Konten dari Pengguna

Tapak Dara dan Ironi Cara Kita Menilai Alam

Ufi Nailin Maftuhah

Ufi Nailin Maftuhah

Penulis adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi, UIN Walisongo Semarang, yang memiliki ketertarikan pada isu pendidikan dan sains.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ufi Nailin Maftuhah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Tanaman Tapak Dara (Catharanthus roseus). Foto: ignartonosbg/pixabay.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Tanaman Tapak Dara (Catharanthus roseus). Foto: ignartonosbg/pixabay.com

Tapak dara, tanaman berbunga kecil berwarna merah muda atau putih yang tumbuh liar di pekarangan rumah, menyimpan rahasia yang mengubah sejarah kedokteran modern. Dalam dunia sains, ia dikenal sebagai Catharanthus roseus — tumbuhan yang begitu umum dan sederhana hingga hampir tidak ada yang menyangka bahwa di dalam daunnya tersimpan senyawa aktif yang kini digunakan untuk menyelamatkan ribuan nyawa anak-anak penderita kanker darah di seluruh dunia (Mishra & Tiwari, 2011).

Kisah penemuan khasiat tapak dara bermula bukan di laboratorium canggih, melainkan dari tradisi pengobatan herbal rakyat Madagaskar dan Karibia yang secara turun-temurun merebus daun Catharanthus roseus sebagai ramuan alami untuk berbagai penyakit (Noble et al., 1958). Ketika ilmuwan mulai meneliti tumbuhan obat ini pada tahun 1950-an, mereka tidak menemukan bukti khasiat yang dicari — tetapi justru menemukan sesuatu yang jauh lebih mengejutkan dunia medis (Duffin, 1999).

Dari Daun Tapak Dara ke Obat Kanker Dunia

Dari ekstrak daun tapak dara, para ilmuwan berhasil mengisolasi dua senyawa alkaloid penting yang dinamakan vinkristin dan vinblastin. Kedua senyawa bioaktif ini bekerja dengan cara menghambat polimerisasi tubulin sehingga memblokir pembelahan sel kanker dan akhirnya memicu kematian sel (Cragg & Newman, 2005). Penemuan senyawa antikanker alami ini menjadi salah satu tonggak terpenting dalam sejarah farmasi modern dan pengobatan kanker (Isah, 2016).

Dampaknya terhadap pengobatan kanker sungguh revolusioner. Vinkristin kini menjadi komponen utama dalam kemoterapi untuk leukemia limfoblastik akut (ALL), jenis kanker darah yang paling sering menyerang anak-anak (Moudi et al., 2013). Sebelum senyawa dari tanaman tapak dara ini digunakan, angka kelangsungan hidup penderita ALL anak di bawah 10% pada dekade 1960-an. Setelah diintegrasikan ke dalam terapi kombinasi, angka tersebut melonjak hingga di atas 90% (Pui & Evans, 2006; National Cancer Institute, 2024).

Ironi Alam: Obat Kanker yang Tumbuh di Pinggir Jalan

Yang membuat kisah tumbuhan obat tapak dara ini semakin menakjubkan adalah kenyataan bahwa Catharanthus roseus bukanlah tanaman langka dari hutan terpencil — ia tumbuh subur di halaman rumah, di pinggir jalan, bahkan di sela-sela tembok bangunan di seluruh Indonesia. Alam seolah sengaja menaruh obat kanker alami itu di tempat yang paling mudah dijangkau. Ini menjadi pengingat kuat mengapa keanekaragaman hayati dan pelestarian tanaman obat tradisional harus dijaga dengan serius, karena kita tidak tahu berapa banyak tumbuhan lain yang menyimpan khasiat serupa namun terancam punah sebelum sempat diteliti (Newman & Cragg, 2020).

Tapak dara mengajarkan kita pelajaran yang melampaui biologi dan farmasi — ia mengajarkan kita untuk tidak meremehkan hal-hal kecil di sekitar kita. Tumbuhan obat dengan khasiat luar biasa tidak selalu tumbuh di tempat yang jauh dan eksotis. Mulai hari ini, mungkin sudah saatnya kita memandang tapak dara, dan alam pada umumnya, dengan rasa hormat dan keingintahuan yang jauh lebih besar.