Pencarian populer
USER STORY

10 Puisi yang Menggambarkan Peristiwa 1998 (2)

Jika kita melihat kembali ke belakang, pada Bulan Mei 1998, kita akan dihadapkan pada rasa haru para mahasiswa dan masyarakat yang akhirnya berhasil menumpas dan menjatuhkan rezim Orde Baru yang Otoriter. Akan tetapi, dibalik sebuah kebahagiaan, ada suatu tragedi memilkukan yang sampai saat ini masih menorehkan luka di sebagian masyarakat Indonesia, terutama para etnis Tionghoa yang menjadi korban ketidakadilan. Demi merawat ingatan tentang peristiwa tersebut, beberapa sastrawan muda merekamnya dalam bentuk puisi yang bisa kita baca dan pelajari hingga hari ini. Jika sudah menyimak beberapa puisi di bagian awal, mari kita renungi lima puisi lainnya berikut ini.

5. Percakapan Usai Tragedi - Lasinta Ari Nendra

…Kapan terjadinya peristiwa itu

Aku ingin merunuti mula terjadinya aku

~

Lalu apa sesungguhnya kesalahan ibu

Barangkali ibu berkulit putih dan bermata sipit

Konon itulah penyebab awal keadaan jadi sulit

Hingga rakyat-rakyat kecil terlilit dan terbelit

Oleh pelukan kemiskinan yang menghimpit

Etnis Tionghoa kerapkali disalahkan karena selalu dianggap sebagai biang kerok terjadinya kesulitan ekonomi yang terjadi pada saat itu. Dalam puisi ini, Lasinta Ari Nendra membuat kita merenenung kembali, apakah sebetulnya kesalahan etnis Tionghoa yang dirampas haknya pada saat peristiwa kerusuhan 98 terjadi? Kulit putih dan mata sipit tak serta merta menjadikannya orang lain di negara Indonesia, karena mereka juga adalah bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

6. Narasi Memorabilia 598 - Whijang Warek AM

Perempuan-perempuan tanpa kebaya

Telanjang kehilangan muka

Kelaminnya diperkosa

Dalam perjamuan angkara

Tubuhnya lilin pucat kesumba

Menggigil di kolong langit senja

Meratapi nasib hidup yang luka

Tersedu tanpa isak kata-kata

Masih mengangkat tentang tema pemerkosaan perempuan-perempuan etnis Tionghoa, Whijamg Warek AM menuturkan trauma dan luka psikis yang diderita oleh para korban pemerkosaan yang akan terus diderita disepanjang hidupnya.

7. Sebotol Shampo - Impian Nopitasari

Sebotol shampo di balik kaca

Depan rumahku

Selalu membuatku penasaran

Ingin sekali kuhirup aromanya

Kata si Ling, wanginya tak ada yang menandingi

Entahlah, orang tuaku tak pernah membelikannya

Mungkin esok pagi, akan kubeli shampo itu

Pagi ini, ya, seharusnya ini masih pagi

Tapi gulita membuatku sangsi

Itik-itikku kembali ke kandang, menambah keyakinanku

Asap-asap tebal membumbung tinggi

Orang-orang berhamburan keluar

Kulihat mereka memecah kaca toko Tan Tjik Ling

Kaki kecilku reflek berlari

Tak ada yang boleh mengambil shampo si Ling

Kubawa shampo itu ke rumah

Ayahku marah

“Kembalikan, barang jarahan tak boleh masuk rumah ini”

Tapi aku terlalu takut keluar, mereka semakin brutal

Membakar apapun dan sibuk berteriak “Hidup Pribumi!”

Dulu orang-orang Tionghoa pemilik toko dilanda ketakutan, menutup pintu tokomya rapat-rapat dan menitipkan barang berharga di rumah teman atau sadara yang mereka percaya. Mereka mengecat toko mereka dengan kata-kata 'Pribumi Asli'dan berharap terhindar dari tindak penjarahan dan amukkan masa.

Puisi ini menggambarkan peristiwa kerusuhan dan penjarahan yang terjadi pada tahun 1998 lewat keinginan seseorang membeli sampo di sebuah toko yang pemiliknya adalah orang keturunan Tionghoa.

8. Mengenang Anyir Air Mata - Nurni Chaniago

…Teriakan dan jerit kepiluan langkah kecil yang dirubuhkan

Gadis-gadis berlampion dalam gaun-gaun bersobekan

Berlarian dalam kelam

~

Membawa kegetiran dan dendam yang tak terhapuskan

Ketika yang paling suci direnggutkan atas nama perjuangan

Betapa anyir air mata mengenangnya!

Oknum yang berteriak "hidup pribumi" pada masa itu menganggap bahwa melumpuhkan etnis lain yanh dianggap "non - pribumi" sebagai bentuk perjuangan. Puisi ini mengutarakan bahwa peristiwa yang mengatasnamakan perjuangan itu, begitu memalukan untuk dikenang.

9. Suamiku Tragedi Mei - Kinanthi Anggraini

…Sinar matamu menghidupkan mayat berpembuluh

Di parasmu tampak ukiran-ukiran bibit lelaki ke sepuluh

Yang membuatku kembali merasakan guguran peluh

Hingga aku tak sanggup berdiri dan hanya bersimpuh

Tak kuasa menolak dan berbuat banyak, aku lumpuh!

~

Sementara saat membedaki lehermu sore ini

Seolah tanganku bergerak mencekik sendiri

Saat menyisiri rambutmu yang wangi

Serasa ingin kujambak dan segera kupangkasi…

Pada puisi ini digambarkan seorang wanita yang harus terus menanggung luka akibat peristiwa pemerkosaan, karena lelaki yang mengoyak kesuciannya pada waktu itu berhasil menanam benih. Perasaannya begitu dilematik. Di satu sisi menyayangi anak yang lahir dari rahimnya sendiri, akam tetapi di sisi lain ia hadir sebagai pengingat luka yang akan terus mendampingi dan bahkan menjadi tanggungjawabnya.

10. Reformasi - Ngadiyo

…Ayahku baru pulang dari pasar

Membeli dempul sebagai cat dasar

Di atas caping untuk dibawa ke pasar

~

Lihat,

Toko Cina dibakar

Toko Cina dijarah

~

Ini sedang reformasi

Semua toko dicat Pribumi

Untung toko cat masih sepi

Ayahku bisa membeli dengan ngeri…

(Reformasi, Ngadiyo)

Dalam puisi berjudul Reformasi, masih tergambar bagaimana peristiwa penjarahan toko-toko berpemilik orang Tionghoa terjadi. Mereka, mengecat toko-toko mereka dengan tulisan "Pribumi Asli" demi terhindar dari penjarahan saudara sebangsa - setanah airnya sendiri.

sumber

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: