Konten dari Pengguna

10 Puisi yang Menggambarkan Peristiwa 1998 (1)

Tutur Literatur

Tutur Literatur

O Captain, My Captain. (Whitman, 1865)

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tutur Literatur tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

10 Puisi yang Menggambarkan Peristiwa 1998 (1)
zoom-in-whitePerbesar

Banyak cara mengabadikan peristiwa, salah satunya melalui puisi. Seperti yang kita ketahui, di Bulan Mei belasan tahun silam telah terjadi peristiwa penting bagi bangsa Indonesia, yakni masa di mana negara ini memulai era reformasi. Perjuangan mahasiswa dan kaum intelek lainnya dalam menjatuhkan rezim Orba berbuah manis. Akan tetapi di balik suksesnya perjuangan itu terdapat kisah pilu yang bisa dikatakan sebagai sebuah tragedi kemanusiaan.

Beberapa sastrawan di Indonesia memilih untuk memotret peristiwa itu dalam bentuk sajak yang bisa dijadikan salah satu memoar peristiwa Mei 1998. Joko Pinurbo sebagai peraih sastra khatulistiwa bersama 34 penyair lainnya menyumbangkan karya mereka dalam buku Merawat Ingatan Rahim: Puisi Tragedi 1998. Berikut sajak-sajaknya.

1. Mei - Joko Pinurbo

…Kau sudah selesai mandi, Mei

Kau sudah mandi api

Api telah mengungkapkan rahasia cintanya

Ketika tubuhmu hancur

Dan lebur dengan tubuh bumi

Ketika tak ada lagi yang mempertanyakan

Nama dan warna kulitmu, Mei

(Mei, Joko Pinurbo, 2000)

Melalui puisi ini, Joko Pinurbo mengabadikan ingatannya tentang kekejaman yang terjadi pada etnis Tionghoa. Mei, seperti nama seorang gadis Tionghoa yang tewas dalam tragedi kekerasan, penembakan, penjarahan, penculikan dan pemerkosaan yang menodai perjuangan mencapai pemerintahan yang demokratis.

2. Mayat Politik yang Ditutupi Koran Pagi

…Antara stasiun Gambir dan Solo Balapan

Mencari penggaris untuk mengukur perlawanan

Potongan tiket kereta dan bau keringat dari perut yang kosong

Sebuah puisi antara revolusi dan masuk angin

Tas ransel mulai penuh bayangan:

Penyair dari gudang-gudang penindasan…

(Box Wiji Thukul, Afrizal Malna, 2013)

Puisi ini berisikan penggambaran tentang carut-marut kehidupan sosial-politik reformasi. Seperti peristiwa kerusuhan dan tragedi kemanusiaan bagi saudara-saudara kita yang merupakan keturunan Tionghoa.

3. Gugat Kawan Cinaku - Indah Dramastuti

...Bahkan ketika aku makan dengan sendok peraturanmu

Dan minum dengan gelas undang-undangmu

Kemarahanmu tetap berarti pengampunanku

~

Lalu suatu ketika, aku tak berhak mengaku pribumi

Hingga retak aku, patah aku, pecah aku, di bulan Mei itu

Aku masih mencium bendera dua warna itu

Merah dan Putih, warna kemarahanmu yang berarti pengampunanku

Indah Dramastuti adalah satu dari sekian sastrawan muda yang menyoroti relasi sosial pribumi - Tionghoa pada tahun-tahun awal reformasi. Etnis Tionghoa menanggung penderitaan karena memiliki fisik berbeda dengan pribumi kebanyakan dan tak memiliki lagi hak untuk menyebut dirinya sebagai pribumi juga.

4. Lembar Usang Nota Wanita - Kinanthi Anggraini

Seketika detik terhenti di sebuah angkot kota

Memuntahkan satu pasang kepala manusia

Masih berbusana, mata sipit, dan bernyawa

Lengkap dengan dada dan paras cantik sang dara

Mereka wanita!

~

Seketika berlumur keringat pria di sekitarnya

Goresan cakaran kuku di rusuk dada begitu nyata

Menghirup darah celah selangkangan kakinya

Menjadi akhir dari sehelai kain yang terbang bermula

Mencuat satu per satu tegas, tergerai ke angkasa

(Lembar Usang Nota Wanita, Kinanthi Anggraini, 2013)

Puisi ini menggambarkan nasib korban, para wanita Tionghoa yang mendapatkan perlakuan seperti binatang pada saat itu. Disiksa, diculik dan mengalami pemerkosaan. Hal itu menggoreskan luka yang cukup dalam tak hanya di fisik, tapi juga batin mereka.

5. Aku Ketika Mei 98 - Fanny Chotimah

…Koran-koran pun ikut membakar kedamaian pagi

Hari itu

Hari yang ditunggu tiba

Soeharto lengser

Wajah ayahku sumringah

Matanya nanar

Akan kebahagiaan dan rasa haru

Terbebas kekejaman Orde Baru

~

Berbeda dengan perempuan muda itu

Yang lahir dalam masa Repelita ketiga

Baginya reformasi ialah

Jam tangan warna pink

Merek G-Shock Casio

Made in Thailand

Hadiah dari seorang residivis

Dalam puisi ini, Fanny Chotimah menceritakan mengenai dua sisi peristiwa yang terjadi pada Mei 1998. Peristiwa lengsernya kepemimpinan Soeharto yang menghadirkan sorak sorai bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, juga menghadirkan sebuah peristiwa besar yang bisa disebut sebagai tragedi memilukan bagi sebagian lainnya.

Bersambung ke Part 2