Bedah Buku Jerry D. Gray: Siapa Pemegang Remote Kontrol Gedung Putih?

Mahasiswa aktif Universitas Cendekia Abditama (UCA) - Prodi Pendidikan Agama Islam - Founder of Iqro Akademi
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ubay Barokah Mrp tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam diskursus politik global, sering muncul pertanyaan retoris: Mengapa kebijakan luar negeri Amerika Serikat (AS) cenderung konsisten terutama dalam urusan militer siapa pun Presiden yang terpilih? Dari era Bush, Obama, Trump, hingga Biden, keterlibatan AS dalam konflik Timur Tengah dan hegemoni dolar seolah menjadi rel yang tak terputus.
Melalui karya-karyanya, Jerry D. Gray, seorang mantan teknisi pesawat Angkatan Udara AS yang kini menetap di Indonesia, mencoba menyingkap tabir di balik fenomena ini. Ia memperkenalkan sebuah konsep yang kini mulai ramai dibicarakan di media arus utama: Deep State atau Pemerintah Bayangan.
Mengenal Sosok di Balik Layar: Apa Itu Deep State?
Jerry D. Gray dalam bukunya menekankan bahwa demokrasi di Amerika Serikat hanyalah etalase bagi publik. Di belakang panggung, terdapat entitas permanen yang disebut Deep State. Ini bukan sekadar teori konspirasi tanpa dasar, melainkan analisis terhadap birokrasi yang tidak dipilih melalui pemilu.
Entitas ini terdiri dari elemen-elemen kunci dalam komunitas intelijen (CIA, NSA), petinggi Pentagon (Departemen Pertahanan), hingga para birokrat karier di Departemen Luar Negeri. Gray berpendapat bahwa para aktor inilah yang memegang "remote kontrol" Gedung Putih. Presiden mungkin datang dan pergi setiap empat atau delapan tahun, namun para pemegang agenda ini tetap bertahan selama puluhan tahun di posisinya.
Industri Militer dan Logika Perang Permanen
Salah satu poin paling tajam yang dibedah Gray adalah konsep Military-Industrial Complex (Kompleks Industri Militer). Gray, dengan latar belakang militernya, sangat memahami bagaimana anggaran pertahanan AS bekerja.
Dalam bukunya, ia menjelaskan bahwa kebijakan perang AS seringkali bukan didasari oleh ancaman keamanan nasional yang nyata, melainkan oleh kebutuhan industri senjata untuk terus berproduksi. Perang adalah bisnis besar. Ketika Amerika terlibat dalam konflik, kontraktor pertahanan swasta meraup keuntungan triliunan dolar. Inilah mengapa, menurut Gray, AS sangat sulit untuk benar-benar "pulang" dari zona konflik; karena perdamaian bagi Deep State berarti kerugian finansial.
Hegemoni Dolar dan Kontrol Ekonomi Global
Selain kekuatan militer, Gray menyoroti bagaimana pemerintah bayangan AS menggunakan sistem perbankan global sebagai senjata. Melalui kendali atas sistem Petrodollar, AS mampu mendikte kebijakan ekonomi negara lain.
Buku ini memaparkan bahwa siapa pun pemimpin dunia yang mencoba keluar dari sistem dolar atau menantang dominasi keuangan AS, biasanya akan menghadapi "demokratisasi" paksa atau sanksi ekonomi yang melumpuhkan. Di sinilah letak peran Wall Street sebagai salah satu kaki dari tripod kekuasaan Deep State selain Pentagon dan badan intelijen.
Media Massa sebagai Instrumen "Propaganda"
Bagaimana rakyat Amerika dan dunia tetap percaya bahwa kebijakan tersebut adalah demi kemanusiaan? Gray menunjuk pada konsolidasi media massa. Ia berargumen bahwa sebagian besar outlet media besar di AS dimiliki oleh korporasi yang memiliki kepentingan sama dengan pemerintah bayangan.
Narasi dibangun sedemikian rupa untuk menciptakan ketakutan (seperti isu terorisme atau ancaman negara tertentu) sehingga publik merestui anggaran militer yang membengkak atau intervensi di negara asing. Gray mengajak pembaca untuk tidak menelan mentah-mentah berita yang disajikan, melainkan selalu mencari cui bono siapa yang diuntungkan?
Relevansi Bagi Pembaca Indonesia
Mengapa kita perlu membaca pemikiran Jerry D. Gray? Sebagai negara berdaulat, Indonesia sering kali berada di persimpangan kepentingan kekuatan besar. Dengan memahami cara kerja pemerintah bayangan di balik Gedung Putih, kita menjadi lebih waspada terhadap bantuan luar negeri, perjanjian perdagangan, hingga kerja sama militer yang mungkin memiliki "tali tersembunyi".
Bedah buku ini bukan mengajak kita untuk anti-Amerika, melainkan mengajak kita untuk menjadi pembaca yang melek politik (politically literate). Bahwa dalam panggung politik internasional, seringkali apa yang tampak di permukaan hanyalah sandiwara, sementara skenario aslinya ditulis oleh mereka yang tidak pernah muncul di surat suara.
Buku-buku Jerry D. Gray berfungsi sebagai pengingat pahit bahwa demokrasi seringkali sangat rapuh di hadapan kepentingan modal dan kekuatan militer. Dengan menelusuri siapa pemegang remote kontrol yang sebenarnya, kita diajak untuk lebih kritis dalam melihat dinamika dunia hari ini.
Referensi : Buku American Shadow Goverment(Pemerintah bayangan Amerika) karya Jerry D. Gray,
Penulis : Ubay Barokah Mrp.
