Konten dari Pengguna

Ketika Kantor Jadi Ajang Lomba Capaian, Neurosains Jelaskan Mengapa Iri Timbul

Doc: Pelayanan Paspor Kantor Imigrasi Semarang di Campus Immigration Point (CIP) Universitas Diponegoro, Semarang
zoom-in-whitePerbesar
Doc: Pelayanan Paspor Kantor Imigrasi Semarang di Campus Immigration Point (CIP) Universitas Diponegoro, Semarang

Manusia adalah makhluk sosial yang hidup berdampingan, saling membutuhkan, dan terhubung dengan manusia lainnya. Sejak lahir, manusia bergantung pada orang lain untuk bertahan hidup. Interaksi bukan sekadar kebiasaan, melainkan bagian dari struktur dasar otak manusia. Dalam setiap individu terdapat dorongan alami untuk menjadi bagian dari kelompok yang diakui dan dihargai. Dasar tersebut menjadikan manusia hidup bersosial dan bermasyarakat.

Pada konteks kehidupan profesional terlebih di lingkungan Aparatur Sipil Negara (ASN), dorongan sosial terejawantah menjadi jalinan rumit antara kebersamaan dan kepentingan pribadi. Pegawai ASN berada di persimpangan jalan antara membangun solidaritas keterikatan dengan orang lain dan egosentris untuk lebih baik dari rekan kerja. Di antara dua kutub tersebut, tidak sedikit ASN yang terus menegosiasikan perannya antara mengembangkan jejaring relasi dengan tulus atau ingin diakui secara luas demi memuluskan jalan karir.

Cemburu yang Tumbuh di Antara Sempadan Meja dan Pandangan

Meja kubikel dan sekat memang memisahkan rekan kerja, namun tidak selalu membatasi rasa ingin tahu. Dari celah genting percakapan, mengalir kabar dan juga perasaan iri yang mulai terasa. “Si Fulan kok cepat banget naik jabatan ya, proyeknya juga selalu strategis. Sebenarnya dia dapat jalur dari mana sih? Perasaan kerjanya biasa saja,” ujar lirih seseorang yang mungkin tak sadar bahwa hasad adalah wujud paling halus dari rasa tidak aman. Perasaan iri pun muncul perlahan, awalnya tak selalu dalam bentuk kebencian terbuka. Terkadang iri juga berwujud komentar ringan saat jeda rapat atau obrolan santai di pantry kantor. Bisikan kecil di grup sosial media internal hingga senyum sinis di balik meja seringkali menjadi gejala awal.

Dalam ilmu psikologi, terdapat teori yang disebut dengan Benign and Malicious Envy Theory (2009). Singkatnya, terdapat dua jenis respon yang timbul terhadap diri seseorang atas keberhasilan orang lain. Pertama, respon yang melahirkan motivasi agar bekerja lebih keras. Kedua, respon yang justru melahirkan upaya halus untuk menurunkan nilai orang lain agar diri sendiri tampak lebih baik. Respon kedua inilah yang kita kenal sebagai Julid. Nyatanya, respon julid ini terasa lebih nikmat karena memberi kepuasan instan tanpa perlu usaha besar.

Perasaan iri yang disertai dengan julid tidak datang secara mendadak. Ia tumbuh perlahan tanpa disadari, melalui percakapan-percakapan ringan dan pandangan sekilas. Awalnya sederhana, melihat rekan kerja naik pangkat, menerima promosi, atau memperoleh kesempatan mengikuti program pelatihan kepemimpinan bergengsi. Otak manusia segera mencatat perbedaan itu, membandingkannya dengan keadaan diri sendiri. Lirih tapi pasti, muncul pertanyaan kecil, ”Mengapa kok bukan aku? Mengapa aku tidak seberuntung dia?”. Dari sanalah benih iri mulai tumbuh dan bertunas.

Secara psikologis, rasa iri muncul ketika seseorang merasa kurang dibandingkan orang lain. Dalam konteks lingkungan kerja ASN, kedekatan interaksi justru memperbesar peluang tumbuh perasaan iri. Kedekatan yang tercipta dari rutinitas bekerja setiap hari, melalui ruang kerja, ruang rapat, hingga unggahan aktivitas di media sosial. Semakin sering melihat, semakin kuat realitas perbandingan itu bekerja di alam bawah sadar. Fenomena tersebut dikenal sebagai proximity effect, sebuah konsep yang sukses dijelaskan oleh Leon Festinger, Stanley Schachter, dan Kurt Back (1950). Fenomena yang menjelaskan bahwa pada saat semakin dekat jarak sosial dan fisik, maka semakin mudah perasaan iri tumbuh dan berkembang.

Hidehiko Takahashi, et.al., (2009) dalam studi neurosainsnya telah menemukan hal yang sedikit mengguncang rasionalitas. Pada sebagian orang, saat mengetahui keberhasilan orang lain maka bagian korteks cingulate anterior, yang merupakan pusat rasa sakit fisik pada otak menjadi aktif. Sebaliknya, ketika orang tersebut mendengar kabar bahwa orang lain mengalami kemalangan, maka bagian striatum ventral yang merupakan pusat kenikmatan otak justru aktif.

Penelitian tersebut mengandung arti yang sangat dalam. Terdapat sebagian orang yang pada saat melihat orang lain bahagia, secara biologis terasa menyakitkan. Sebaliknya, pada saat orang tersebut menderita, justru terasa nikmat dan menyenangkan. Akan tetapi, saat seseorang tidak sanggup memperoleh rasa nikmat tersebut, otak kemudian berusaha menyeimbangkan perasaan itu. Salah satunya dengan cara merendahkan pencapaian orang lain.

Melawan Rasa Iri: Antara Empati dan Batas Diri

Ketika perasaan iri mulai meresap ke dalam diri, rasanya begitu menyesakkan dan tidak nyaman, bahkan memicu emosi yang entah berasal dari mana. Terlebih, ketika kesuksesan orang disekitar kita semakin sering terdengar dan kita merasa hanya jalan di tempat. Sebagai ASN, kita harus memegang teguh bahwa persatuan dan kesatuan bangsa menjadi asas yang dikedepankan. Iri dengki hanya menimbulkan perpecahan sehingga harus dihindari. Kita harus menyadari bahwa dalam kehidupan profesional di lingkungan kerja, perbedaan karir dan prestasi adalah bagian wajar dari dinamika sosial yang tak bisa dihindari. Fokus utama seharusnya adalah berorientasi pada memberikan pelayanan prima kepada masyarakat.

Di tengah derap kecemburuan yang kerap kali melelahkan, kita perlu tegas membangun batas diri. Batas yang bukan tampak seperti tembok pemisah, melainkan pagar halus yang menjaga ketenangan batin. Kita bisa memilih untuk menerima keadaan dengan penuh kesadaran, namun bukan berpasrah tanpa usaha. Kita pun juga bisa menjauh dari hiruk pikuk persaingan karir yang melelahkan dengan mengutamakan keikhlasan dalam mengemban peran sebagai aparatur sipil negara. Inilah yang disebut dengan konsep self-regulation, yaitu kesadaran mengelola emosi agar tidak terseret dalam arus yang sama. Konsep tersebut dirumuskan oleh Albert Bandura (1986) dalam rangka menggambarkan seseorang yang mampu mengontrol pikiran, emosi, dan tindakan berdasarkan standar pribadi dan tujuan sosial.

Ada baiknya kita kembali kepada tujuan awal mendaftarkan diri sebagai pegawai negeri sipil. Semuanya adalah tentang pengabdian, mengabdi tanpa pamrih kepada negara, kepada masyarakat yang membutuhkan pelayanan terbaik. Asas akuntabel dan kompeten tetap kita utamakan sehingga kualitas diri kita turut meningkat. Bukan saja sebagai pelayan masyarakat, melainkan juga sebagai seorang insan yang terus tumbuh dan membekali diri dengan nilai-nilai positif. Mungkin tidak sekarang, namun suatu saat akan tiba giliran kita untuk memanen setiap inci perjuangan yang telah kita usahakan sebaik mungkin.