Death of A Salesman: Sebuah Perspektif Alternatif

O Captain, My Captain. (Whitman, 1865)
Tulisan dari Tutur Literatur tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Seorang ayah, suami dan manusia bunuh diri demi menafkahi keluarganya.

Death of A Salesman. (Foto: en.wikipedia.org)
Setelah membaca tentang biografi singkat Arthur Miller, mari telusuri naskahnya yang tidak habis dimakan waktu, yaitu Death of A Salesman. Drama ini membawa Miller pada Pulitzer Award dan mengangkat karirnya sebagai penulis drama di Amerika.
Death of A Salesman menceritakan tentang kehidupan Willy Loman dan keluarganya. Willy yang awalnya seorang dengan kinerja yang baik, suami yang bertanggung jawab dan ayah yang perhatian. Karirnya yang mendekati pensiun, penurunan penghasilan sebagai salesman, dan hubungannya yang semakin buruk dengan anaknya memberikan dampak psikologis yang hebat pada Willy. Ia mulai berbicara sendiri dan tidak bisa membedakan khayalan dan kenyataan. Pada akhirnya, setelah ia melihat kegagalan ekonomi pada keluarganya, ia bunuh diri. Sikap bunuh diri yang dilakukan oleh Willy di justifikasi dengan pemikiran bahwa ia dapat memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya melalui asuransi nyawanya.

Arthur Miller dalam memandang hidup Willy Loman. (Foto: izquotes.com)
Karya Miller yang satu ini sesungguhnya menampilkan nilai yang ada pada masyarakat Amerika pada saat itu. Miller melihat harga yang harus dibayar bagi yang mengejar American Dream. Kemudian, ia secara tidak langsung menuntut Amerika yang menanamkan pemikiran yang berfokus pada materialism kapitalis yang terjadi setelah perang dunia.
Setelah bertahun-tahun, Death of A Salesman tetap menjadi naskah yang sangat superior. Ide-ide tentang nilai-nilai fundamental pada masyarakat dan pengukuran kesuksesan lewat materi mungkin telah menjadi pembahasan yang mulai biasa, namun bahasan Miller saat itu dinilai sebagai pemikiran yang radikal. Saat Amerika ditampilkan sebagai dunia yang glamor melalui pesta dan rumah mewah, Miller membawakan orang-orang yang gagal dalam mengejar kehidupan yang “ideal” tersebut.
-ASR-
Sumber:: cliffnotes.com, biography.com
