Freeze Time, Show Your Shine! Cerita dari Ruang Lili di Rumah Sakit Jiwa

Mahasiswa Psikologi, Universitas Brawijaya Malang
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Tyara Nethaniela Larissa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tidak semua keberanian terlihat besar. Kadang ia datang dalam bentuk satu pantun, satu langkah maju, di tengah ruangan yang penuh tepuk tangan.
RSJ Menur Surabaya bukan sekadar tempat perawatan kesehatan jiwa. Bagi saya, institusi ini adalah ruang belajar yang sesungguhnya tempat di mana teori psikologi yang selama ini saya pelajari di kelas akhirnya bertemu dengan realita dunia kesehatan mental yang jauh lebih kompleks dan manusiawi.
Ada momen yang sulit untuk dilupakan ketika pertama kali saya menginjakkan kaki di Ruang Lili, ruang rawat inap khusus anak-anak dan remaja di Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya. Di ruangan itu, saya bertemu dengan wajah-wajah muda yang menyimpan beban jauh lebih berat dari yang semestinya mereka tanggung di usia mereka. Setiap anak membawa ceritanya sendiri trauma yang berbeda, latar belakang yang berbeda, dan luka yang tak selalu terlihat dari luar.
Sebagai mahasiswi magang semester 6 dari Program Studi Psikologi Universitas Brawijaya, saya piket bergilir di tiga area yaitu Ruang Psikotest, Ruang Rehabilitasi, dan Ruang Lili. Pengalaman magang diawali di Ruang Psikotest, di mana saya berperan aktif dalam membantu pelaksanaan pemeriksaan psikologis secara klasikal. Kegiatan ini memberikan pemahaman mengenai pentingnya menciptakan kondisi pemeriksaan yang kondusif, tenang, dan mampu meminimalkan kecemasan pada klien. Hal tersebut berpengaruh terhadap validitas hasil asesmen serta kenyamanan klien selama proses berlangsung. Pengalaman ini menjadi bentuk nyata dari penerapan teori yang telah dipelajari sebelumnya.
Di Ruang Rehabilitasi, saya memperoleh pemahaman mengenai peran kegiatan terstruktur dalam membantu pasien mengembangkan kembali kemampuan fungsional sehari-hari. Adapun di Ruang Lili, saya menemukan bahwa pendekatan bermain merupakan strategi yang efektif dalam membangun kedekatan serta menjangkau kondisi emosional anak.
Ruang Lili dan Ritme Pagi yang Menyehatkan
Setiap pagi di Ruang Lili, pasien anak dan remaja memulai harinya dengan jalan pagi di sekitar lingkungan rumah sakit. Aktivitas fisik semacam ini bukan sekadar rutinitas. Latihan aerobik ringan secara konsisten berkaitan dengan penurunan gejala depresi dan kecemasan pada anak dan remaja (Bidzan-Bluma & Lipowska, 2018). Stimulasi sensoris dari lingkungan luar juga memberikan efek grounding yang bermanfaat bagi pasien dengan gangguan regulasi emosi.
Setelah itu, dilanjutkan dengan senam bersama. Rangkaian gerakan yang terstruktur dan berirama tidak hanya berfungsi sebagai aktivitas fisik semata, tetapi juga memiliki nilai terapeutik. Dalam konteks ini, senam menjadi salah satu bentuk grounding yang membantu pasien untuk lebih hadir pada momen saat ini, meningkatkan kesadaran terhadap tubuh, serta menyelaraskan hubungan antara pikiran dan kondisi fisik.
Ada pula sesi TAK (Terapi Aktivitas Kelompok) dan psikoedukasi yang rutin dilaksanakan. Dua kegiatan yang membantu pasien memahami kondisi mereka dan belajar keterampilan hidup melalui dinamika kelompok yang suportif.
Apa Itu Freeze Time, Show Your Shine?
Dalam kegiatan ini, musik diputar dan seluruh pasien diajak untuk bergerak secara bebas mengikuti irama lagu. Ketika musik dihentikan secara tiba-tiba, semua peserta diharapkan langsung berhenti dan tetap diam tanpa melakukan gerakan apa pun.
Peserta yang masih bergerak setelah musik berhenti akan mendapatkan “tantangan kreatif” sebagai bentuk konsekuensi yang menyenangkan. Tantangan tersebut dapat berupa membuat pantun, menyanyikan lagu singkat, menyebutkan hobi, atau berimprovisasi menyusun puisi sederhana.
Setiap peserta yang tampil akan mendapatkan apresiasi dari peserta lainnya, sehingga tercipta suasana yang hangat, suportif, dan mendorong keberanian dalam mengekspresikan diri.
Mengapa Permainan Ini Dirancang?
Permainan Freeze Time, Show Your Shine dirancang dengan mengintegrasikan prinsip terapi bermain dan terapi musik sebagai pendekatan non-verbal yang inklusif bagi anak-anak dengan beragam kondisi psikologis. Gerakan tubuh mengikuti irama musik mengaktifkan koordinasi motorik kasar dan halus, sekaligus membangun respons terhadap ritme yang bersifat menenangkan secara neurologis (Bruscia, 2014).
Selain itu permainan ini dirancang untuk menyentuh berbagai dimensi kesejahteraan pasien sekaligus. Secara motorik, gerakan bebas mengikuti irama musik melatih koordinasi tubuh dan ketajaman respons terhadap rangsangan eksternal.
Dimensi ini berjalan beriringan dengan manfaat kognitif ketika musik tiba-tiba berhenti pada mekanisme "freeze", pasien dituntut untuk seketika menghentikan gerakannya, sebuah latihan nyata bagi konsentrasi, kontrol impuls, dan kewaspadaan situasional.
Di tengah proses itu, tercipta pula ruang emosional yang sehat dengan adanya tawa, kejutan kecil, dan kegembiraan bersama menjadi distraksi positif yang memberi jeda dari tekanan psikologis yang mereka tanggung sehari-hari.
Dan ketika seseorang berdiri untuk berpantun atau bernyanyi di hadapan teman-temannya. Disambut tepuk tangan, bukan penilaian, di situlah manfaat sosial tumbuh paling nyata rasa percaya diri yang dibangun pelan-pelan, dalam lingkungan yang aman dan penuh penerimaan.
Yang Lebih dari Sekadar Permainan
Ketika saya melihat seorang anak yang tadinya pendiam dan tertutup akhirnya ikut tertawa saat musiknya berhenti tiba-tiba dan kemudian berdiri, mengucapkan pantun dengan suara kecil tapi pasti saya menyadari bahwa apa yang terjadi jauh melampaui tujuan teknis yang saya tulis di proposal program.
Di balik setiap tawa, ada seorang anak yang sedang belajar bahwa dirinya boleh merasa bahagia. Di balik setiap gerakan yang berhenti tepat waktu, ada latihan kontrol diri yang kecil namun bermakna. Dan di balik setiap bait pantun yang terucap sekalipun terbata-bata, ada keberanian yang tumbuh. Ini sejalan dengan pandangan Landreth (2012) bahwa dalam terapi bermain, tujuan utama bukan pada permainannya itu sendiri, melainkan pada relasi terapeutik dan pengalaman yang tercipta di dalamnya (Landreth, 2012).
Pengalaman magang ini mengajarkan saya bahwa dunia psikologi klinis, terlebih di lingkup kesehatan jiwa, adalah ruang yang membutuhkan tidak hanya pengetahuan ilmiah, tetapi juga ketulusan, kreativitas, dan keberanian untuk duduk bersama seseorang dalam kondisi paling rentannya.
