Ekonomi Tumbuh, tetapi Apakah Kehidupan Masyarakat Ikut Tumbuh?

Mahasiswa Universitas Pamulang Prodi Pendidikan Ekonomi
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari tya safira tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika pemerintah mengumumkan bahwa ekonomi Indonesia tumbuh, kita biasanya menyambutnya sebagai kabar baik. Angka pertumbuhan ekonomi sering menjadi tanda bahwa aktivitas produksi meningkat, dunia usaha bergerak, dan perekonomian dianggap berada dalam kondisi yang cukup baik.
Namun, sebagai masyarakat, kita seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan “berapa persen ekonomi tumbuh?”. Ada pertanyaan lain yang menurut saya justru lebih penting: apakah pertumbuhan ekonomi tersebut benar-benar terasa dalam kehidupan masyarakat?
Pertanyaan ini penting karena ekonomi makro pada akhirnya bukan hanya tentang angka Produk Domestik Bruto (PDB), inflasi, pengangguran, investasi, atau perdagangan. Semua indikator tersebut memang diperlukan untuk melihat kondisi perekonomian secara keseluruhan. Akan tetapi, tujuan akhir dari pembangunan ekonomi tetap manusia.
Kita bisa melihat pertumbuhan ekonomi yang positif, tetapi pada saat yang sama masih menemukan masyarakat yang kesulitan mendapatkan pekerjaan, pelaku usaha kecil yang menghadapi kenaikan biaya, atau keluarga yang harus lebih berhati-hati mengatur pengeluaran karena harga kebutuhan meningkat.
Di sinilah menurut saya tantangan ekonomi makro Indonesia sebenarnya berada.
Pertumbuhan Ekonomi Jangan Hanya Berhenti di Angka
Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator penting dalam menilai perkembangan suatu negara. Ketika kegiatan produksi dan konsumsi meningkat, perekonomian dapat menciptakan lebih banyak aktivitas usaha dan kesempatan kerja.
Namun, pertumbuhan ekonomi bukanlah tujuan akhir.
Pertumbuhan yang tinggi tetapi manfaatnya hanya terkonsentrasi pada kelompok atau wilayah tertentu dapat membuat kesenjangan semakin terasa. Karena itu, pemerintah tidak cukup hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga perlu memastikan agar pertumbuhan tersebut inklusif.
Menurut saya, keberhasilan ekonomi makro seharusnya dapat dilihat dari beberapa hal sekaligus: apakah kesempatan kerja bertambah, apakah daya beli masyarakat terjaga, apakah usaha kecil mampu berkembang, dan apakah masyarakat di berbagai daerah memperoleh kesempatan ekonomi yang relatif lebih baik.
Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi tidak hanya menjadi angka dalam laporan pemerintah, tetapi benar-benar menjadi perubahan yang dirasakan masyarakat.
Inflasi: Angka yang Sering Terlihat Jauh, Padahal Sangat Dekat
Salah satu indikator ekonomi makro yang paling mudah dirasakan masyarakat adalah inflasi.
Badan Pusat Statistik mencatat inflasi Indonesia pada Agustus 2026 sebesar 3,19 persen secara year-on-year. Inflasi bulanan pada bulan yang sama tercatat 0,21 persen.
Bagi sebagian orang, angka tersebut mungkin hanya terlihat sebagai statistik. Namun, bagi rumah tangga, perubahan harga dapat berarti perubahan dalam mengatur pengeluaran sehari-hari.
Ketika harga kebutuhan naik, masyarakat harus menentukan kembali mana yang menjadi prioritas. Bagi rumah tangga dengan pendapatan terbatas, ruang untuk menyesuaikan pengeluaran tentu lebih sempit.
Karena itu, menjaga inflasi bukan hanya tugas untuk mempertahankan angka agar tetap terkendali. Kebijakan pengendalian inflasi juga harus mempertimbangkan kelompok masyarakat yang paling rentan terhadap perubahan harga.
Pemerintah perlu memastikan ketersediaan barang, kelancaran distribusi, dan stabilitas pasokan, terutama untuk kebutuhan pokok. Kebijakan yang baik bukan hanya berhasil menjaga indikator makro, tetapi juga membantu masyarakat mempertahankan daya belinya.
