Konten dari Pengguna

Menjaga Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di Tengah Tekanan Inflasi dan Nilai Tukar

tya safira

tya safira

Mahasiswa Universitas Pamulang Prodi Pendidikan Ekonomi

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari tya safira tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Poster Atifical Intelligence (AI), 13:49 PM (06-10-2026). Dok. Tia Sapira
zoom-in-whitePerbesar
Poster Atifical Intelligence (AI), 13:49 PM (06-10-2026). Dok. Tia Sapira

Perekonomian Indonesia pada 2026 menunjukkan ketahanan di tengah berbagai tekanan dari dalam dan luar negeri. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 tumbuh 5,29 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Secara kumulatif, ekonomi Indonesia pada semester I 2026 tumbuh 5,45 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi masih berjalan cukup kuat. Namun, kondisi perekonomian tidak hanya dapat dilihat dari pertumbuhan ekonomi. Inflasi, suku bunga, nilai tukar rupiah, konsumsi masyarakat, dan kondisi ekonomi global juga menjadi faktor yang saling berkaitan.

Pertanyaannya kemudian adalah, bagaimana Indonesia dapat mempertahankan pertumbuhan ekonomi ketika tekanan terhadap stabilitas ekonomi masih terjadi?

Pertumbuhan Ekonomi Tidak Berdiri Sendiri

Dalam ekonomi makro, pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator penting untuk melihat perkembangan aktivitas ekonomi suatu negara. Ketika produksi barang dan jasa meningkat, terdapat peluang bagi dunia usaha untuk berkembang dan masyarakat untuk memperoleh lebih banyak kesempatan ekonomi.

Namun, pertumbuhan ekonomi tidak berdiri sendiri. Kinerja konsumsi rumah tangga, investasi, belanja pemerintah, ekspor, dan impor ikut memengaruhi perkembangan perekonomian.

BPS mencatat bahwa pada triwulan II 2026, konsumsi pemerintah menjadi salah satu komponen pengeluaran yang mengalami pertumbuhan tinggi, sementara dari sisi produksi pertumbuhan juga terjadi di berbagai lapangan usaha.

Artinya, menjaga pertumbuhan ekonomi membutuhkan kebijakan yang tidak hanya berfokus pada satu sektor. Pemerintah dan Bank Indonesia perlu memastikan agar aktivitas ekonomi tetap berjalan tanpa mengabaikan stabilitas harga dan kondisi keuangan.

Inflasi dan Daya Beli Masyarakat

Salah satu tantangan dalam menjaga pertumbuhan ekonomi adalah inflasi. Inflasi yang terlalu tinggi dapat mengurangi daya beli masyarakat karena harga barang dan jasa meningkat lebih cepat dibandingkan pendapatan.

BPS mencatat inflasi Indonesia pada Agustus 2026 sebesar 3,19 persen secara tahunan. Sementara itu, inflasi bulan ke bulan tercatat 0,21 persen dan inflasi tahun kalender mencapai 1,86 persen.

Angka tersebut masih berada dalam sasaran inflasi yang menjadi perhatian Bank Indonesia. Namun, perkembangan harga tetap perlu diperhatikan karena perubahan harga pangan, energi, dan berbagai kebutuhan masyarakat dapat memengaruhi pengeluaran rumah tangga.

Bagi masyarakat, inflasi bukan sekadar angka statistik. Perubahan harga dapat langsung dirasakan ketika biaya makanan, transportasi, pendidikan, dan kebutuhan sehari-hari mengalami kenaikan.

Karena itu, menjaga inflasi tetap terkendali menjadi bagian penting dalam mempertahankan daya beli masyarakat.

Suku Bunga dan Aktivitas Ekonomi

Kebijakan suku bunga juga memiliki hubungan erat dengan kondisi ekonomi. Bank Indonesia menggunakan BI-Rate sebagai salah satu instrumen kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas ekonomi dan mencapai sasaran inflasi.

Dalam Rapat Dewan Gubernur pada 22–23 September 2026, Bank Indonesia memutuskan mempertahankan BI-Rate pada level 5,75 persen. Bank Indonesia menyatakan keputusan tersebut merupakan bagian dari strategi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Suku bunga memiliki pengaruh terhadap keputusan masyarakat dan dunia usaha. Ketika biaya pinjaman meningkat, masyarakat dan perusahaan dapat menjadi lebih berhati-hati dalam mengambil kredit. Sebaliknya, kondisi pembiayaan yang lebih mendukung dapat membantu mendorong konsumsi dan investasi.

Karena itu, kebijakan moneter perlu mempertimbangkan keseimbangan antara menjaga stabilitas harga dan mendukung aktivitas ekonomi.

Nilai Tukar Rupiah dan Tekanan Eksternal

Selain inflasi dan suku bunga, nilai tukar rupiah juga menjadi bagian penting dalam perekonomian makro. Pergerakan rupiah dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kondisi pasar keuangan global, kebijakan bank sentral negara lain, arus modal, serta perkembangan geopolitik.

Bank Indonesia menyebut tekanan eksternal masih menjadi salah satu pertimbangan dalam kebijakan stabilisasi nilai tukar. Bank sentral juga terus memperkuat kebijakan untuk menarik aliran modal dan memperdalam pasar uang serta pasar valuta asing.

Kondisi global menjadi semakin penting karena perekonomian Indonesia memiliki hubungan yang erat dengan perdagangan dan pasar keuangan internasional.

Ketika kondisi global mengalami ketidakpastian, dampaknya dapat merambat ke nilai tukar, arus investasi, biaya impor, hingga keputusan dunia usaha.

Kebijakan Ekonomi Harus Saling Mendukung

Menghadapi kondisi tersebut, kebijakan ekonomi tidak dapat berjalan secara terpisah. Kebijakan fiskal pemerintah dan kebijakan moneter Bank Indonesia perlu saling mendukung sesuai dengan kewenangan masing-masing.

Kementerian Keuangan juga menekankan pentingnya sinergi kebijakan dalam menghadapi dinamika geopolitik dan volatilitas pasar keuangan global. APBN diarahkan sebagai instrumen untuk memenuhi kebutuhan publik, mendukung pembangunan, dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Sinergi tersebut menjadi penting karena setiap kebijakan memiliki dampak yang berbeda. Kebijakan yang bertujuan menjaga stabilitas harga perlu mempertimbangkan aktivitas ekonomi, sementara kebijakan yang mendorong pertumbuhan juga perlu memperhatikan risiko terhadap inflasi dan stabilitas keuangan.

Dengan pendekatan yang seimbang, kebijakan ekonomi diharapkan tidak hanya mampu mempertahankan pertumbuhan, tetapi juga menjaga kepercayaan masyarakat dan dunia usaha.

Pertumbuhan Harus Memberikan Manfaat

Pada akhirnya, keberhasilan ekonomi makro tidak hanya dapat dilihat dari angka pertumbuhan ekonomi. Masyarakat juga perlu merasakan dampaknya melalui kesempatan kerja, pendapatan yang lebih baik, daya beli yang terjaga, serta akses terhadap berbagai kebutuhan dasar.

Pertumbuhan ekonomi sebesar 5,29 persen pada triwulan II 2026 merupakan salah satu indikator bahwa aktivitas ekonomi Indonesia tetap berjalan. Namun, tantangan berikutnya adalah bagaimana mempertahankan momentum tersebut di tengah perubahan kondisi global dan tekanan terhadap stabilitas ekonomi.

Pemerintah dan Bank Indonesia memiliki peran masing-masing dalam menjaga keseimbangan tersebut. Pemerintah melalui kebijakan fiskal dapat mendorong aktivitas ekonomi dan pembangunan, sedangkan Bank Indonesia melalui kebijakan moneter berperan menjaga stabilitas nilai rupiah dan inflasi.

Bagi masyarakat, perkembangan ekonomi makro pada akhirnya bukan hanya persoalan angka pertumbuhan, inflasi, atau suku bunga. Semua indikator tersebut memiliki hubungan dengan kehidupan sehari-hari.

Harga yang stabil membantu menjaga daya beli. Kondisi pembiayaan yang sehat dapat mendukung kegiatan usaha. Pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dapat membuka lebih banyak kesempatan ekonomi.

Karena itu, tantangan ekonomi Indonesia bukan hanya bagaimana mencapai pertumbuhan yang tinggi, tetapi bagaimana menjaga agar pertumbuhan tersebut tetap stabil dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.