Open Trip Makin Dilirik Anak Muda, Apakah Bisnisnya Benar-Benar Menguntungkan?

Saya adalah mahasiswa S1 Manajemen Digital Marketing di Universitas Pamulang. Saya juga bekerja di PT Macroprima Panganutama divisi Supply Planning and Logistic.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Turimin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Open trip menawarkan cara berwisata yang lebih praktis dan membuka peluang bisnis di sektor pariwisata. Namun, di balik harga paket yang terlihat menarik, ada perhitungan biaya, pengelolaan peserta, dan risiko yang menentukan apakah usaha ini benar-benar menghasilkan keuntungan.
Traveling Tidak Harus Menunggu Punya Rombongan
Pernah ingin pergi ke Gunung Bromo, camping di alam terbuka, atau mencoba hiking, tetapi rencana perjalanan selalu tertunda karena sulit menemukan teman dengan jadwal yang sama?
Situasi seperti ini membuat open trip menjadi salah satu alternatif perjalanan yang menarik untuk dipertimbangkan. Melalui konsep ini, seseorang bisa mengikuti perjalanan wisata bersama peserta lain tanpa harus mengumpulkan rombongan sendiri.
Penyelenggara biasanya menawarkan paket dengan jadwal, destinasi, harga, dan fasilitas yang sudah ditentukan. Peserta cukup memilih perjalanan yang sesuai dengan kebutuhan dan anggaran, lalu mengikuti rangkaian kegiatan yang telah disiapkan.
Konsep tersebut menawarkan kemudahan bagi wisatawan yang ingin berlibur tanpa harus mengurus seluruh kebutuhan perjalanan secara mandiri. Destinasinya pun beragam, mulai dari wisata alam seperti Gunung Bromo, perjalanan ke pantai, camping, hingga pendakian gunung.
Bagi pelaku usaha, kemudahan ini dapat menjadi peluang untuk menawarkan jasa perjalanan yang terorganisasi. Namun, apakah banyaknya pilihan wisata dan potensi pasar tersebut cukup untuk membuat bisnis open trip menguntungkan?
Jawabannya tidak sesederhana menjual paket perjalanan dan menerima pembayaran peserta. Ada aspek bisnis yang perlu diperhitungkan sejak awal.
Peluang Pasar Wisata Masih Menarik
Besarnya aktivitas wisata domestik menjadi salah satu alasan sektor ini menarik untuk dikaji. Badan Pusat Statistik (BPS), melalui publikasi Statistik Wisatawan Nusantara 2025, mencatat bahwa jumlah perjalanan wisatawan nusantara sepanjang 2025 mencapai sekitar 1,20 miliar perjalanan, meningkat 17,53% dibandingkan tahun sebelumnya.
Data tersebut menunjukkan bahwa perjalanan wisata domestik memiliki aktivitas yang besar. Meski demikian, angka itu tidak secara khusus menunjukkan jumlah wisatawan yang memilih layanan open trip.
Dukungan terhadap pengembangan model perjalanan ini juga terlihat dari langkah Kementerian Pariwisata. Pada Juli 2026, kementerian tersebut menyelenggarakan misi penjualan wisata open trip untuk memperluas pilihan paket wisata domestik dan memperkuat kerja sama antarpelaku industri.
Informasi tersebut dapat dibaca melalui siaran pers Kementerian Pariwisata.
Dari sisi bisnis, kondisi ini memberikan alasan untuk mengkaji potensi open trip sebagai salah satu model usaha jasa wisata. Akan tetapi, besarnya pasar pariwisata tidak otomatis menjamin keberhasilan setiap penyelenggara.
Pelaku usaha tetap perlu memahami siapa calon pelanggannya, destinasi apa yang diminati, berapa harga yang bersedia dibayar, dan seberapa besar persaingan pada rute yang ditawarkan.
Mahasiswa dan pekerja muda, misalnya, dapat menjadi salah satu segmen yang dituju melalui paket wisata dengan anggaran yang jelas. Namun, ketertarikan segmen tersebut perlu dibuktikan melalui survei, data pemesanan, atau evaluasi pelanggan, bukan hanya asumsi.
Dari Mana Bisnis Open Trip Mendapatkan Keuntungan?
Secara sederhana, pendapatan bisnis open trip berasal dari pembayaran peserta. Penyelenggara kemudian menggunakan pendapatan tersebut untuk membayar berbagai kebutuhan perjalanan.
Salah satu keunggulan model ini adalah pelaku usaha tidak selalu harus memiliki seluruh aset operasional sendiri. Transportasi, penginapan, konsumsi, dan pemandu dapat disediakan melalui kerja sama dengan vendor atau mitra lokal.
Dengan demikian, penyelenggara dapat berfokus pada perencanaan perjalanan, pemasaran, pengelolaan peserta, serta pengawasan kualitas layanan.
Namun, keuntungan baru dapat diketahui setelah seluruh biaya yang relevan diperhitungkan.
Sebagai ilustrasi, sebuah penyelenggara menawarkan paket wisata alam selama dua hari satu malam dengan harga Rp800.000 per peserta. Jika 15 peserta mengikuti perjalanan, perhitungannya menjadi sebagai berikut.
Komponen
Nilai
Jumlah peserta
15 orang
Harga paket per peserta
Rp800.000
Total pendapatan
Rp12.000.000
Estimasi total biaya perjalanan
Rp11.500.000
Surplus operasional
Rp500.000
Catatan: Angka di atas merupakan simulasi ilustratif, bukan data aktual penyelenggara open trip. Biaya perjalanan diasumsikan mencakup transportasi, penginapan atau fasilitas camping, konsumsi, tiket destinasi, pemandu, promosi, administrasi, dan cadangan biaya tak terduga.
Dari simulasi tersebut, pendapatan Rp12 juta hanya menghasilkan surplus operasional Rp500.000, atau sekitar 4,2% dari pendapatan.
Artinya, omzet yang terlihat besar belum tentu menghasilkan keuntungan yang besar pula. Perhitungan ini juga belum tentu mencakup seluruh biaya usaha, seperti pajak yang berlaku, penyusutan perlengkapan, dan imbalan kerja pemilik apabila belum dimasukkan dalam biaya operasional.
Karena itu, penentuan harga paket perlu didasarkan pada perhitungan biaya yang realistis, bukan sekadar mengikuti harga pesaing.
Kuota Peserta Bisa Menjadi Penentu
Dalam bisnis open trip, jumlah peserta berpengaruh terhadap hasil keuangan. Sebagian biaya perjalanan, seperti sewa kendaraan, bisa relatif tetap meskipun jumlah peserta berubah. Sementara itu, biaya konsumsi dan tiket tertentu dapat meningkat mengikuti jumlah peserta.
Jika jumlah peserta tidak mencapai target, pendapatan yang terkumpul mungkin tidak cukup untuk menutup seluruh biaya perjalanan.
Sebaliknya, meningkatkan jumlah peserta tanpa memperhatikan kapasitas kendaraan, fasilitas, dan kebutuhan pemandu juga bukan solusi yang tepat. Penyelenggara perlu menjaga keseimbangan antara kapasitas, kualitas layanan, dan keuntungan.
Oleh karena itu, penetapan kuota minimum menjadi bagian penting dari perencanaan usaha. Penyelenggara perlu menentukan jumlah peserta yang dibutuhkan agar biaya tertutup, sekaligus menetapkan kebijakan yang jelas apabila kuota tidak terpenuhi.
Perencanaan ini sebaiknya dilakukan sebelum promosi dan penjualan paket dibuka. Dengan begitu, keputusan mengenai keberangkatan tidak hanya didasarkan pada keinginan untuk tetap menjalankan perjalanan, tetapi juga mempertimbangkan kelayakan keuangannya.
Selain potensi pasar dan perhitungan biaya, ada beberapa risiko yang perlu diperhatikan.
Pertama, pembatalan peserta. Pembatalan mendadak dapat mengganggu pendapatan, terutama jika biaya vendor sudah dibayarkan. Penyelenggara perlu memiliki kebijakan pembatalan dan pengembalian dana yang transparan.
Kedua, kondisi cuaca dan keselamatan. Bisnis camping dan hiking sangat bergantung pada kondisi alam. Hujan lebat, penutupan jalur, atau kondisi berbahaya lainnya dapat mengubah jadwal dan meningkatkan kebutuhan operasional. Keselamatan peserta harus menjadi prioritas, termasuk kesiapan prosedur darurat dan informasi risiko perjalanan.
Ketiga, persaingan harga. Banyaknya pilihan paket dapat mendorong persaingan yang ketat. Menawarkan harga murah tanpa menghitung biaya dengan cermat berisiko memperkecil keuntungan, bahkan menimbulkan kerugian.
Keempat, kepercayaan pelanggan. Informasi fasilitas yang tidak sesuai dengan kenyataan, komunikasi yang buruk, atau pengelolaan perjalanan yang tidak profesional dapat merusak reputasi usaha. Ulasan pelanggan dan rekomendasi dari peserta sebelumnya juga dapat memengaruhi keputusan calon pelanggan.
Menghadapi tantangan tersebut membutuhkan pengelolaan yang konsisten. Penyelenggara perlu memilih mitra yang dapat diandalkan, menetapkan prosedur operasional, menjaga transparansi informasi, dan mengevaluasi setiap perjalanan yang telah dilaksanakan.
Jadi, Apakah Bisnis Open Trip Layak Dijalankan?
Dalam studi kelayakan bisnis, sebuah usaha tidak cukup dinilai dari peluang pasar saja. Ada beberapa aspek yang perlu dipertimbangkan secara bersamaan.
Dari aspek pasar, penyelenggara harus memastikan adanya permintaan terhadap destinasi dan harga yang ditawarkan. Dari aspek operasional, kesiapan vendor, pengaturan jadwal, kapasitas peserta, dan keselamatan perlu diperhatikan.
Sementara itu, aspek keuangan digunakan untuk menilai apakah pendapatan dapat menutup biaya dan memberikan hasil yang memadai bagi pemilik usaha. Risiko pembatalan, perubahan biaya, dan ketidakpastian jumlah peserta juga perlu masuk dalam perencanaan.
Dengan demikian, bisnis open trip berpotensi layak dijalankan apabila didukung oleh permintaan yang cukup, operasional yang andal, pengelolaan risiko yang baik, serta perhitungan keuangan yang realistis.
Sebaliknya, jika usaha hanya mengandalkan tren wisata dan promosi tanpa memperhitungkan biaya, potensi pasar tersebut belum tentu berubah menjadi keuntungan.
