PMI Manufaktur Indonesia Kembali Ekspansi

Mahasiswa Universitas Pamulang Prodi Pendidikan Ekonomi
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari tya safira tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Aktivitas industri manufaktur Indonesia menunjukkan tanda pemulihan pada September 2026. Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia meningkat menjadi 52,4, setelah pada Agustus berada di level 49,8. Angka di atas 50 menunjukkan sektor manufaktur kembali berada dalam zona ekspansi.
Kenaikan tersebut menjadi salah satu sinyal positif bagi perekonomian Indonesia memasuki kuartal IV 2026. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyebut perbaikan PMI terjadi bersamaan dengan penguatan permintaan, produksi, tenaga kerja, aktivitas pembelian, dan persediaan input.
Pemulihan sektor manufaktur menjadi penting karena industri tidak hanya berkaitan dengan aktivitas produksi di pabrik. Pergerakan industri juga berhubungan dengan rantai pasok, distribusi barang, kebutuhan tenaga kerja, hingga aktivitas usaha kecil yang menjadi bagian dari ekosistem produksi.
Kondisi tersebut dapat menjadi peluang bagi Indonesia untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi. Sebelumnya, Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 tumbuh 5,29 persen secara tahunan, sedangkan pertumbuhan ekonomi semester I 2026 mencapai 5,45 persen.
Meski demikian, peningkatan PMI tidak otomatis berarti seluruh masyarakat langsung merasakan perbaikan ekonomi. Tantangan berikutnya adalah memastikan peningkatan aktivitas industri benar-benar diikuti oleh bertambahnya produksi, kesempatan kerja, pendapatan, dan permintaan masyarakat.
Hal ini menjadi semakin penting karena pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6 persen pada 2027. Untuk mencapai target tersebut, pemerintah menilai penguatan investasi menjadi salah satu faktor penting. Kementerian Keuangan menyebut investasi perlu tumbuh sekitar 7 persen untuk mendukung target pertumbuhan 6 persen pada 2027.
Di sisi lain, pemerintah juga perlu menjaga daya beli masyarakat. Data BPS menunjukkan inflasi Indonesia pada September 2026 mencapai 3,28 persen secara tahunan, dengan inflasi bulanan sebesar 0,30 persen. Kondisi harga tetap menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan agar peningkatan aktivitas ekonomi tidak hanya terlihat dari sisi produksi, tetapi juga dirasakan oleh rumah tangga.
Karena itu, pemulihan manufaktur sebaiknya tidak hanya dilihat sebagai kenaikan sebuah indeks. Yang lebih penting adalah bagaimana ekspansi industri dapat menciptakan aktivitas ekonomi yang lebih luas, mulai dari pemasok bahan baku, pekerja, pelaku UMKM, sektor transportasi hingga konsumen.
Jika tren ekspansi dapat dipertahankan, sektor manufaktur berpotensi menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia pada akhir 2026 dan tahun berikutnya. Namun, keberhasilan tersebut tetap bergantung pada kemampuan industri meningkatkan produktivitas, memperluas pasar, serta menciptakan manfaat ekonomi yang lebih merata.
