Konten dari Pengguna

Uji Coba Budidaya Tembakau di Seling untuk Pemanfaatan Lahan Kering

iqbal sajid

iqbal sajid

mahasiswa KKN UIN SALATIGA

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari iqbal sajid tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mahasiswa KKN UIN Salatiga SY1002 dan Bapak Priyadi selaku pemilik lahan tembakau di Dusun Seling. Foto: Amma Arfiana
zoom-in-whitePerbesar
Mahasiswa KKN UIN Salatiga SY1002 dan Bapak Priyadi selaku pemilik lahan tembakau di Dusun Seling. Foto: Amma Arfiana

Karangjati, 9 Agustus 2026 — Pemanfaatan lahan kering pada musim kemarau menjadi salah satu tantangan bagi masyarakat di wilayah Seling, Karangjati. Melihat kondisi tersebut, Priyadi, selaku Bayan Kerangkeng, melakukan uji coba penanaman tembakau sebagai alternatif pemanfaatan lahan sekaligus upaya untuk mendorong potensi ekonomi masyarakat setempat.

Hal tersebut disampaikan Priyadi dalam wawancara yang dilakukan pada Minggu, 9 Agustus 2026, di wilayah Seling, Karangjati. Menurutnya, penanaman tembakau di wilayah tersebut masih tergolong baru. Bahkan, selama kurang lebih sembilan tahun dirinya menjabat sebagai kepala dusun, ia baru pertama kali melihat sekaligus mencoba menanam tembakau di wilayah tersebut.

“Ini baru uji coba pertama kali saya,” ujar Priyadi saat ditemui di lahan pertanian yang digunakan untuk budidaya tembakau.

Ia menjelaskan bahwa masyarakat di wilayah Seling ini pada umumnya mengandalkan tanaman padi ketika musim hujan. Sementara itu, ketika memasuki musim kemarau, sebagian lahan pertanian tidak dapat dimanfaatkan karena keterbatasan air. Kondisi inilah yang kemudian mendorong dirinya untuk mencoba tanaman tembakau yang dinilai dapat menjadi alternatif pada musim kemarau.

Menurut Priyadi, alasan utama dirinya menanam tembakau adalah untuk mencoba mengangkat potensi wilayah Seling dan memberikan contoh kepada masyarakat. Ia berharap, apabila budidaya tersebut dapat berkembang dengan baik, masyarakat nantinya dapat memanfaatkan lahan yang selama ini tidak produktif pada musim kemarau untuk ditanami tembakau.

“Saya ingin mencoba mengangkat daerah sini untuk memperdayakan tembakau. Agar nantinya masyarakat dari sini bisa memanfaatkan lahannya atau daerahnya untuk ditanami tembakau,” jelasnya.

Dalam praktiknya, budidaya tembakau memiliki tantangan tersendiri, terutama dalam hal pengairan. Priyadi mengungkapkan bahwa tanaman tembakau tidak membutuhkan air dalam jumlah terlalu banyak, tetapi tetap membutuhkan penyiraman secara tepat. Berbeda dengan tanaman seperti jagung yang menurutnya dapat diairi menggunakan sistem tertentu, tanaman tembakau di lahan tersebut harus disiram atau dikocor satu per satu.

Pengalaman pertama dalam menanam tembakau juga tidak sepenuhnya berjalan lancar. Priyadi mengaku sempat mengalami kegagalan ketika melakukan pengairan pada awal masa tanam. Sekitar 20 hari setelah penanaman, lahan sempat diberi air secara berlebihan sehingga sejumlah tanaman mengalami kematian. Dari pengalaman tersebut, ia kemudian mengetahui bahwa tanaman tembakau membutuhkan keseimbangan dalam pemberian air, yakni tidak terlalu banyak tetapi juga tidak dibiarkan kekurangan air.

Meski menghadapi sejumlah kendala, Priyadi menilai kondisi tanah di wilayah Seling cukup potensial untuk budidaya tembakau. Ia mengatakan bahwa tanaman tersebut mampu tumbuh meskipun lahan yang digunakan belum dipersiapkan secara maksimal. Lahan yang digunakan bahkan hanya diolah setelah sebelumnya digunakan untuk tanaman padi.

Menurutnya, apabila lahan dipersiapkan secara lebih matang seperti yang dilakukan di sejumlah daerah lain, hasil budidaya tembakau di Seling berpotensi menjadi lebih baik. Ia juga melihat peluang tersebut dapat dikembangkan apabila masyarakat mulai tertarik untuk mencoba menanam tembakau.

“Kalau dipersiapkan secara matang dari awal mungkin akan lebih bagus,” katanya.

Dari sisi biaya, Priyadi memperkirakan bahwa budidaya tembakau pada lahan seperempat hektare membutuhkan modal sekitar Rp2,5 juta hingga Rp3 juta apabila sebagian besar pekerjaan dilakukan sendiri oleh petani. Namun, biaya dapat menjadi lebih besar apabila seluruh proses pengerjaan melibatkan tenaga orang lain. Dalam pengalaman yang ia lakukan, biaya untuk lahan sekitar seperempat hektare dapat mencapai lebih dari Rp5 juta.

Dalam hal pengairan, Priyadi juga menghadapi keterbatasan sumber air. Air untuk menyiram tanaman berasal dari sungai kecil yang berada di sekitar lahan. Ketika tidak turun hujan, air yang tersedia hanya berasal dari rembesan sungai yang kemudian dikumpulkan dan dialirkan menggunakan selang. Meskipun sumber air terbatas, tanaman tembakau tersebut masih dapat bertahan hingga saat wawancara dilakukan.

Priyadi mengelola sendiri sebagian besar proses budidaya tembakau tersebut. Ia terlibat langsung terutama dalam proses penyiraman, sedangkan pekerjaan lainnya dibantu oleh tenaga orang lain. Lahan yang digunakan untuk penanaman tersebut berada dalam area sekitar satu hektare dan sebagian merupakan lahan sewa.

Uji coba budidaya tembakau ini diharapkan tidak berhenti pada usaha pribadi, tetapi dapat menjadi contoh bagi masyarakat sekitar. Priyadi berharap keberhasilan penanaman tembakau nantinya dapat menarik minat masyarakat Seling dan wilayah Karangjati secara umum untuk memanfaatkan lahan kering pada musim kemarau. Ia juga berharap pengembangan tanaman tembakau dapat memberikan dampak terhadap peningkatan perekonomian masyarakat. Menurutnya, pemanfaatan lahan yang sebelumnya tidak produktif pada musim kemarau dapat menjadi salah satu peluang untuk meningkatkan nilai ekonomi lahan dan pendapatan masyarakat.

Demikian uji coba penanaman tembakau yang dilakukan Priyadi di Seling tidak hanya menjadi percobaan dalam bidang pertanian, tetapi juga menjadi langkah awal dalam melihat potensi alternatif pemanfaatan lahan kering. Keberlanjutan budidaya tersebut serta ketertarikan masyarakat untuk mengembangkan tanaman serupa akan menjadi faktor penting dalam menentukan apakah tembakau dapat menjadi salah satu komoditas alternatif di wilayah Seling dan Karangjati.