Konten dari Pengguna

Literasi Keluarga, PR Kita Bersama

Tyas Ary Lestyaningrum

Tyas Ary Lestyaningrum

ibu rumah tangga, lulusan S1 Teknik Informatika, hobi nonton dan menulis, tinggal di Kabupaten Bekasi

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tyas Ary Lestyaningrum tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar oleh Akshayapatra dari pixabay.com
zoom-in-whitePerbesar
Gambar oleh Akshayapatra dari pixabay.com

Jika disodorkan pertanyaan berikut ini, “Kapan terakhir membaca buku?” pasti jawabannya beragam. Bagi mereka yang gemar membaca akan dengan sigap menjawab “Bahkan sekarang pun saya sedang menyelesaikan bacaan saya, buku dari si anu seri ke sekian”. Bagi yang lain akan mengerutkan keningnya sambil berpikir atau bahkan lupa kapan terakhir kali membaca. 

Fenomena ini sudah hampir menjadi kelumrahan. Bagi manusia dewasa tentulah yang menjadi prioritas utama adalah kerja, kerja, dan kerja. Bagi seorang ibu, hampir bisa dipastikan bahwa waktunya dihabiskan untuk keluarga, terutama mengasuh anak-anaknya. Pekerjaan yang dari bangun sampai berangkat tidur nyaris tak ada habisnya.

Mungkin para pelajar dan mahasiswa yang disodori pertanyaan tadi, ada sedikit harapan dengan jawaban mereka. Membaca merupakan sebuah kewajiban, setidaknya buku diktat pembelajaran. Dan ini masih lumayan, karena dari situ bisa menjadi awal ketertarikan, atau justru mendatangkan kelelahan dan kebosanan. 

***

Literasi. Sebuah kata yang diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam membaca dan menulis. Membaca dan menulis apa? Dalam hal membaca tentu saja bacaan apa saja bisa kita konsumsi selama ada manfaat dan meluaskan pandangan. Bisa buku fiksi, non fiksi, roman, dan puisi. Buku sejarah, sastra, dan motivasi. Semua bisa masuk daftar bacaan dan meningkatkan literasi. 

Menulis pun bisa dimulai dari hal-hal yang sangat sederhana. Dari pengalaman sehari-hari sampai curahan hati. Semua itu bisa dilakukan siapa saja di waktu senggangnya. Sedikit berbagi, masa SD dan SMP menjelang kelulusan atau kenaikan kelas, generasi sebelum milenial suka sekali bertukar buku diary wangi berwarna-warni. Mengajak satu demi satu sahabat atau teman sekelas mengisinya dengan bio data, cerita lucu dan kesan-pesan sebagai kenang-kenangan. Seingat saya itulah awal saya menikmati menulis dan bercerita. Begitu sederhana.

Masa pandemi dan kesempatan meningkatkan Literasi

Masa pandemi ini adalah masa yang mendatangkan beberapa manfaat yang harus disyukuri, salah satunya terkait literasi. Masa libur sekolah dan sehari-hari ditemani internet tak henti membuat saya menengok lagi wawancara lama antara Sarah Sechan dan Dian Sastro. Mbak Disas saat itu bercerita sejak kecil sang ibu membiasakannya membaca dan membuat laporan secara berkala. Berawal dari keterpaksaan yang membentuk kebiasaan dan berujung pada kecerdasan, demikianlah saya menyimpulkan. Seolah Tuhan mencubit saya. Inilah titik balik yang bukan hanya membuat punggung saya panas, namun juga rasa malu dengan banyak waktu yang sia-sia.

Dan esok harinya, setelah mengingat-ingat letak buku bacaan dan mengumpulkannya, dengan tekad baja saya melakukan hal yang sama kepada anak-anak saya. Dengan pak suami sebagai mandor yang akan menagih laporan bacaan setiap minggunya. Bacaan-bacaan dongeng sederhana, bahkan koleksi komik lama tetap kami terima, setidaknya ini awal memperjuangkan minat baca.

Wajah anak-anak sedikit bersungut, ingin menolak tapi tak kuasa. Mau tidak mau kedua anak saya melakukannya, ditambah mempresentasikan di malam Minggu tentang apa yang dibacanya. Ada kalanya kami terkekeh dengan kesimpulan ala bocah yang polos. Lain waktu kami terenyuh dengan apa yang mereka sampaikan. Jelas terlihat ada perjuangan mengerjakannya.

Memang proyek membaca, merangkum, dan menyajikan ini tidak berlangsung lama. Masa sekolah online menyita waktu anak-anak dengan segudang tugas dari sekolah. Demi menjaga imunitas, kami membebaskan mereka dari tugas membaca. Dan benar saja, libur dari tugas literasi di rumah ini menurunkan daya juang membaca buku. Saya bertanya kepada anak saya bagaimana tanggapannya jika mulai membaca buku lagi. Dia menjawab bahwa saat ini jujur agak malas dan berat untuk melakukannya. Disayangkan memang, namun tugas kami adalah mencari solusi dan cara asyik untuk memulai kembali. 

Sekolah sebagai partner utama 

Saya sangat berterima kasih kepada para guru yang menyelipkan kegiatan membaca, merangkum, dan menyajikan di tugas murid-muridnya. Di beberapa kesempatan anak bungsu saya mencari-cari lagi kisah sahabat nabi untuk mengerjakan tugas sekolahnya. Di kesempatan lain, si kakak menyodorkan sebuah tulisan untuk saya baca sebelum dikumpulkan ke guru untuk memenuhi tugas ekskul jurnalistiknya. Sedikit demi sedikit harapan mulai bersinar meskipun terdapat unsur kepepet menjalankannya.

Tapi tunggu dulu, apalah artinya melihat anak berjuang menyelesaikan bacaan tanpa orang tua ikut juga melakukan. Bukan sesuatu yang mudah dan murah, ketika saya “terpaksa” harus kembali mengorder buku yang semula ada namun saat itu entah di mana rimbanya. Suami saya hanya tersenyum karena lupa kepada siapa dipinjamkannya. 

Mengikuti kelas menulis, mem-follow beberapa akun klub baca dan toko buku online menjadi kegemaran baru saya. Sementara suami yang sibuk bekerja cukuplah sebagai penyandang dana. Di waktu senggangnya akan saya kucuri dengan cerita tentang beberapa bab yang terbaca. 

Menciptakan ruang diskusi

Kalaupun frekuensi membaca anak-anak tidak seintens dulu, ada celah untuk mendesak mereka membaca. Tidak melulu dari buku namun dari media online. Seperti saat membaca hasil psikotes dan kami menemukan sebuah kata yang mengundang pertanyaan. Maka inilah saat mencarinya melalui dunia maya. Saat melihat kasus viral yang muncul di sebuah akun TikTok, maka adalah tugas saya untuk menggiring dan mengarahkan pada fakta yang sebenarnya. yang pada akhirnya memunculkan satu alasan mengajak anak-anak membaca dan lebih kritis pada peristiwa yang terjadi.

Atau saat menonton film, di mana sesudahnya kami akan browsing untuk memuaskan penasaran tentang cerita di balik pembuatannya, kritik-kritik yang dilontarkan dan sebagainya. Hal-hal yang terkesan receh namun setidaknya memantik minat baca. Aah betapa tertinggalnya kami dengan mbak Dian Sastro di waktu kecilnya. 

***

Jujur saja, alih-alih berjam-jam menekuni buku, saya lebih menikmati membaca halaman sosial media menengok kabar sahabat-sahabat nan jauh di sana. Seringkali saya “menepuk bahu sendiri” untuk tetap tabah meneruskan bacaan yang belum kelar juga. Dan tulisan ini pun sempat terjeda dengan makan sepiring nasi ayam serundeng sebelum saya kembali melanjutkannya. Saya jadi ingat obrolan bersama teman-teman yang sama-sama gemar menulis. Teman saya mengatakan kenikmatan  menulis adalah saat menaik-turunkan kursor, mencermati setiap kata.

Tak ubahnya bermain “game” akan ada saja kata yang berlebih atau perlu diganti agar lebih enak dibaca. Hingga pada saatnya tulisan  tampil di media, di situlah “end game”-nya. Kami, para penulis ini hanya bisa merindukan permainan sebelumnya, mengotak-atik lagi di sana-sini. Dan menjadi penulis yang baik sangat mustahil tanpa membaca.

Setidaknya dengan berbagi tulisan ini, akan menjadi pemantik semangat, syukur-syukur menularkan kepada anak cucu dan khalayak. Hingga kelak Tuhan mengizinkan, saya tersenyum di alam keabadian sana. Salah satunya karena melihat anak cucu yang gemar membaca dan pandai meraup kebijaksanaan dari mana saja.  

Ditulis oleh: Tyas Ary Lestyaningrum

Ibu rumah tangga, alumni teknisi bandara, tinggal di Kabupaten Bekasi.