10 Buku yang Sempat Dilarang Beredar di Indonesia (1)

O Captain, My Captain. (Whitman, 1865)
Tulisan dari Tutur Literatur tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebelum era reformasi, mengeluarkan pendapat tak se-merdeka sekarang ini. Pada zaman Orde Baru, segala bentuk kebebasan berpendapat diberangus. Kontrol pemerintah terhadap pendapat baik lisan maupun dalam berkarya begitu ketat. Termasuk dalam hak memperoleh informasi dan penerbitan buku.
Buku dianggap sebagai salah satu media untuk menyampaikan dan menularkan ide serta gagasan kepada masyarakat umum secara luas. Maka dari itu, terdapat lebih dari 200 buku yang pada masa itu dilarang peredarannnya karena dianggap dapat membahayakan posisi pemerintah saat itu.
Berikut ini merupakan 10 buku yang pernah dilarang dibaca di Indonesia
10. Sahabat - Agam Wispi

Banyak buku karya Agam Wispi yang dilarang beredar mulai zama orde lama hingga orde baru, salah satunya adalah buku dengan judul Sahabat yang diterbitkan Lekra pada tahun 1959.
Buku ini dilarang beredar dan dibaca oleh Pembantu Menteri P D dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol (Inf) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada tanggal 30 November 1965. Tak hanya 'Sahabat', beberapa buku lain seperti Nasi dan Melati, Yang Terbungkamkan dan Matinya Seorang Petani juga dilarang.
9. Demokrasi Kita - Mohammad Hatta

Buku karangan salah satu proklamator Indonesia ini juga tak luput dari larangan beredar. Buku berjuduk Demokrasi Kita berisi mengenai kritik Mohammad Hatta atas kebijakan Presiden Soekarno yang pada saat itu dinilai terlalu otoriter. Pada tahun 1960, buku ini dilarang beredar oleh para penguasa militer
8. Indonesia di Bawah Sepatu Lars - Sukmadji Indro Tjahjono

Buku berjudul Indonesia di Bawah Sepatu Lars ini berisi pledoi Sukmadji Indro Tjahjono, yang membuat pembelaannya di muka pengadilan Mahasiswa pada bulan Agustus - September 1979. Isi buku yang ditulis caretaker Presidium Dewan Mahasiswa ITB tahun '77 ini dianggap mengkritik pemerintah terlalu keras. Pada zaman Orde Baru, buku inipun akhirnya dilarang beredar oleh Kejaksaan Agung.
7. Buku Putih Perjuangan Mahasiswa 1978

Pada tahun 1978, buku atau lebih tepatnya dokumen ini dilarang oleh Kejaksaan Agung. Salah satu alasannya karena mengungkapkan beberapa indikator kegagalan era pemerintahan Soeharto. Saat ini, buku yang dibuat oleh Dewan Mahasiswa ITB ini cukup sulit ditemukan karena dulunya tidak disebarkan secara luas.
6. Tingkah Laku Politik Panglima Besar Soedirman - A.H Nasution

Pada tahun 1984, Kejaksaan Agung melarang buku terbitan Karya Unipress ini. Berisi mengenai 'Tingkah Laku Politik Panglima Besar Soedirman' ini dianggap sebagai biografi khas pejaba, karena tokoh yang dibahas begitu diagung-agungkan tanpa cacat sedikitpun.
Buku yang berisikan tulisan dari beberapa nama penulis ini memakai nama besar A.H Nasution untuk dipajang sebagai judul dengan tujuan mengamankan berbagai isi tulisan di dalamnya. Namun kenyataannya buku ini tetap dibredel.
Berlanjut ke bagian 2...
