilitas ekonomi. Gambar: Freepik
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi stabilitas ekonomi. Gambar: Freepik

Setiap zaman memiliki mitologinya sendiri.

Pada abad pertengahan, manusia memuja kekuasaan raja dan legitimasi ilahi. Pada masa revolusi industri, manusia memuja kemajuan teknologi sebagai jalan menuju masa depan. Sementara pada abad ke-21, dunia tampaknya telah menemukan objek pemujaan baru: stabilitas ekonomi.

Di ruang-ruang konferensi internasional, di laporan bank sentral, di meja para menteri keuangan, kata "stabilitas" diulang seperti mantra yang tidak boleh dipertanyakan. Stabilitas dianggap sebagai tanda kematangan kebijakan, ukuran kesehatan ekonomi, bahkan simbol keberhasilan sebuah pemerintahan.

Jika inflasi terkendali, nilai tukar relatif tenang, dan pasar finansial bergerak tanpa gejolak besar, maka sistem dianggap berada dalam kondisi yang sehat. Namun di balik ketenangan statistik tersebut, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan dengan kejujuran intelektual: stabilitas ekonomi sebenarnya melindungi siapa?

Apakah stabilitas itu benar-benar menjamin kesejahteraan manusia yang hidup di dalam sistem tersebut? Ataukah stabilitas lebih sering berfungsi sebagai mekanisme untuk menjaga keberlangsungan sebuah struktur ekonomi global yang tidak pernah sepenuhnya netral?

Pertanyaan ini tidak sekadar menyentuh wilayah ekonomi. Ia menembus wilayah yang lebih dalam: hubungan antara kekuasaan, keadilan, dan makna kemajuan dalam peradaban modern.

Karena sejarah telah mengajarkan satu pelajaran penting: sistem yang tampak stabil dari luar sering kali menyimpan ketidakadilan yang besar di dalamnya.

Dan ketika ketidakadilan itu mencapai batasnya, stabilitas yang tampak kokoh dapat runtuh dengan kecepatan yang mengejutkan.

Fetisisme Angka: Ketika Statistik Menggantikan Realitas

Ekonomi modern dibangun di atas keyakinan bahwa realitas sosial dapat dipahami melalui angka.

Produk Domestik Bruto (PDB), inflasi, tingkat pengangguran, neraca perdagangan, suku bunga; semua indikator ini dirancang untuk membantu para pembuat kebijakan memahami dinamika ekonomi yang kompleks.

Namun di titik tertentu, alat analisis ini mengalami transformasi yang problematis: angka tidak lagi diperlakukan sebagai alat untuk memahami realitas, tetapi sebagai pengganti realitas itu sendiri.

Fenomena ini dapat disebut sebagai fetisisme angka.

PDB menjadi simbol kemajuan nasional. Inflasi rendah dianggap sebagai bukti keberhasilan kebijakan. Pasar saham yang naik dipersepsikan sebagai tanda optimisme ekonomi.

Masalahnya, indikator-indikator tersebut memiliki keterbatasan yang sangat mendasar.

PDB dapat meningkat karena aktivitas ekonomi yang justru merusak kehidupan manusia: eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan, produksi senjata dalam skala besar, atau pembangunan yang menghancurkan ekosistem sosial.

Inflasi yang rendah tidak otomatis menjamin bahwa kebutuhan hidup masyarakat miskin tetap terjangkau.

Pasar saham yang menguat sering kali lebih mencerminkan konsentrasi kekayaan pada segelintir elite daripada kesejahteraan masyarakat luas.

Ketika indikator statistik menjadi ukuran utama keberhasilan ekonomi, kehidupan manusia yang nyata perlahan menghilang dari pusat perhatian.

Ekonomi yang seharusnya menjadi ilmu tentang kesejahteraan manusia berubah menjadi ilmu tentang manajemen angka.

Stabilitas sebagai Bahasa Kekuasaan

Dalam wacana kebijakan publik, stabilitas sering dipresentasikan sebagai tujuan yang netral dan teknis. Namun dalam kenyataannya, stabilitas selalu memiliki dimensi politik.

Definisi tentang stabilitas tidak pernah lahir di ruang hampa. Ia dibentuk oleh struktur kekuasaan yang mengatur sistem ekonomi global.

Dalam praktiknya, stabilitas sering berarti satu hal yang sangat spesifik: ketenangan pasar finansial.

Pasar yang stabil memberikan rasa aman bagi investor. Arus modal dapat bergerak tanpa gangguan, nilai aset tetap terjaga, dan risiko keuangan dapat diminimalkan.

Namun definisi stabilitas yang berpusat pada pasar finansial ini memiliki implikasi yang sangat luas.

Ketika stabilitas diartikan sebagai stabilitas pasar, kebijakan ekonomi cenderung diarahkan untuk menjaga kepercayaan investor. Disiplin fiskal diperketat, inflasi ditekan, regulasi pasar tenaga kerja dilonggarkan, dan sektor publik sering diprivatisasi.

Bagi pasar, kebijakan ini tampak rasional. Namun bagi masyarakat luas, stabilitas tersebut sering kali memiliki arti yang sangat berbeda: ketidakpastian pekerjaan, berkurangnya perlindungan sosial, dan meningkatnya ketimpangan ekonomi.

Di titik ini, stabilitas tidak lagi sekadar konsep teknis. Ia berubah menjadi bahasa kekuasaan yang menentukan siapa yang dilindungi dan siapa yang harus menanggung risiko.

Arsitektur Stabilitas Global

Stabilitas ekonomi global tidak muncul secara spontan. Ia dijaga oleh sebuah jaringan institusi yang kompleks.

Bank sentral mengatur stabilitas moneter. Lembaga keuangan internasional mengawasi stabilitas fiskal. Pasar modal global memberikan sinyal kepercayaan atau ketidakpercayaan terhadap kebijakan ekonomi suatu negara.

Struktur ini membentuk sebuah sistem disiplin global yang sangat kuat.

Negara yang gagal menjaga stabilitas makroekonomi dapat menghadapi berbagai konsekuensi: pelarian modal, penurunan peringkat kredit, hingga krisis mata uang yang menghancurkan.

Dalam situasi seperti ini, pemerintah sering merasa tidak memiliki banyak pilihan selain mengikuti resep kebijakan yang dianggap dapat memulihkan kepercayaan pasar.

Namun stabilitas yang dijaga oleh arsitektur global ini sering memiliki konsekuensi yang tidak merata.

Bagi negara-negara maju yang menguasai pusat keuangan dunia, stabilitas sistem global sering memperkuat dominasi ekonomi mereka.

Sebaliknya, bagi banyak negara berkembang, stabilitas sering berarti disiplin ekonomi yang ketat tanpa ruang kebijakan yang cukup untuk mengatasi ketimpangan domestik.

Stabilitas tanpa Keadilan

Paradoks paling mencolok dalam ekonomi kontemporer adalah munculnya fenomena stabilitas tanpa keadilan.

Selama beberapa dekade terakhir, banyak negara berhasil mempertahankan stabilitas makroekonomi yang relatif baik. Inflasi terkendali, sistem finansial lebih tangguh, dan pertumbuhan ekonomi relatif stabil. Namun pada saat yang sama, ketimpangan kekayaan meningkat secara drastis di berbagai belahan dunia.

Sebagian kecil populasi global menguasai proporsi kekayaan yang sangat besar. Sementara itu, sebagian besar masyarakat menghadapi kehidupan yang semakin tidak pasti.

Pekerjaan tetap semakin langka. Biaya pendidikan meningkat. Harga perumahan melonjak. Akses terhadap layanan kesehatan berkualitas semakin mahal.

Dengan kata lain, sistem ekonomi mungkin stabil dalam pengertian statistik, tetapi kehidupan manusia menjadi semakin rapuh.

Stabilitas dalam konteks ini bukan lagi jaminan kesejahteraan bersama. Ia berubah menjadi ketenangan struktural yang menutupi ketimpangan yang semakin dalam.

Krisis Legitimasi Peradaban Ekonomi

Ketika stabilitas ekonomi tidak lagi menghasilkan rasa keadilan sosial, sistem tersebut perlahan kehilangan legitimasi moral.

Ketidakpuasan terhadap globalisasi ekonomi telah memicu berbagai reaksi politik di seluruh dunia. Populisme, nasionalisme ekonomi, dan kritik terhadap kapitalisme global muncul sebagai respons terhadap sistem yang dianggap tidak lagi bekerja untuk kepentingan masyarakat luas.

Fenomena ini sering dipandang sebagai ancaman bagi stabilitas global. Namun sebenarnya ia adalah tanda bahwa stabilitas yang ada telah kehilangan fondasi sosialnya.

Sistem ekonomi hanya dapat bertahan jika masyarakat percaya bahwa sistem tersebut memberikan kesempatan yang adil.

Ketika kepercayaan itu hilang, stabilitas yang tampak kokoh dapat berubah menjadi rapuh dalam waktu yang sangat singkat.

Mendefinisikan Ulang Stabilitas

Jika stabilitas ekonomi ingin bertahan dalam jangka panjang, konsep stabilitas itu sendiri harus ditinjau kembali.

Stabilitas tidak boleh hanya berarti stabilitas pasar finansial. Ia harus mencakup stabilitas sosial; kondisi di mana masyarakat memiliki akses yang adil terhadap kesempatan ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial.

Stabilitas sejati hanya dapat bertahan jika ia berakar pada keadilan distribusi dan martabat manusia.

Tanpa keadilan, stabilitas hanyalah jeda singkat sebelum krisis berikutnya.

Pilihan Moral Peradaban

Pada akhirnya, perdebatan tentang stabilitas ekonomi bukanlah sekadar persoalan teknis. Ia adalah pertanyaan moral tentang arah peradaban manusia.

Apakah sistem ekonomi dibangun untuk melayani manusia? Ataukah manusia justru dipaksa menyesuaikan diri dengan kebutuhan sistem ekonomi?

Jika stabilitas ekonomi harus dicapai dengan mengorbankan martabat manusia, maka stabilitas itu bukanlah keberhasilan. Ia hanyalah ketenangan statistik yang dibayar dengan ketidakadilan sosial.

Karena pada akhirnya, ekonomi bukanlah sekadar permainan angka. Ekonomi adalah tentang kehidupan manusia; tentang kemampuan sebuah masyarakat untuk memastikan bahwa setiap individu memiliki kesempatan untuk hidup dengan martabat.

Dalam peradaban yang beradab, tidak ada angka yang boleh lebih berharga daripada manusia.

Dan jika stabilitas ekonomi menuntut pengorbanan kemanusiaan, maka yang perlu dipertanyakan bukanlah manusia, melainkan definisi stabilitas itu sendiri.