Konten dari Pengguna

5 Puisi Wiji Thukul yang Menggetarkan Hati

Tutur Literatur

Tutur Literatur

O Captain, My Captain. (Whitman, 1865)

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tutur Literatur tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

5 Puisi Wiji Thukul yang Menggetarkan Hati
zoom-in-whitePerbesar

"Hanya ada satu kata: Lawan!" menjadi peluru perlawanan yang sering disuarakan. Kata-kata itu terus bergerak menembus zaman untuk menentang ketidakadilan. Kalimat sakti yang mampu membuat jiwa bergelora itu merupakan racikan kata-kata yang berasal dari buah pikir Wiji Thukul.

Wiji adalah seorang aktivis hak asasi manusia serta sastrawan yang getol menyuarakan protes terhadap pemerintahan Orde Baru. Pada masa itu, penyair rakyat ini dianggap berbahaya karena sajak-sajak yang disuarakannya mengandung unsur propaganda.

Hidup sebagai 'Wong Cilik' dan berkawan dengan kaum marjinal menjadi sumber inspirasi bagi Wiji. Realitas sosial yang dilihatnya sehari-hari, dipotretnya dengan menggunakan cara sendiri.

Bila kita cermati, bait-bait puisi Wiji teruntai dalam diksi sederhana tanpa basa-basi, tidak muluk-muluk dan mudah dimengerti oleh banyak orang dari berbagai kalangan.

Puisinya kebanyakan memaparkan ketidakadilan dan penindasan yang mampu menggetarkan dan membangkitkan semangat untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah saat itu.

Di antara banyaknya puisi Wiji Thukul tentang perlawanan, berikut ini adalah 5 puisi yang masih relevan dengan situasi saat ini dan mampu menggetarkan hati kita semua.

Wiji Thukul menjadi buronan. (Foto: Muhammad Faisal/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Wiji Thukul menjadi buronan. (Foto: Muhammad Faisal/kumparan)

1. PERINGATAN

Jika rakyat pergi

Ketika penguasa pidato

Kita harus hati-hati

Barangkali mereka putus asa

Kalau rakyat bersembunyi

Dan berbisik-bisik

Ketika membicarakan masalahnya sendiri

Penguasa harus waspada dan belajar mendengar

Bila rakyat berani mengeluh

Itu artinya sudah gawat

Dan bila omongan penguasa

Tidak boleh dibantah

Kebenaran pasti terancam

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang

Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan

Dituduh subversif dan mengganggu keamanan

Maka hanya ada satu kata: lawan!.

(Wiji Thukul, 1986)

Ilustrasi Wiji Thukul dan puisinya. (Foto: Mateus Situmorang/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Wiji Thukul dan puisinya. (Foto: Mateus Situmorang/kumparan)

2. SAJAK SUARA

sesungguhnya suara itu tak bisa diredam

mulut bisa dibungkam

namun siapa mampu menghentikan nyanyian bimbang

dan pertanyaan-pertanyaan dari lidah jiwaku

suara-suara itu tak bisa dipenjarakan

di sana bersemayam kemerdekaan

apabila engkau memaksa diamaku

siapkan untukmu: pemberontakan!

sesungguhnya suara itu bukan perampok

yang ingin merayah hartamu

ia ingin bicara

mengapa kau kokang senjata

dan gemetar ketika suara-suara itu

menuntut keadilan?

sesungguhnya suara itu akan menjadi kata

ialah yang mengajari aku bertanya

dan pada akhirnya tidak bisa tidak

engkau harus menjawabnya

apabila engkau tetap bertahan

aku akan memburumu seperti kutukan

'Sajak Suara' Wiji Thukul (Foto: Mateus Situmorang/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
'Sajak Suara' Wiji Thukul (Foto: Mateus Situmorang/kumparan)

3. BUNGA DAN TEMBOK

Seumpama bunga

Kami adalah bunga yang tak

Kau hendaki tumbuh

Engkau lebih suka membangun

Rumah dan merampas tanah

Seumpama bunga

Kami adalah bunga yang tak

Kau kehendaki adanya

Engkau lebih suka membangun

Jalan raya dan pagar besi

Seumpama bunga

Kami adalah bunga yang

Dirontokkan di bumi kami sendiri

Jika kami bunga

Engkau adalah tembok itu

Tapi di tubuh tembok itu

Telah kami sebar biji-biji

Suatu saat kami akan tumbuh bersama

Dengan keyakinan: engkau harus hancur!

Dalam keyakinan kami

Di manapun – tirani harus tumbang!

Potongan sajak Wiji Thukul 'Bunga dan Tembok' (Foto: ESK)
zoom-in-whitePerbesar
Potongan sajak Wiji Thukul 'Bunga dan Tembok' (Foto: ESK)

4. TENTANG SEBUAH GERAKAN

Tadinya aku pingin bilang

aku butuh rumah

tapi lantas kuganti

dengan kalimat

SETIAP ORANG BUTUH TANAH

ingat: Setiap orang

aku berpikir

tentang sebuah gerakan

tapi mana mungkin

aku nuntut sendirian

aku bukan orang suci

yang bisa hidup dari sekepal nasi

dan air sekendi

aku butuh celana dan baju

untuk menutup kemaluanku

aku berpikir

tentang sebuah gerakan

tapi mana mungkin

kalau diam

Wiji Thukul sebelum hilang (Foto: Dokumen pribadi Wahyu Susilo)
zoom-in-whitePerbesar
Wiji Thukul sebelum hilang (Foto: Dokumen pribadi Wahyu Susilo)

5. NYANYIAN AKAR RUMPUT

jalan raya dilebarkan

kami terusir

mendirikan kampung

digusur

kami pindah-pindah

menempel di tembok-tembok

dicabut

terbuang

kami rumput

butuh tanah

dengar!

Ayo gabung ke kami

Biar jadi mimpi buruk presiden!

Wiji Thukul Sang Peluru (Foto: Mateus Situmorang/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Wiji Thukul Sang Peluru (Foto: Mateus Situmorang/kumparan)