Pascadoktoral (Postdoc): Apakah Peluang Karier bagi Para Doktor Indonesia?

Dosen Departemen Kimia Universitas Andalas dan Peneliti Ilmu Material Sebagai Bahan Penyimpan Energi
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Tio Putra Wendari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jenjang akademik pendidikan tinggi dimulai dengan gelar sarjana, diikuti dengan gelar magister, dan mencapai puncaknya dengan gelar doktor. Di Indonesia, jumlah lulusan doktoral terus meningkat, mencapai lebih dari 8.000 pada tahun 2020 menurut data Badan Pusat Statistik (BPS).
Namun, tantangan nyata muncul ketika banyak lulusan doktor di dalam negeri menghadapi kesulitan dalam menemukan posisi akademis yang layak. Banyak lembaga pendidikan tinggi membutuhkan doktor untuk mengisi posisi dosen tetap, namun, jumlah posisi yang tersedia sering kali tidak sebanding dengan jumlah lulusan doktor yang ada.
Banyak lulusan doktor di Indonesia yang merasa terjebak dalam situasi yang sulit. Meskipun telah menyelesaikan pendidikan tinggi hingga tingkat doktoral, kesempatan untuk mendapatkan posisi akademis yang layak di dalam negeri sering kali terbatas. Oleh karena itu, program pasca-doktoral, atau dikenal "postdoc", menjadi opsi menarik bagi para lulusan doktor untuk melanjutkan karier mereka daripada menunggu posisi pekerjaan di dalam negeri.
Postdoc bukan jenjang akademik formal, program ini memberikan kesempatan bagi peneliti untuk mendalami pemahaman ilmiah, terlibat dalam proyek penelitian di bawah bimbingan seorang profesor atau peneliti senior, dan meningkatkan peluang karier akademis di masa depan.
Meskipun program postdoc sering dianggap sebagai proses belajar lanjutan, faktor gaji juga turut menjadi pertimbangan bagi banyak individu. Di Eropa, gaji postdoc sering kali cukup menarik, dengan standar hidup yang layak sebagai pekerja profesional. Selain itu, fasilitas tambahan seperti tunjangan kesehatan, dana riset, dan dukungan untuk konferensi dan publikasi juga menjadi daya tarik bagi para kandidat postdoc.
Aturan untuk posisi postdoc di luar negeri bervariasi, namun beberapa kebijakan umum juga sering ditemui. Salah satunya adalah batasan waktu setelah mendapatkan gelar doktor, biasanya sekitar 5 tahun, agar kandidat masih dianggap segar secara akademis. Selain itu, ada juga batasan usia tertentu, meskipun tidak mutlak, untuk memastikan bahwa peneliti yang mendaftar masih memiliki energi dan motivasi yang cukup.
Informasi tentang posisi postdoc sering diumumkan melalui situs web universitas, platform akademik seperti ResearchGate, atau melalui jejaring profesional seperti LinkedIn. Formulir aplikasi umumnya mencakup daftar riwayat hidup yang rinci, surat pengantar yang menjelaskan minat penelitian dan alasan melamar posisi, proposal penelitian yang diinginkan, dan rekomendasi dari dosen atau supervisor sebelumnya untuk memberikan gambaran tentang kemampuan dan potensi calon peneliti.
Secara umum, dalam memilih institusi, para lulusan doktor mempertimbangkan reputasi yang baik dalam bidang penelitian mereka, fasilitas yang memadai, dan kesempatan untuk berkolaborasi dengan para peneliti terkemuka. Pertimbangan lainnya termasuk lokasi geografis, kehidupan kampus, biaya hidup, dukungan keuangan, dan peluang karier setelah menyelesaikan program postdoc. Institusi terkenal seperti universitas top di Amerika Serikat, Eropa, Australia, dan Jepang sering menjadi tujuan utama bagi para peneliti Indonesia.
Beberapa institusi yang terkenal untuk program postdoc adalah Massachusetts Institute of Technology (MIT) di Amerika Serikat, ETH Zurich di Swiss, University of Cambridge di Inggris, California Institute of Technology (Caltech) di Amerika Serikat, dan Max Planck Institute di Jerman.
Di MIT, penelitian berfokus pada inovasi dan teknologi baru, termasuk nanoteknologi, biokimia, kimia energi, dan material maju. Di ETH Zurich, penelitian sering berfokus pada rekayasa material, katalisis, dan teknologi energi terbarukan. University of Cambridge memiliki pusat penelitian yang kuat dalam kimia organik, fisika kimia, dan kimia biologis.
Di Caltech, penelitian kimia sering berkaitan dengan sintesis organik, kimia fisik, dan nanomaterial. Di Max Planck Institute, penelitian meliputi berbagai aspek kimia, termasuk kimia teoretis, kimia fisik, dan biofisika.
Institusi-institusi ini menonjol karena memiliki fasilitas penelitian yang canggih, akses ke sumber daya yang luas, serta para peneliti terkemuka di bidangnya. Mereka sering menjalin kemitraan dengan industri dan institusi penelitian lainnya, yang memperluas jaringan kolaborasi dan meningkatkan potensi inovasi dalam penelitian mereka.
Target output dari program postdoc biasanya berupa publikasi ilmiah dalam jurnal-jurnal internasional terkemuka, presentasi di konferensi ilmiah, bahkan berupa pengembangan teknologi atau inovasi baru. Luaran ini merupakan cara untuk menyebarkan hasil penelitian dan meningkatkan reputasi akademik dari peneliti. Besar harapan untuk para doktor Indonesia setelah melakukan program postdoc dapat berkontribusi dalam penelitian dan akademik, serta menjadi pemimpin di bidangnya di institusi akademik di Indonesia.
