Pengaruh Lingkungan Keluarga Terhadap Emosional Anak: Biopsikologi & Psikososial

Seorang mahasiswi yang sedang menempuh pendidikan program studi S1 Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta
ยทwaktu baca 5 menit
Tulisan dari Slamet Isti Qomah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagaimana pengaruh lingkungan keluarga terhadap perkembangan anak? Mengapa dapat berpengaruh pada perkembangan emosional anak? Jawabannya adalah perkembangan emosional anak sangatlah penting dalam pertumbuhan dan perkembangan seorang individu, masa perkembangan awal anak adalah masa dimana yang menentukan pada perkembangan yang akan datang, pada masa perkembangan ini pengaruh lingkungan, sosial, budaya, hingga keluarga sangatlah berpengaruh terhadap perkembangan emosional anak.
Kondisi bagaimana keluarganya sangat berpengaruh terhadap perkembangan emosional anak dengan contoh adalah ketidakharmonisan keluarga, orang tua bertengkar, orang tua melakukan kekerasan dan lain sebagainya. Sehingga membuat seorang anak merasa tidak disayang, tidak diperhatikan, diabaikan, merasa tidak aman serta meniru perilaku sesuai apa yang anak tersebut lihat. Melalui esai ini saya akan menjelaskan pengaruh lingkungan keluarga terhadap emosional anak.
keluarga adalah tempat dan orang pertama yang memberikan pelajaran dan didikan terhadap anak. Lingkungan keluarga adalah salah satu faktor paling mendasar dalam perkembangan anak. Tidak hanya secara aspek fisik dan sosial tetapi lingkungan keluarga juga sangat berpengaruh terhadap perkembangan emosionalnya.
Riana Mashar mengungkapkan bahwa perkembangan emosional adalah kemampuan seseorang dalam mengendalikan emosi dalam merespon suatu kondisi yang dapat merangsang munculnya sebuah emosi.
Perkembangan emosional adalah ungkapan perasaan yang seketika muncul saat anak berinteraksi dengan orang lain dan sering sekali seorang anak spontan mengekspresikan emosi melalui tindakan maupun ucapan. Sehingga hal seperti ini sangatlah penting sekali untuk diajari, dibimbing serta dibiasakan dengan hal-hal yang baik serta teladan sehingga dapat membentuk emosional anak yang baik dalam dirinya.
Menurut John Bowlby melalui Teori Kelekatan (Attachment Theory) hubungan emosional yang terbentuk antara anak dengan orang tua maupun pengasuh sangatlah penting berpengaruh terhadap perkembangan emosional anak. Sehingga hubungan keluarga yang baik dan memberikan kasih sayang, perhatian, support dan parenting yang baik sangat membantu anak merasa dalam keadaan yang nyaman dan aman, serta seorang anak dapat mengatur dan memahami emosi dirinya sendiri. Sehingga hubungan keluarga, sosial, serta lingkungan dimana anak tumbuh dan berkembang sangatlah membentuk bagaimana struktur otak serta fungsinya dengan baik.
Dalam perspektif biopsikologi perkembangan emosi anak adalah hasil interaksi yang kompleks antara struktur otak, faktor genetik serta pengalaman yang diperoleh dari lingkungan, otak anak memiliki bagian-bagian penting dalam membentuk emosi, kemampuan berfikir serta perilaku. Korteks prefontal memiliki peranan penting dalam pengaturan emosi, bagian ini mengalami perkembangan dalam masa anak-anak hingga remaja serta berfungsi dalam mengontrol emosinya.
Sementara itu, sistem limbik yang terdiri dari amigdala, hipotalamus, serta hippocampus berperan penting dalam fungsi pengaturan respons emosional, amigdala berperan penting dalam mengenali sebuah emosi, hippocampus berperan dalam pembentukan memori emosional dan hipotalamus berfungsi dalam mengatur fungsi fisiologis yang berkaitan dengan stress, emosi, tidur serta nafsu makan.
Proses perkembangan emosi anak berlangsung secara bertahap, anak mulai memahami emosi dasar seperti marah, takut, sedih dan senang. Proses ini diperkuat oleh hubungan korteks prefontal dan sistem limbik, yang berfungsi mengatur emosi dan membangun keterampilan yang positif. Lingkungan sosial serta dukungan emosional dari orang tua, pendidik serta teman juga dapat berpengaruh dalam perkembangan emosional anak.
menurut teori perkembangan psikososial Erik Erikson, tahap-tahap awal dalam perkembangan kehidupan anak memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk sebuah kepribadian dan emosionalnya pada masa yang akan datang, sehingga Erik Erikson menjelaskan melalui beberapa tahapan agar perkembangan emosional anak dapat tumbuh secara baik.
Maka dari itu lingkungan keluarga yang positive maupun harmonis sangat membantu sekali dalam seorang anak mengenali, mengekspresikan hingga mampu mengontrol emosi secara baik. Sehingga dampak dari seorang anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang positif maupun harmonis sangat sekali membangun ketahanan psikologis yang kuat terhadap stress, tetapi seorang anak yang tumbuh pada lingkungan keluarga yang negative maupun tidak harmonis akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan emosional dirinya sehingga berpengaruh hingga dewasa seperti ketidakstabilan emosi dan sulitnya dalam membangun hubungan interpersonal dan beresiko terhadap gangguan mental hingga kecemasan atau penuh tekanan dapat menghambat perkembangan area otak yang berfungsi mengatur emosi.
Sehingga dalam dukungan psikososial, tingkat pendidikan orang tua, sangat berperan penting dalam membangun lingkungan yang kondusif bagi perkembangan emosional anak, serta kerja sama yang terkoordinasi dapat memberikan solusi terhadap kesejahteraan anak secara menyeluruh.
Dengan demikian tugas utama seorang keluarga adalah memberikan maupun menyediakan lingkungan yang positif untuk mencegah atau membantu perkembangan seorang anak serta memantau perkembangan anak dari pengaruh negatif lingkungan. Dengan dukungan yang konsisten, bimbingan yang tepat serta interaksi yang baik, maka seorang anak dapat bertumbuh dengan emosinal yang baik, menjalin hubungan sosial dengan baik serta harmonis.
Maka dapat disimpulkan bahwa perkembangan emosional anak merupakan fondasi penting dalam pembentukan kepribadian serta perkembangan psikologis anak dimasa yang akan datang. Lingkungaan keluarga berperan sangat penting dan besar dalam perkembangan emosional anak, karena keluarga merupakan tempat pertama anak dalam belajar mengenali, mengekpresikan serta mengelola emosi. Hubungan harmonis antara orang tua dan anak, terpenuhinya kasih sayang, dan perhatian dari orang tua dapat menciptakan rasa aman serta nyaman yang mendukung dalam perkembangan system limbik dan fungsi korteks prefontal pada anak yang berperan dalam mengatur perilaku serta emosi.
Sebaliknya lingkungan keluarga yang penuh dengan konflik dapat mengambat dalam perkembangan emosional seorang anak serta psikologis anak. Seperti teori attachment theory (Bowlby) dan teori psikososial (Erikson) yang menegaskan pentingnya hubungan emosional yang sehat antara anak dan orang tua. Oleh karena itu keluarga memiliki tanggung jawab besar dalam berperan menciptakan anak yang cerdas secara emosional dan menjalin hubungan sosial yang baik di masa depan.
